Masyarakat Pedesaan Berisiko Tinggi Alami Penyakit Tidak Menular, Ini Alasannya!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 07 Maret 2018 18:01 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 07 481 1869158 masyarakat-pedesaan-berisiko-tinggi-alami-penyakit-tidak-menular-ini-alasannya-ri46ZE2Wy6.jpg Ilustrasi penyakit jantung (Foto: Theindependent)

MENGETAHUI fakta bahwa pelayanan kesehatan di Indonesia belum merata menjadi kesedihan bagi banyak orang. Padahal, jelas dalam undang-undang dijelaskan bahwa kesehatan adalah hal yang mesti dipenuhi negara bagi semua warganya.

Kesulitan pelayanan kesehatan ini yang kemudian memicu masalah baru. Salah satunya adalah tidak terjangkaunya masyarakat pelosok akan edukasi dan pelayanan kesehatan itu sendiri. Alhasil, Anda akan menemukan fakta bahwa masih banyak orang yang sakit tapi sulit mendapat pengobatan.

Bahkan, bedasar data dari Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI, angka penderita penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia didominasi masyarakat pedesaan dengan angka persentasi 60%. Sedangkan, mereka yang tinggal di perkotaan, penderita PTM sendiri di angka 30%.

Dijelaskan Direktorat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI dr. Zamhir Setiawan, MEpid, ada beberapa hal yang membuat kenapa angka persentasi ini muncul. Secara sederhana ada 3 alasan pokok.

"Yang pertama adalah keterjangkauan pelayanan kesehatan yang sulit di mana akses menuju tempat pengobatan tidak dekat yang mana ini tentunya menggangu keberlangsungan hidup masyarakat pelosok," ungkapnya saat diwawancarai di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (7/3/2018).

Dr. Zamhir melanjutkan, faktor lainnya adalah masalah sosial ekonomi. Tidak bisa dipungkiri, kurangnya ekonomi akan memengaruhi akses kesahatan. Hal ini yang kemudian menjadi penentu keputusan apakah seorang yang sakit bisa mendapat pengobatan yang mumpuni atau tidak.

Dan hal lain yang menjadi faktor penentu angka persentasi ini adalah pengetahuan. Dr. Zamhir menyatakan bahwa kita semua tidak bisa menutup mata bahwa masyarakat pedesaan masih banyak yang buta akan pengetahuan.

Masalah ini yang kemudian memicu kurangnya pemahaman untuk hidup sehat atau juga mengenai masalah kesehatan yang sebetulnya kondisi itu membahayakan nyawa seseorang.

"Kami menyadari bahwa tingkat pengetahuan di masyarakat pedesaan relatif lebih rendah daripada masyarakat perkotaan. Ini tentunya memengaruhi bagaimana seseorang menentukan sikap ketika masalah kesehatan khususnya muncul dan dia harus menghadapinya," tambah dr. Zamhir.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini