nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fasilitas Ibadah Makin Diperhatikan demi Tingkatkan Wisata Halal

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 11 Maret 2018 19:15 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 11 406 1871037 fasilitas-ibadah-makin-diperhatikan-demi-tingkatkan-wisata-halal-kQiWy972MC.jpg Fasilitas ibadah untuk tingkatkan wisata halal (Foto:Smartmeeting)

HOBI perempuan berdarah Minang ini memang travelling. Bukan pergi dengan rombongan, tetapi seorang diri secara backpacker.

Eka Herlina,28, senang mengunjungi tempat baru, negara selain Indonesia, untuk lebih mengenal kebudayaan orang. Berpindah dari satu negara ke negara lain tidak lantas melupakan kewajibannya sebagai seorang muslimah yang tentu punya aturan dasar sebagai seorang muslim. Baginya negara yang ramah terhadap wisatawan muslim ialah Thailand. Sebab dengan mudahnya dia mencari makanan halal.

BACA JUGA:

Trik Jitu Kemenpar Sedot Lebih Banyak Turis Asing Liburan ke Indonesia

"Terutama bagian selatan, mudah banget nemui makanan halal dan tentunya masjid. Di Bangkok sendiri, meskipun katanya susah cari makanan halal, so far di bagian tertentu ada kawasan halal, dekat masjid. Di mal bangkok juga ada. Pokoknya mau jajan di snack-nya pun beberapa ada tulisan halalnya. Jadi menarik aja nemu susu kemasan berbagai rasa, tapi ada tulisan halalnya," tutur Eka senang.

Dia menambahkan, sewaktu dalam perjalanan dari Krabi ke Bangkok menggunakan bus yang terdapat makan gratis di rest area, Eka pun mengikuti orang-orang yang sama dengan bus yang dia tumpangi untuk duduk di area bangku mereka. "Alhamdulillah karena pakai jilbab, petugas di rest area langsung menghampiri dan bilang muslim over there! Ternyata saya harus ke area khusus muslim. Area yang dikelola sama ibu-ibu berjilbab untuk melayani kami para penumpang yang ingin makan," ungkapnya.

Eka juga pernah berwisata ke Korea Selatan, tetapi sayang dia terkendala saat akan beribadah. Di Bandara Incheon ada musala tetapi di dalam gate sehingga harus check in dulu. Sementara Eka belum bisa check in karena penerbangannya baru esok hari. "Minta izin untuk salat di ruangan nursery sama petugas yang lewat, karena mungkin keterbatasan bahasa, mereka nggak paham. Cuma menjelaskan ruangan itu untuk ibu yang bawa bayi. Akhirnya saya memutuskan salat di depan ruangan nursery room, bukan di dalamnya. Dilihatin banyak orang deh," ucapnya. Namun kesan lainnya di Seoul bagi Eka terasa sekali keramahan untuk orang muslim. Beberapa kali dirinya dibantu warga lokal.

Lain lagi dengan Lisvi Fadillah,26, yang baru saja mengunjungi Taiwan. Antusiasme pelaku industri travelling Taiwan membuatnya senang. Taiwan memang sedang mengincar wisatawan muslim di kawasan ASEAN khususnya. "Sehingga fasilitas sajadah, penanda arah kiblat, dan musala itu sangat membantu. Mereka pun kayaknya nggak bakal ngelarang misalnya kita ibadah di pinggir jalan karena cukup terbuka budayanya," ungkapnya.

Untuk urusan makanan pun mereka dengan terbuka memberi informasi makanan mana saja yang tidak halal. Bukan hanya itu, menurut Lisvi, para pelaku industri pariwisata di Taiwan juga memberi alternatif makanan yang halal. "Apalagi kalau buat yang berjilbab, itu penanda sekali kalau muslim, jadi mereka lebih peduli," imbuhnya.

 BACA JUGA:

Museum di Belanda Tawarkan Hal Berbau Erotisme

Namun bagi Dyah Pamela,30, dia memang sering dibingungkan untuk urusan ibadah. Sebagai muslimah memang tidak nyaman untuk travelling ke negara yang tidak ramah muslim. "Pernah pengalaman di Korea Selatan bingung mau salat di mana, akhirnya ditunda salatnya hingga sampai di hotel. Terus di Nepal juga kondisi darurat, ya numpang di lobi deket resepsionis. Untung diizinkan dan memang cuma hotel rumahan juga, mereka cukup mengerti ada orang beda agama," urai Dyah.

Di negara ramah muslim seperti Malaysia, Dyah punya pengalaman menarik. Karena tidak menggunakan jilbab, dia diusir oleh kumpulan ibu asal India sewaktu di Masjid. "Memang kalau di sana sekitar masjid harus menggunakan jilbab walau cuma pakai selendang di rambut. Ada tulisannya juga di masjid harus berpakaian sopan," ujarnya.

Dyah menambahkan, di wilayah lainnya di Malaysia seperti Kuala Kangsar, masjid menyediakan baju semacam gamis jubah untuk orang asing tidak berjilbab supaya sopan masuk masjid. "Ada beberapa turis, jadi malas akhirnya, mending gak jadi lihat ke dalem masjid walau sebenarnya masjidnya indah. Itulah wisata halal sesungguhnya," sebutnya.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini