nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nyeri Berlebihan Saat Haid Bisa Jadi Tanda Endometriosis dan Inilah Bahayanya

Jum'at 02 Maret 2018 13:32 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 02 481 1866969 nyeri-berlebihan-saat-haid-bisa-jadi-tanda-endometriosis-dan-inilah-bahayanya-6aCcMLHSqn.jpg Ilustrasi

JANGAN sepelekan nyeri yang berlebihan saat haid. Banyak yang mengira bahwa nyeri haid merupakan gejala premenstrual syndrome (PMS), padahal bisa saja nyeri berlebihan tersebut menjadi gejala endometriosis.

Endometriosis adalah suatu kumpulan gejala yang salah satunya merupakan nyeri haid dan ketidaksuburan. Hal ini disebabkan jaringan endometrium yang letaknya ektopik atau tidak beraturan, misalnya di ovarium, dinding luar rahim, vagina, usus, dan kandung kemih.

Menurut Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Siloam Hospital Kebon Jeruk dr med Ferdhy Suryadi Suwandinata SpOG-KFER, gejala nyeri haid yang disebabkan endometriosis berbeda dengan nyeri haid saat PMS.

Dia menuturkan, saat PMS biasanya akan terasa nyeri sebelum menstruasi. Begitu darah keluar, nyeri akan hilang. Sementara dalam kondisi endometriosis akan terasa nyeri pada hari pertama haid. Bahkan, jika sudah mencapai stadium lanjut, penderita akan sulit beraktivitas karena nyeri sekali. “Gejala awal endometriosis yang paling umum dan paling sering terasa adalah nyeri yang berlebihan saat menstruasi,” ucap dr Ferdhy.

Meski umumnya tidak tergolong mematikan, penyakit ini dapat menyebabkan gejala yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Beberapa penderita endometriosis juga merasakan sakit saat buang air besar dan kecil atau saat berhubungan seks. “Di samping itu, pengidap endometriosis juga bisa mengalami pendarahan menstruasi yang berlebihan ataupun perdarahan di tinja atau urine,” papar dr Ferdhy.

Dia menjelaskan bahwa kondisi berdarah saat buang air kecil lebih disebabkan endometriosis tumbuh di saluran kencing hingga ginjal. Sementara jika berdarah saat buang air besar disebabkan endometriosis tumbuh di usus dan berdarah saat batuk karena tumbuh di paru-paru. “Bila tidak segera diatasi, dalam jangka panjang akan menyebabkan organ-organ tersebut rusak,” ucap dr Ferdhy.

Dia melanjutkan, jika endometriosis tumbuh di saluran telur, penderita tidak akan bisa hamil karena sperma sulit bertemu sel telur sehingga tidak terjadi pembuahan. “Endometriosis umumnya ditemukan pada wanita dengan usia subur dengan prevalensi 1 dari 10 wanita. Penanganan terhadap penyakit ini bermacam-macam, tergantung pada keluhan yang dialami. Untuk keluhan nyeri saat haid, biasanya dapat diatasi dengan penggunaan obat-obatan penghilang nyeri dan obat-obatan hormonal seperti pil KB.

Sementara itu, untuk keluhan ingin hamil dapat diatasi dengan penanganan fertilitas ataupun kesuburan wanita,” ungkap dr Ferdhy.

Dia menegaskan bahwa hal yang memicu timbulnya endometriosis salah satunya adalah hormon estrogen. Hormon estrogen yang tinggi dapat menyebabkan kondisi yang semakin parah. Hal inilah yang kemudian menyebabkan endometriosis umumnya menyerang wanita usia produktif. “Selain hormon estrogen yang tinggi, ada beberapa faktor risiko yang diduga sebagai pemicu endometriosis, yaitu faktor keturunan, sistem kekebalan tubuh, faktor adaptasi sel sesuai lingkungan organnya, dan faktor paparan lingkungan,” ungkap dr Ferdhy.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini