Kisah Pilu Wanita Cantik yang Tak Memiliki Rahim

Annisa Aprilia, Jurnalis · Jum'at 02 Maret 2018 11:20 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 02 481 1866899 kisah-pilu-wanita-cantik-yang-tak-memiliki-rahim-cDbvtpBu0p.jpg Briana Fletcher (Foto: Dailymail)

NASIB malang dialami oleh seorang wanita berusia 23 tahun. Wanita bernama Briana Fletcher terlahir dengan sindrom langka yang bisa membuatnya dipandang sebelah mata oleh kaum pria dan masyarakat.

Bagaimana tidak, wanita yang berasal dari Nova Scotia, Kanada tersebut lahir dengan sindrom MRKH, yang menyebabkan sistem reproduksinya menjadi kurang berkembang. Sindrom MRKH merupakan singkatan dari Mayer Rokitansky Kuster Hauser, kelainan bawaan pada perempuan karena mereka tidak memiliki vagina, rahim, dan leher rahim, tetapi memiliki tuba fallopi dan ovarium. Sindrom MRKH ini sendiri hanya terjadi pada 1 dari 4500 atau 5000 bayi perempuan.

Kembali pada kisah Briana, melansir dari Daily Mail, Jumat (3/2/2018), kelainan yang dialaminya berarti membuat Briana tidak bisa memiliki anak, meskipun ada kemungkinan untuk memiliki keturunan melalui fertilisasi in vitro dan surogasi. Briana juga tidak mengalami menstruasi setiap bulannya, tapi tetapi tetap mengalami tanda-tanda pubertas secara normal.

Dengan keadaan yang sedemikian rupa, maka Briana kerap mendapat tanggapan miring soal kelainan yang dialaminya. Untuk pertama kalinya Briana mengungkap mantannya sempat mengatakan dia bukanlah wanita sejati, meskipun mantannya juga sempat menerima keadaan tersebut.

“Tapi, saya seorang perempuan mengalami menstruasi atau tidak, bukan berarti dia bisa mengatakan pendapat yang kasar,” ucapnya.

Seseorang dengan sindrom MRKH seperti Briana sebagian besar tidak mengalami datang bulan. Awalnya Briana tidak menyadari kelainan yang terjadi padanya, tapi saat merasa sudah memasuki masa pubertas, tapi tidak juga mulai menstruasi, barulah dia memiliki firasat ada yang tidak benar dalam dirinya.

“Itu adalah petunjuk pertama. Namun, dokter awalnya hanya menghubungkan keluhan saya itu dengan berat badan saya yang rendah,” jelasnya.

Meskipun mengalami kelainan pada sistem reproduksinya, Briana mengaku tidak merasa berbeda dengan wanita pada umumnya. Namun, dirinya hanya sedikit merasa aneh ketika ada wanita lain yang bertanya padanya soal tampon atau pembalut di sekolah, tapi dia tidak memilikinya.

“Kemudian, waktu itu saya mendapatkan pemeriksaan ultrasound dan MRI untuk memastikan ada atau tidak adanya rahim dalam tubuh saya saat berusia 16 tahun. Namun, dokter kandungan saya saat itu belum pernah melihat kasus ini sebelumnya, dia bilang dia melakukan banyak riset untuk menemukannya,” ungkap Briana.

Setelah didiagnosis dokter, Briana masih menghabiskan waktu banyak untuk meneliti kelainannya lewat internet. Tapi, dia tidak menemukan apa-apa.

“Saya biasanya menggunakan pelumas dan meluangkan waktu lebih lama untuk membuat hubungan intim lebih menyenangkan. Selain itu, sama seperti dengan wanita tanpa MRKH, alat kelamin saya pun akan mengembang ketika terangsang, jadi akan membuat hubungan intim menjadi lebih mudah,” ungkapnya.

Akan tetapi, walaupun Briana sempat mendapat tanggapan yang tidak menyenangkan dari mantannya, tidak sedikit pula orang yang mengatakan dirinya beruntung karena tidak mengalami menstruasi setiap bulan. Briana merasa agak tersinggung dengan pendapat tersebut, tapi dia mencoba mengingat orang-orang bisa bicara seperti itu karena hanya berdasar pada pengalaman mereka saja.

“Selama ini masyarakat menganggap wanita harus melahirkan anak untuk menjadi ibu. Tapi, saya sadar tidak perlu melahirkan untuk bisa menjadi ibu,” tambahnya.

Briana mungkin memiliki pilihan untuk transplantasi rahim, menggunakan ibu pengganti atau adopsi, tapi ia merasa tidak bisa memiliki anak bukan berarti ia bukan wanita sejati. Satu dari delapan pasangan berhubungan dengan infertilitas. MRKH juga terkait dengan masalah ginjal dan perubahan tulang, dalam kasus yang terjadi pada Briana, ia menderita skoliosis.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini