nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menggapai Masa Depan dari Tumpukan Sampah, Anak Pemulung Aceh di Tangan Maulidar Yusuf

Khalis Surry, Jurnalis · Minggu 11 Maret 2018 09:23 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 11 196 1870959 menggapai-masa-depan-dari-tumpukan-sampah-anak-pemulung-aceh-di-tangan-maulidar-yusuf-cRlbQgBE27.jpg Anak pemulung Aceh di tangan guru Maulidar Yusuf (Foto:Khalis)


HARI menjelang senja. Bau sampah membekap indera pencium. Sekelompok bocah masih asyik belajar, dibimbing seorang pengajar wanita berusia muda yang terlihat menciptakan suasana belajar menjadi santai dan bermakna. Raut ceria terpancar pada wajah anak-anak pemulung dari lintas umur itu. Laki-laki dan perempuan tak ada beda, mereka bercampur dalam belajar demi memupuk asa untuk meraih masa depan.

Maulidar Yusuf (27), nama pahlawan perempuan bagi anak-anak pemulung itu. Maulidar warga Lampulo, Kota Banda Aceh itu membuka kelas belajar bertujuan untuk membantu anak-anak pemulung dalam meraih cita-cita yang tertanam pada diri bocah-bocah malang tersebut. Dirinya menamakan kelas belajar dengan sebutan, Taman Edukasi Anak Pemulung, terletak di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Desa Kampung Jawa, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh.

Taman belajar itu sudah dibentuk Maulidar sejak dirinya masih kuliah. Bersama sang suami Aiyub Bustamam (30), saat itu ketika belum menikah tergabung dalam sebuah organisasi yang sama. Mereka merencanakan program dalam bidang sosial, yakni ingin membantu anak-anak pemulung yang ada di pinggiran ibukota Provinsi Aceh. Sebelum memulai kelas, terlebih dahulu Maulidar dan suaminya melakukan survei lokasi yang digunakan untuk menjalankan kegiatan belajar.

''Motivasinya peduli. Itu motivasi besar saya. Dengan melihat mereka yang merupakan calon generasi penerus mereka harus lebih baik dengan kondisi mereka saat ini,'' kata Maulidar saat dijumpai, Jumat 9 Maret 2018 sore.

 

Taman belajar itu sudah berdiri sejak 2012. Hingga berumur tujuh tahun taman belajar itu telah banyak menampung anak-anak pemulung dalam belajar. Dari anak-anak itu masih kecil hingga mereka tumbuh besar. Mulai anak yang duduk di bangku sekolah dasar hingga yang telah mencapai mengengah pertama.

Menekuni kegiatan itu, Maulidar tak sendiri. Selain didampingi suaminya, ia juga memiliki rekan relawan yang ikut membantu dalam menyukseskan taman belajar tersebut. Maulidar dan para relawan mempunyai harapan yang sama supaya anak-anak pemulung di Aceh itu bisa menatap masa depan yang lebih baik.

BACA JUGA:

Perempuan Bali Kuno Tidak Kenakan Bra sebagai Bukti Kejujuran, Penasaran Sejarahnya?

''Biar ada perubahan juga dengan kondisi keluarga mereka yang serba keterbatasan kita ingin membantu anak-anak ini dalam hal pendidikan mereka. Anak-anak ini ada yang sekolah ada juga yang tidak sekolah,'' ujarnya.

Dikatakan Maulidar, jadawal kegiatan taman edukasi anak pemulung itu berlangsung mulai setelah salat ashar hingga menjelang magrib. Untuk jadwalnya, Maulidar mengajar mulai Rabu hingga Minggu, sedangkan untuk Senin dan Selasa, kelas belajar diisi para relawan.

Bertahannya taman belajar itu hingga berusia tujuh tahun, katanya, tak lepas dari andil para relawan. Telah banyak relawan yang berasal dari latar belakang berbeda hadir di tengah anak-anak pemulung itu untuk mengajar dan bahkan memberi bantuan. Untuk bahan yang diajarkan, katanya, mulai dari ilmu agama, membaca, menulis, bahasa inggris, matermatika, ilmu pengetahuan alam, kesenian, dan ilmu lainnya yang patut untuk diajarkan.

''Banyak relawan yang hadir, komunitas juga hadir, misalnya organisasi mahasiswa mereka datang mengajar. Ada juga kelompok-kelompok yang datang kadang-kadnag mereka membagi mukena, alat tulis, buku tulis dan sebagainya,'' perempuan Aceh yang bekerja sebagai Humas Balai Diklat Pelayaran Kementerian Perhubungan itu.

Sehari-hari, kata Maulidar, anak-anak tersebut juga ikut membantu orang tuanya dalam memulung. Ada anak-anak yang bersekolah pada pagi hari, ada juga yang tidak sekolah. Namun tidak sedikit pula anak-anak yang pernah diajarkan Maulidar sekolah tapi tidak melanjutkan sekolahnya lagi, karena faktor ekonomi keluarga yang tidak mendukung.

''Tujuh tahun mereka bersama kita, sekarang ada yang tidak sekolah lagi terputus sampai SMP, penyebabnya tentu faktor ekonomi keluarga. Anak yang kami ajarkan ada yang sudah besar, dan ini anak-anak generasi baru yang kami ajarkan,'' jelas alumni Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh ini.

Saat beraktivitas dengan anak pemulung itu, Maulidar memiliki pengalaman yang menarik. Namun, menurutnya, semua pengalaman yang dilaluinya bersama anak-anak pemulung sesuatu yang menarik, tetapi yang paling berkesan, katanya, ketika ketika anak-anak itu menjadi juara di sekolahnya, kemudian ketika anak-anak itu memiliki motivasi besar.

''Ketika mereka memilih duduk belajar di sini ketimbang main sore, padahal ini kan jam sore waktu ketika mereka untuk bermain. Tapi mereka ikut belajar di sini, itu yang membuat saya bahagia,'' cetusnya.

 

Kini, taman edukasi anak pemulung itu memiliki siswa sebanyak 80 orang. Namun setiap harinya yang hadir mengikuti kelas hanya 40 hingga 50 orang. Saban hari proses belajar mengajar pada taman edukasi itu berlangsung asyik, kata Maulidar, anak-anak sangat bersemangat ketika saat belajar dan mereka juga aktif dan tidak takut untuk bertanya ketika mereka tidak mengetahui serta ingin tahu sesuatu.

 BACA JUGA:

Alasan Nudis atau Naturis Dilakukan Banyak Orang

Di samping itu, kata Maulidar, orang tua anak-anak tersebut sangat mendukung dengan kelas edukasi seperti itu. Bahkan semua orang di lingkungan tempat pembuangan akhir itu sangat mendukung agar kelas belajar itu tetap terus dilaksanakan.

Bentuk dukungan itu terlihta seperti yang disampaikan salah orang tua anak pemulung itu, Laila Wati (37), yang merasa sangat membantu dengan adanya kegiatan belajar mengajar untuk anak-anak mereka. Kegiatan itu, katanya, diharapkan dalam berjalan lebih lama lagi. Anak-anak di kawasan tersebut ada yang bersekolah, ada juga yang tidak bersekolah. Pemanfaatan waktu sore untuk belajar, kata Laila, hal sangat baik. Ada empat anaknya yang mengikuti taman edukasi itu, mulai anaknya paling kecil, Kiran (9), si kembar Nisahul dan Rahul (9), dan yang paling tua Ayu (13).

''Saya sangat mendukung kegiatan ini, dulu belajar di sana dekat tanggul, dekat lagi dengan tempat pembuangan sampah, sekarang baru pindah ke sini. Kami harapkan kegiatan belajar ini tetap berlangsung dengan baik karena ini sangat membantu anak-anak kami dalam bidang pendidikan,'' kata Laila.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini