nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Melihat Kehidupan Penderita Kusta di Singkawang

Ade Putra, Jurnalis · Senin 05 Maret 2018 19:54 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 05 481 1868289 melihat-kehidupan-penderita-kusta-di-singkawang-wzpWuhGgZe.jpg

SEBAGIAN masyarakat menganggap penyakit kusta adalah hal yang menjijikkan. Tak sedikit dari mereka menjauhi penderita kusta. Meski dinyatakan sudah sembuh, penderita kusta tetap terbuang dari lingkungannya.

Sebagai contoh, Marrie Bernad alias Bong Suni. Warga Kota Singkawang, Kalimantan Barat ini dulunya menderita kusta. Meski dia sudah sembuh, namun perempuan yang saat ini berumur 92 tahun tersebut terpaksa jauh dari kampung halamannya. Karena dia tidak diterima di kampungnya, akibat image buruk oleh masyarakat mengenai kusta.

Beruntung ada Rumah Sakit Kusta Alverno Singkawang yang didirikan untuk menampung penderita atau orang yang pernah mengidap kusta. "Saya sudah 65 tahun di sini. Saya tidak pernah lagi dijenguk keluarga," cerita Marrie Bernad, belum lama ini.

Bagi Marrie Bernard, tinggal di RS Kusta Alverno Singkawang jauh lebih menyenangkan. Karena rumah sakit khusus kusta itu sudah menjadi rumah baginya.

Selain Marrie Bernad, ada juga warga lainnya yang merasa nestapa dikucilkan ketika menyandang sebagai penderita kusta. Dialah Satiman. "Stigma masyarakat terhadap penderita kusta memang sangat kita rasakan. Kita sulit untuk diterima kalau memang sudah terkena kusta," kata lelaki berusia 65 tahun itu.

(Baca Juga: 4 Mitos Tentang Kusta yang Tidak Boleh Anda Percaya)

Ayah enam anak dan enam cucu ini menceritakan, dulunya dia pernah bekerja sebagai sopir, namun cobaan datang pada medio 1980. Ia divonis terkena penyakit kusta yang akhirnya membuat dia harus dirawat di RS Kusta Alverno Singkawang.

"Saya terus berjuang untuk sembuh. Dan akhirnya kesembuhan itu bisa saya raih. Meskipun saya cacat. Namun setelah melalui bedah rekonstruksi, maka itu semua bisa diatasi," kisahnya.

Direktur RS Kusta Alverno Singkawang, dr Barita Ompusunggu mengatakan, memang banyak penderita kusta yang dirawat dan akhirnya sembuh. Penderita kusta di sana berasal dari berbagai daerah di dalam maupun luar Kalimantan Barat.

"Di sini, selain dari Singkawang, ada juga dari Kabupaten Sambas, Melawi, Kota Pontianak dan daerah lainnya," jelas Barita.

Catatan rumah sakit, kata Barita, ada 79 orang yang sudah sembuh setelah diobati dan dirawat di RS Kusta Alverno Singkawang. Namun saat ini masih ada 17 penderita kusta yang masih harus minum obat kusta serta mendapat perawatan intensif.

"Mereka semuanya terbuang dan disisihkan dari masyarakat. Ada juga yang sudah sembuh akhirnya ditampung di rumah sakit ini karena masyarakat dan keluarga tetap menolaknya," terang Barita.

Ia menegaskan, orang yang menderita kusta tidak serta merta bisa menularkan penyakit itu secara langsung kepada lingkungan. "Ini yang mesti dipahami masyarakat. Ketika bertemu orang yang menderita kusta bukan berarti langsung tertular, meskipun penyebabnya bakteri yang mirip bakteri penyakit TBC. Medium penyebarannya pun bukan melalui udara," tegasnya.

Lanjut dia menjelaskan, untuk kebutuhan obat-obatan para penderita kusta, saat ini semuanya ditanggung pemerintah. Sedangkan untuk makan dan minum pasien atau pun bagi mereka yang sudah sembuh, saat ini ditanggung pihak RS Kusta Alverno Singkawang dan para donatur.

(Baca Juga: Kusta Tidak Mudah Menular)

Kepedihan ini memanggil untuk para dermawan mengulurkan tangannya. Salah satunya yang dilakukan Perkumpulan Sosial Hua Ind (Persis Hua Ind) yang bekerjasama dengan tim medis RSUD dr Sutomo Surabaya. Tim gabungan ini melakukan bhakti sosial rekonstruksi medis leprosy kepada penderita kusta di RS Kusta Alverno Singkawang, Jumat (2/3/2018) lalu.

"Setelah melakukan kunjungan ke RS Kusta Alverno Singkawang, kami berniat meringankan beban bagi mereka yang kurang mampu yang dirawat di rumah sakit ini," kata Ketua Persis Hua Ind, Merry Tanhart.

Lanjut Merry mengatakan, Persis Hua Ind tetap melakukan upaya sosial dan kemanusiaan dengan membantu para penderita kusta atau yang sudah sembuh namun mengalami kecacatan.

“Kita berusaha agar penderita kusta yang mengalami cacat bisa sembuh atau beraktivitas kembali dengan melakukan rekonstruksi ulang tertentu terhadap tubuh yang mengalami cacat,” katanya.

Dukungan ini dilakukan, kata Merry Tanhart, karena penderita kusta harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan juga memerlukan kasih sayang baik keluarga dan lingkungannya.

"Jadi, rekonstruksi ini dimaksudkan untuk mengembalikan fungsi organ tubuh yang cacat akibat penyakit kusta secara optimal agar meningkatkan rasa percaya diri dan mampu untuk kembali beraktifitas dengan lebih baik sehingga diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup mereka,” katanya.

Dia menjelaskan, sekitar 20 orang akan diberikan bantuan bedah rekonstruksi tanpa dipungut biaya. “Tim medis RSUD dr Sutomo memberikan tenaga dan keahliannya secara cuma-cuma sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial kami," ucapnya.

(Baca Juga: 5 Aktris Wanita Kenakan Gaun Nyaris Bugil di Academy Awards dari Tahun ke Tahun)

Tim dokter RSUD dr Sutomo Surabaya, dr Iwan Kristian, Sp BKD berharap, penderita kusta yang mengalami cacat jangan berkecil hati. Karena saat ini sudah ada teknologi operasi yaitu rekonstruksi ulang terhadap tubuh tertentu penderita kusta. “Seperti rekonstruksi ulang yang kami lakukan terhadap tangan. Karena fungsi tangan untuk bekerja, serta menyambung syaraf yang putus dan mengumpulkannya,” terangnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini