Tinggal di Apartemen Jangan Sampai Anti-Sosial, Ini Saran Psikolog

Vessy Frizona, Jurnalis · Kamis 08 Maret 2018 23:16 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 08 196 1869848 tinggal-di-apartemen-jangan-sampai-anti-sosial-ini-saran-psikolog-UK03Kr0w9W.jpg Ilustrasi (Foto: Popsugar)

PENGHUNI apartemen selalu dianggap hidup individualistis. Tidak adanya sosialisasi dengan penghuni apartemen lain memungkinkan terjadi lingkungan yang tidak saling mengenal.

Menurut psikolog Nirmanisa Ruskin, peran pengelola apartemen menjadi penting akibat perubahan gaya hidup yang terjadi sebagai konsekuensi tinggal di vertical house (apartemen) di mana sisi-sisi kekeluargaan dan kehidupan bertetangga hampir tidak dapat lagi dirasakan.

“Penghuni apartemen umumnya sangat menekankan pada prinsip individualisme yang tinggi dan area privasi. Padahal manusia merupakan makhluk sosial, butuh untuk bersosialisasi dan berinteraksi. Hal yang mudah dilakukan ketika tinggal di area perumahan yang bersifat landed house namun akan sulit dilakukan di apartemen,” tutur psikolog jebolan Universitas Gadjah Mada dalam rilis yang diterima Okezone.

 (Baca Juga: Tidak Lagi Formal, Tren Furniture Kantor Kini Lebih Santai dan Eye Catching)

Situasi ini, lanjutnya, tentu saja akan berpotensi untuk timbulnya permasalahan sosial bila tidak dikelola dengan baik. Karena harus disadari menjadi penghuni apartemen akan sangat menuntut kematangan pribadi untuk dapat saling menjaga area privasi dari penghuni lain.

Selain itu, setiap penghuni apartemen dituntut dapat mandiri dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang ada, khususnya permasalahan personal terutama sindrom perasaan sepi (empty) karena tidak satu orang pun dapat ditemui atau diajak berkomunikasi di huniannya saat sedang menghadapi masalah.

“Oleh sebab itu, peran dari pengelola menjadi sangat penting untuk penyedia sarana untuk penghuni tetap dapat berinteraksi dan melakukan kegiatan sosial. Pengelola harus menyediakan ruang bagi penghuni untuk dapat berkumpul baik di ruang terbuka maupun menginisiasi kegiatan bersama,” tuturnya.

Peran pengelola apartemen sangat penting untuk menyediakan sarana untuk penghuni agar tetap dapat berinteraksi dan melakukan kegiatan sosial sekaligus menjalankan fungsi kontrol dan mendeteksi situasi apartemen yang berpotensi menimbulkan masalah.

Senada dengan Nirmanisa, Marketing Director Green Pramuka City Jeffry Yamin menuturkan penyediaan ruang-ruang bersosialisasi bagi penghuni hanya dapat diakomodasi oleh apartemen yang sejak awal didesain dengan konsep one stop living.

  (Baca Juga: Hari Perempuan Internasional, Presiden Jokowi: Saatnya Perempuan Makin Aktif Berkarya)

“Dengan konsep one stop living, apartemen dirancang mendukung fungsi penghuninya supaya tidak hanya tinggal dan menikmati hidup namun dapat bersosialisasi bersama komunitasnya,” ujarnya.

Pengelola dapat merancang ruang sosialisasi antar warga melalui pendekatan kuliner di mana dilakukan integrasi sajian kuliner di lingkungan apartemen. Jeffry Yamin menilai adanya kuliner jalanan membuat penghuni apartemen menjadi lebih rileks dan dapat bersosialisasi dengan komunitasnya.

“Syukur dengan acara area olahraga maupun jajan santai para penghuni dapat bertemu dengan sesama penghuni yang selama ini mungkin sulit dilakukan,” tukasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini