Perempuan Ini Ubah Cita-Cita Demi Kunjungi 100 Negara

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 13 Maret 2018 10:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 13 406 1871876 perempuan-ini-ubah-cita-cita-demi-kunjungi-100-negara-x6r6iZdIDT.jpg Taylor Demonbreun (Foto: Travelandleisure)

MENJELAJAH dunia mungkin adalah impian untuk banyak orang, terutama mereka yang memang memiliki hobi bepergian. Sayangnya hanya sedikit orang yang mampu mewujudkannya. Alasannya pun bermacam-macam, bisa karena biaya atau pekerjaan yang sulit ditinggalkan.

Namun nyatanya bepergian juga bisa mengubah impian seseorang. Hal inilah yang terjadi pada Taylor Demonbreun. Ia mengubah mimpinya untuk menjadi seorang bankir dan lebih memilih pergi menjelajah dunia agar bisa mendapatkan predikat sebagai orang termuda dan tercepat yang mengunjungi semua negara berdaulat.

Perempuan berusia 23 tahun itu mulai berpikiran untuk keliling dunia saat ia memulai semester pertamanya di Vanderbilt University. Di semester akhir, tak seperti mahasiswa lain yang pusing memikirkan skripsi, Taylor malah merencanakan kepergiannya. Walau begitu ia tetap menuntaskan kuliahnya terlebih dahulu serta berhasil mendapatkan gelar di bidang ekonomi dan kebijakan publik.

Sebulan setelah kelulusannya, Taylor kembali ke negara asalnya untuk memecahkan Guinness World Records. Perjalanannya dimulai dari Republik Dominika dan ia berhasil menyelesaikan perjalanannya ke 100 negara selama 9 bulan. Dirinya mengunjungi negara yang berbeda mulai dari Amerika Selatan hingga ke Eropa dan Asia.

“Bila saya melihat kembali rencana saya untuk memulai perjalanan ini, saya merasa ngeri. Namun saya telah belajar banyak tentang perjalanan sejak saat itu terutama mengenai perencanaan dan membatasi diri sendiri,” ujar Taylor seperti yang dikutip dari Travel and Leisure, Selasa (13/3/2018).

Pengalaman perjalanannya itu pun dituliskan dalam blog pribadi bertajuk Trek With Taylor, serta di Twitter dan Instagram. Ia berharap dapat menginspirasi orang lain untuk keluar dari zona nyamannya, mengeksplorasi budaya baru, serta belajar lebih banyak tentang diri mereka sendiri dalam proses perjalanan.

Taylor sendiri mengakui bila menjadi seorang traveler bukanlah hal yang mudah. Ia harus mengatasi kecemasan sosial yang melanda dirinya terkait keamanan suatu negara.

Beruntung setiap pengalaman yang didapatkannya membuat ia terus berkembang dan termotivasi untuk melakukan hal-hal baru. Salah satu cara yang diterapkan oleh Taylor untuk mengatasi kecemasannya adalah menganggap dan percaya semua orang pada umumnya baik.

“Kita juga harus mengubah perspektif dari yang tadinya percaya jika orang lain tidak suka dengan kita karena berasal dari negara yang berbeda menjadi berpikiran orang lain hanya ingin membantu dan senang bila ada orang asing yang mengunjungi negaranya,” tutur Taylor. Dirinya mengatakan jika mendapatkan pengalaman langsung tentang kebaikan orang asing melalui pemikiran itu. Terlebih di setiap negara ia harus mendapatkan dua tanda tangan sebagai bukti jika dirinya pernah datang berkunjung, meminta kontak mereka, mengambil waktu, serta mencatat waktu masuk dan keluar.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini