Kompak dan Saling Dukung Jadi Resep Kekeluargaan Stand Up Comedy Jakarta Timur

Annisa Aprilia, Jurnalis · Rabu 07 Maret 2018 11:24 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 07 196 1869021 kompak-dan-saling-dukung-jadi-resep-kekeluargaan-stand-up-comedy-jakarta-timur-rdUMi6Cr52.jpg Fikri, Ridwan dan Dedeka dari komunitas Stand Up Comedy Jakarta Timur (Foto: April/Okezone)

JIKA Anda amati beberapa tahun belakangan ini muncul beberapa program acara yang menampilkan penampilan seseorang yang berdiri sendirian melucu di atas panggung. Kegiatan melucu itu disebut stand up comedy, yang akhirnya merangsang pemuda-pemuda Indonesia untuk mendirikan komunitas stand up comedy di tiap daerah.

Salah satunya ialah Komunitas Stand Up Comedy Jakarta Timur, yang berkesempatan untuk Okezone wawancarai, pada Senin, 5 Maret 2018, di lantai 12 Gedung iNews, Jakarta. Pada kesempatan ngobrol bersama tiga dari 50 anggota komunitas tersebut, Fikri, Ridwan, dan Dedeka lah yang menceritakan banyak hal seputar komunitas dan kekeluargaan yang terjalin di antara anggota komunitas stan up comedy.

Awal Berdiri

“ Berdirinya Stand Up Comedy Jakarta Timur berawal dari dua orang pemuda yang kita panggil Kang Arman dan Bang Abay, yang sering bertemu kemudian berpikir untuk membuat sebuah perkumpulan pemuda yang bisa jadi wadah untuk stand up dan belajar bersama, daripada cuma sekadar kumpul malem-malem,” tutur Ridwan.

Ridwan pun menuturkan, sayangnya kedua pendiri Stand Up Comedy Jakarta Timur itu justru kini sudah meninggalkan komunitas, karena kesibukannya yang lain. Akhirnya, komunitas yang sudah berdiri sejak 2012 itu sekarang baru memiliki anggota sekira 50 orang, sementara anggota yang aktif dalam komunitas sekira 20 orang. Semua anggota Komunitas Stand Up Comedy Jakarta Timur, berasal dari Jakarta Timur dan daerah sekitarnya seperti Jatiwaringin.

“Kita rutin kumpul setiap Jumat malam Sabtu untuk latihan di salah satu tempat di Rawamangun. Setiap kumpul biasanya anggota akan melakukan beberapa kegiatan yang terbagi 3 sesi, pertama open mic, sharing-sharing materi, belajar bareng cara nyari jokes, teknik stand up bersama para senior, seperti Rahmat Ababil dan Arif, dari dua orang itu kita belajar bareng, tapi semakin lama kita-kita juga bisa ngajarin,” tambah Ridwan.

Saling belajar dan mendukung

Sementara, bagi Fikri yang juga salah satu anggota Komunitas Stand Up Jakarta Timur, untuk menjadi seorang komika yang mahir melucu dan membuat orang tertawa tidak ada batasan waktu belajar. Menurutnya, ada orang yang sudah bertahun-tahun belajar tapi belum juga bisa membuat penonton tertawa, namun ada juga yang baru belajar satu tahun sudah bisa konsisten membuat penonton tertawa dan membuat suasana menjadi ‘pecah’.

“Untuk bisa mengajarkan atau berbagi ilmu dengan yang lainnya tidak ada patokan waktu, tapi sebagian komika sudah bisa berbagi ilmu jika sudah belajar setidaknya setahun lebih kayak orang-orang ini,” ucap Fikri sambil menunjuk ke arah Ridwan dan Dedeka.

“Yang bisa dibilang lucu tuh kalo kita bisa pecah di open mic sendiri. Misalnya di Jaktim nih ada open mic, kita pecah di Jaktim udah dibilang lucu tuh. Tapi, pecahnya itu juga harus konsisten, jadi jangan cuma sesekali saja,” tambah Ridwan.

Nah, bagi anggota komunitas yang termasuk dalam komik yang sulit melucu atau membuat penonton tertawa biasanya akan terus didukung dan diberi saran agar meningkat kemampuannya. Fikri mengatakan, agar tiap anggota bisa selalu kompak, mereka biasanya saling mendukung, saling memberikan perhatian, dan peduli, termasuk saling mengingatkan jika ada yang melakukan kesalahan.

Saling menghargai dan memahami

“Sementara untuk percekcokan memang menjadi sebuah hal yang wajar ada dalam sebuah komunitas, Stand Up Jaktim menyelesaikannya dengan cara saling percaya dan kompak. Kalau ada salah paham, biasanya kumpul dicari jalan keluarnya dengan cara saling mendengarkan dan menjelaskan secara musyawarah,” jelas Fikri.

Kekeluargaan antar komunitas pun Fikri, Ridwan, dan Dedeka sepakat, jalinan hubungan mereka sangat kuat. Bahkan, mereka mengaku komunitas sudah terasa seperti keluarga kedua. Meskipun tidak terlalu mengenal pribadi masing-masing, tapi rasa kekeluargaan sangat terasa dan saling membantu jadi kewajiban yang harus lakukan.

“Bagi anak-anak stand up komunitas terasa seperti keluarga kedua. Bahkan, jika kita berkunjung ke suatu kota misal Palembang, maka anak stand up Palembang akan menampung kita hingga menyiapkan makan,” ungkap Ridwan.

“Intinya, menurut saya persahabatan itu hilangnya rasa baper dan saling mendukung dalam belajar stand up, hingga anggota komunitas semakin meningkat kemampuan melucunya,” tangkas Dedeka.

Bagi Anda yang ingin menyaksikan sendiri kegiatan Komunitas Stand Up Comedy Jakarta Timur dan terhibur penampilan para komikanya bisa mengikuti kegiatan mereka lewat akun instagramnya di @standupjaktim_ atau masing-masing akun instagram para komika, yaitu @fikrielmahfaz, @ridwanboediman, dan @dedekakurniawan. Ikuti juga kompetisi stand up comedy yang diadakan Okezone dalam rangka memperingati hari jadi ke 11 tahun, informasi selengkapnya bisa Anda cari tahu di rubik.okezone.com

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini