Kabar Baik, Ekstrak Bunga Bakung Kuning Bantu Lawan Kanker!

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Kamis 01 Maret 2018 19:33 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 01 481 1866678 kabar-baik-ekstrak-bunga-bakung-kuning-bantu-lawan-kanker-Fxp5EzZNsn.jpg Bunga bakung kuning (Foto: Zeenews)

PARA ilmuwan tanpa kenal lelah bekerja untuk menemukan obat untuk kanker. Harapan untuk kemajuan dalam pengobatan penyakit mematikan ini kini melibatkan bunga bakung.

Para ilmuwan telah mengekstrak senyawa anti-kanker alami dari bunga bakung yang dapat membantu memperbaiki perawatan untuk penyakit kanker. Periset yang dipimpin oleh Denis Lafontaine dari Universitas libre de Bruxelles (ULB) di Belgia, menemukan bahwa senyawa ini memicu pengaktifan jalur pengawasan tumoural.

Senyawa ini adalah alkaloid yang diberi nama hematura dan terikat pada ribosom. Ribosom adalah nanomachines yang penting untuk kelangsungan hidup sel, karena mensintesis semua protein.

Untuk mempertahankan pertumbuhan tak terkendali mereka, sel kanker mengandalkan peningkatan sintesis protein. Oleh karena itu, sangat sensitif terhadap perawatan yang menghambat produksi dan fungsi ribosom.

Dikutip dari laman Zeenews, Kamis (1/3/2018), dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Structure, para peneliti telah menunjukkan bahwa hemagamin dari bunga bakung menghambat produksi protein oleh ribosom, sehingga memperlambat pertumbuhan sel kanker. Haemanthamine juga menghambat produksi nanomachines ini di dalam nukleolus (tempat produksi ribosom).

Tekanan nukleolus ini memicu pengaktifan jalur surveilans anti-tumoural yang mengarah pada stabilisasi protein p53 dan penghapusan sel kanker, kata periset. Studi ini juga yang pertama memberikan penjelasan molekuler terhadap aktivitas anti-tumoural dari bunga bakung yang digunakan selama berabad-abad dalam pengobatan tradisional.

Temuan di Indonesia

Di Indonesia juga beberapa waktu lalu melakukan penelitian mengenai obat kanker. Mahasiswa Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) Juhrotul Aeniah melakukan penelitian dengan judul “Aktivitas Antikanker Kelenjar Getah Bening (LIMFOMA) secara In Vitro dari Spirulina platensis (alga hijau biru) yang Dikultivasi dalam Media Organik”. Penelitian ini dibimbing oleh Dr. Iriani Setyaningsih dan Dr. Kustiariyah Tarman.

“Kalau sekarang kan pengobatan penyakit kanker bisanya dilakukan dengan cara operasi, radiasi dan kemoterapi. Pengobatan dengan cara tersebut menimbulkan efek samping, supresi sumsum tulang, gangguan saraf dan kerusakan fertilisasi,” ujar Aeni seperti dilansir dari laman IPB.

Saat ini, sambung Aeni, sejumlah negara maju dan berkembang kembali ke penggunaan obat alam untuk penyembuhan berbagai penyakit. Salah satu bahan alami yang mempunyai potensi sebagai antikanker yaitu Spirulina platensis. Namun, media yang biasa digunakan Spirulina platensis yaitu media Walne dan Zarrouk harganya mahal, karenanya ia membuat penelitian dengan menggunakan media organik yang tersusun dari pupuk urea, Plant Catalyst, dan RI1.

“Spirulina platensis yang ditumbuhkan dalam media organik belum diketahui aktivitasnya sebagai antikanker, itulah sebabnya saya melakukan penelitian ini. Penelitian ini untuk menentukan aktivitas antikanker kelenjar getah bening dari biomassa, ekstrak kasar dan fikosianin dari Spirulina platensis yang dikultivasi dalam media organik,” paparnya.

Keunikan dalam penelitian ini, yaitu karena prinsip dan metodenya yakni mengukur aktivitas hidrogenase mitokondria pada sel-sel hidup yang memiliki kemampuan untuk mengkonversi MTT menjadi formazan.

Berdasarkan hasil penelitiannya, terjadi penghambatan pada sel raji, salah satu sel kanker kelenjar getah bening yang dapat digunakan untuk pengujian kanker kelenjar getah bening. Hal tersebut diduga karena sampel memiliki komponen aktif.

Komponen aktif inilah yang berpotensi sebagai antikanker. Bukan hanya itu, Aeni juga menerangkan adanya pertumbuhan sel normal yang menjadi abnormal akibat mutasi sel limfosit (sel darah putih) pada sistem limfatik yang disebut sebagai kanker kelenjer getah bening.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini