nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Di Restoran Ini Pembeli Berkulit Putih Dikenakan Harga Menu Lebih Mahal

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 13 Maret 2018 12:29 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 13 298 1871967 di-restoran-ini-pembeli-berkulit-putih-dikenakan-harga-menu-lebih-mahal-PMrhGV5CRP.jpg Restoran kenakan harga menu mahal untuk pembeli berkulit putih (Foto:Ig/@from_lagos)

RASISME tampaknya masih menjadi salah satu permasalahan penting yang dihadapi oleh seluruh negara di dunia. Contohnya Amerika. Tingkat kesenjangan sosial antara masyarakat berkulit putih dan hitam masih sangat besar.

Itulah yang melatarbelakangi seorang chef asal Lagos, Nigeria, Tunde Wey meluncurkan sebuah restoran pop-up berkonsep unik untuk memberikan pemahaman kepada para pengunjung terhadap isu-isu rasial. Salah satu caranya dengan memberikan harga makanan yang cenderung lebih mahal kepada pengunjung berkulit putih.

BACA JUGA:

Sekolah Dasar di Filipina Dicat Mirip Restoran Cepat Saji Jadi Viral, Seperti Apa?

Dilansir dari Metro.co.uk, Selasa (13/3/2018), tindakan yang dilakukan oleh Tunde ini juga dilatarbelakangi oleh sebuah fakta yang menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan penduduk Afro-Amerika di New Orleans 54% lebih rendah daripada penduduk berkulit putih.

Restoran tersebut ia namakan SAARTJ yang terinspirasi dari sosok Saartji Baartman, seorang wanita asal Afrika Selatan yang diperbudak dan diarak hingga ke seluruh daratan Eropa karena ia mengidap 'steatopygia' (penyakit yang ditandai dengan lemak berlebih pada bagian bokong). Ia meninggal pada usia 26 tahun dan ceritanya masih santer terdengar hingga saat ini sebagai lambang esploitasi dan rasisme kolonial.

Kembali berbicara soal SAARTY Pop-up restaurant, di tempat ini para pengunjung akan disuguhkan  dua opsi harga yang berbeda.

"Harga standar berlaku untuk semua pelanggan yakni Rp171 ribu, namun untuk para pengunjung berkulit putih diberikan opsi untuk membayar tagihan yang telah kami tetapkan (suggested price) yakni, Rp428 ribu," tutur Tunde.

Perbedaan harga ini merepresantasikan perbedaan upah atau gaji yang diterima oleh setiap kepala rumah tangga di News Orleans. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, penduduk berkulit hitam memiliki pendapatan yang jauh lebih rendah dibandingkan penduduk berkulit putih.

Menariknya, Tunde sengaja menghindari penggunaan promosi atau publisitas untuk mengukur reaksi asli dari para pengunjung. Setelah restoran beroperasi selama kurang lebih satu bulan, dia menemukan bahwa sekitar 78% pengunjung berkulit putih rela memilih untuk membayar jumlah yang lebih tinggi.

Menurut pria yang memprakarasai acara Blackness In America Dinner Series itu, sebagian besar dari pengunjung tersebut merasa bersalah sehingga rela merogoh kocek yang lebih tinggi. Semua orang tentu akan merasa tertekan ketika melihat langsung kondisi kehidupan seorang pelayan, apalagi bertatap muka secara langsung dengan sang juru masak.

"Orang-orang selalu melihat saya yang sedang berdiri di kasir dan berpikir bahwa saya telah menghakimi mereka. Jadi, jika mereka tidak bisa membayar lebih tinggi, mereka akan mengungkapkannya melalui sebuah catatan khusu," imbuh Tunde kepada Civil Eats.

 BACA JUGA:

Menggoreng Tanpa Minyak Bikin Makanan Lebih Sehat

Lalu akan disumbangkan ke mana kah, keuntungan yang telah ia dapatkan? Tunde mengungkapkan bahwa uang yang terkumpul bisa digunakan oleh para pengunjung berkulit hitam. Namun sejauh ini, hanya enam orang saja yang menerima dana tersebut.

"Bahkan, banyak pengunjung berkulit hitam yang pernah mencoba untuk membayar Rp428 ribu. Saya langsung mengatakan, 'tidak, tagihan ini bukan untuk Anda. Di sisi lain, banyak juga yang mengatakan mereka tidak membutuhkan uang yang saya siapkan, dan mereka menyuruh saya untuk memberikan kepada orang yang membutuhkan," tukasnya.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini