nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Senang Membicarakan Diri Sendiri Ternyata Berkaitan dengan Masalah Psikologis

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 09 Maret 2018 10:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 09 196 1870099 senang-membicarakan-diri-sendiri-ternyata-berkaitan-dengan-masalah-psikologis-oLjYg1YNp3.jpg Bicara mengenai tentang diri sendiri (Foto: Healtgoesup)

BERKUMPUL bersama teman adalah kegiatan yang menyenangkan. Di waktu itu biasanya ada suatu topik yang menjadi bahan perbincangan. Akan tetapi, ada juga kelompok yang memilih saling bertukar cerita. 

Pada saat masing-masing orang bercerita, mungkin ada yang memilih untuk membicarakan dirinya sendiri. Hal itu wajar terjadi, namun bila berlangsung terus menerus ada sesuatu yang patut diwaspadai. Selama ini sering menceritakan diri sendiri dikaitkan dengan tingkat kenarsisan yang tinggi atau kesombongan. Namun, ternyata masalahnya tak sampai di situ saja.

Sebuah penelitian baru mengungkapkan jika seseorang terlalu sering membicarakan dirinya sendiri maka ia memiliki masalah psikologis seperti depresi dan kecemasan. Peneliti dari University of Arizona mengungkapkan, jika kebiasaan tersebut dapat mengindikasikan tekanan emosional. Para peneliti menjelaskan rata-rata setiap orang menggunakan 16.000 kata setiap hari dimana 1.400 kata diantaranya menggunakan kata ganti orang pertama yaitu "Saya" dan "Aku".

Pada orang yang senang membicarakan dirinya sendiri tanpa terkendali, ia menggunakan kata ganti tersebut hingga 2.000 kata sehari. Dalam penelitian yang diterbitkan pada Journal of Personality and Social Psychology, dijelaskan bahwa ada hubungan yang kuat antara membicarakan diri sendiri dengan emosionalitas negatif. Orang tersebut bisa jadi mudah marah, mengalami ketegangan, kemarahan, depresi, atau kecemasan.

Membicarakan diri sendiri lebih sering terjadi pada orang-orang yang terobsesi dan terpengaruh oleh pengalaman hidup negatifnya. Saat mereka fokus terhadap pengalaman tersebut, mereka terjebak dalam situasi yang mempertanyakan kenapa dirinya tidak bisa lebih baik. Fokus itulah yang memengaruhi efektivitas negatif.

Walau begitu, bukan berarti setiap orang yang senang membicarakan dirinya mengalami depresi. "Mungkin lebih baik menilai hal tersebut bukan hanya rawan untuk depresi tapi juga untuk emosionalitas negatif secara lebih luas. Bisa juga ada korelasi terkait konteks dimana mereka berbicara," ungkap salah seorang peneliti, Allison Tackman seperti yang dikutip dari Independent, Jumat (9/3/2018).

Allison menjelaskan jika seseorang sedang berbicara dalam konteks pribadi seperti menceritakan masalah pribadi, maka ada kaitannya dengan emosi negatif. Namun bila seseorang membicarakan dirinya sendiri untuk menggambarkan suatu peristiwa dalam konteks impersonal, maka tidak ada kaitannya dengan hal tersebut.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini