nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Presiden Jokowi Minta Ketergantungan terhadap Obat Impor Diakhiri

Agregasi Antara, Jurnalis · Selasa 27 Februari 2018 18:11 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 27 481 1865544 presiden-jokowi-minta-ketergantungan-terhadap-obat-impor-diakhiri-M8a2Z26AKh.jpg (Foto: Antara)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo mengingatkan industri farmasi dalam negeri agar melakukan inovasi produksi obat sendiri sehingga Indonesia tidak terus menerus mengimpor obat.

"Jangan sampai kita impor, impor, impor. Marilah bersama-sama kita berpikir untuk investasi di bidang-bidang bahan-bahan yang kita masih impor," kata Presiden Joko Widodo di kawasan industri Delta Silicon, Cikarang, Jawa Barat, Selasa (27/2/2018).

Presiden Joko Widodo menyampaikan hal itu ketika meresmikan pabrik bahan baku obat dan produk biologi milik PT Kalbio Global Medika (KGM), anak usaha PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) di Cikarang.

"Dan ini yang sering saya sampaikan di mana-mana, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia karena semuanya mendapat pelayanan di bidang kesehatan. Dengan perkembangan sosial dan ekonomi seperti ini, yang namanya bioteknologi menjadi sangat penting," ungkap Presiden.

Pabrik Kabio tersebut diklaim sebagai pabrik padat teknologi yang pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi robotik untuk mencegah kontaminasi dan meningkatkan produktivitas serta kualitas sterilisasi, seperti teknologi "robotic cell contur", "perfusion bioreactor", "automated choromatograpgy system", "aseptic filling isolator", "automated inspection machine", serta "track and trace system".

"Obat-obat bioteknologi yang molekul besar, seperti obat-obat kanker atau onkologi, permintaan juga sangat banyak dan sangat membludak. Sehingga sudah mendesak bagi kita mengerjakan segera investasi-investasi yang membangun kapasitas industri. Ini penting sekali," kata Presiden.

Ia mengaku cukup senang dengan keberadaan pabrik tersebut karena memproduksi obat dengan kategori obat hasil bioteknologi. "Saya juga mendapatkan laporan bahwa peluang di negara kita di kategori obat bioteknologi sangat terbuka lebar. Jadi saya sangat menyambut baik inisiatif Grup Kalbe untuk membangun pabrik bahan baku obat berbasis biokteknologi dan saya ingin mengajak pelaku industri farmasi untuk terjun di sektor ini, berinvestasi secepat-cepatnya," katanya.

Pabrik itu diharapkan dapat juga memenuhi permintaan domestik maupun ekspor. "Apa yang telah dibangun PT KGM pagi ini betul-betul sebuah lompatan tadi saya diajak ke dalam karena semuanya menggunakan bioteknologi, dikerjakan otomatis dengan mesin-mesin otomasi, ada robotnya dan ini sebuah lompatan dan saya kira investasi-investasi seperti ini yang kita butuhkan, inovasi teknologi," kata Presiden.

Ungkapan senada dilontarkan Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek. Dia mengatakan Indonesia harus punya ketahanan obat dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap obat impor.

"Indonesia harus memiliki ketahanan terhadap obat di dalam negeri, untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku diupayakanlah kemandirian bahan baku obat oleh beberapa industri farmasi, dan mendirikan industri serta memproduksi bahan baku obat kimia, herbal maupun biologi," kata Nila.

"Bapak Presiden, selama ini bahan baku obat memang berasal dari bahan kimia yang kita impor umumnya dari India dan Republik Rakyat Cina (RRC). Namun saya juga mendorong agar kiranya kita mempunyai tanaman asli Indonesia, dimana herbal ataupun suplemen dan hal-hal lain juga bisa didorong untuk kita tingkatkan dalam hal ini."

PT Kalbio Global Medika menurut Nila sudah melakukan suatu transformasi yaitu loncatan dari bahan baku kimia menjadi bahan baku biologi dengan tetap melakukan kerja sama dengan RRC dan Korea Selatan.

"Dengan pemberlakukan jaminan kesehatan nasional (JKN) sejak tahun 2014 mengakibatkan bertambahnya jumlah kepersertaannya secara langsung. Saat ini sudah 193,1 juta yang ikut dalam JKN. Tentu secara langsung akan memberikan dampak dalam peningkatan kebutuhan obat yang dipergunakan," ungkap Presiden.

Sehingga menjadi kewajiban pemerintah untuk menjamin ketersediaan seluruh obat yang digunakan dalam JKN tersebut.

(Baca Juga: Gaya Bercinta yang Bikin Pasangan Berkeringat karena Bakar Kalori)

Untuk itu kata Nila diperlukan industri yang kuat selaku produsen penyediaan obat. Hampir seluruh kebutuhan di Indonesia termasuk ketersediaan biologi selain vaksin masih dipenuhi masih impor.

"Ini sudah tentu menjadi hal yang perlu kita siasati bersama agar Indonesia dapat memproduksi sendiri dan mengurangi ketergantungan terhadap negara lain. Dengan memproduksi sendiri kita harapkan biaya akan dapat lebih terjangkau," jelas Nila.

Untuk industri farmasi, menurut Nila, Indonesia sudah mendirikan usaha bersama atau "joint venture" dengan beberapa negara seperti dengan China, Korea Selatan, Jerman, Spanyol dan India untuk beragam jenis obat.

(Baca Juga: Perempuan Cantik Ini Punya Otot Besar di Sekujur Tubuhnya, Berani Ajak Kencan?)

Sedangkan untuk industri alat kesehatan sudah bekerja sama Jepang, Yordania, Jerman, Korea Selatan, Amerika Serikat dan RRC untuk memproduksi jarum suntik, scan jantung, kacamata dan lainnya.

Menurut rencana, pabrik PT KGM tersebut akan memproduksi Erythopoietin (EPO) untuk pengobatan cuci daerah dan kanker yang akan diekspor ke pasa ASEAN dan negara lain.

Produksi lain adalah Granulocyte Colony Stimulating Factor (GCS) sebagai obat untuk meningkatkan produksi granulosit, Efepoieting (Long Acting EPO) yang merupakan molekul baru untuk menstimulasi pembentukan sel darah merah, produksi insulin serta MAb (Monoklonal Antibodi) untuk pengobatan kanker.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini