nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kursus Meracik Parfum, Usaha Dee Lestari Menulis 'Aroma Karsa'

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 14 Maret 2018 20:54 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 14 194 1872880 kursus-meracik-parfum-usaha-dee-lestari-menulis-aroma-karsa-0Fuxlkj58V.jpg Dee Lestari (Foto: Pradita Ananda/Okezone)

MELAKUKAN sederet riset dengan total dan terjun langsung, demi untuk bisa mendalami lebih lagi tema dan ruh nyawa dari cerita yang dikisahkan, pada dasarnya adalah hal wajib bagi seorang penulis buku.

Riset dengan total inilah yang belum lama ini dilakukan oleh penulis buku terkenal Tanah Air, Dewi Lestari atau biasa disapa Dee. Menelurkan karya baru, dengan buku berjudul ‘Aroma Karsa’ yang diketahui adalah karya ke-12 dari Dee, Dee bercerita bahwa dirinya menjalani berbagai kegiatan baru, sebut saja mulai dari kursus meracik parfum, berkunjung ke daerah pemukiman tempat pembuangan akhir, hingga menemui juru kunci salah satu gunung legendaris terkenal di Jawa, Gunung Lawu.

Di mana semua hal di atas, ia lakukan semata-mata demi riset agar bisa menjahit cerita yang ia kisahkan dalam buku yang dijadwalkan akan dirilis pada 16 Maret 2018 mendatang tersebut. Kepada Okezone, Dee tidak segan berbagi pengalamannya meracik parfum hingga bertandang ke Gunung Lawu.

“Iya saya kursus satu hari meracik parfum, saya ambil yang basic di Singapura yang diselenggarakan oleh Nose Who Knows, afiliasi dari Cinquieme Sens, Prancis. Di kursus ini saya dikasih tahu soal peraturan universal dunia peracikan parfum. Buat saya meracik parfum ini hampir sama kayak bikin komposisi musik, ada note atas, tengah, dan bawah, di mana setiap karakter itu enggak boleh salah tempat. Selain kursus langsung, saya juga baca buku soal teori wewangian,” ujar Dee kala ditemui Okezone, Rabu (14/3/2018) dalam acara ‘Media Gathering Aroma Karsa’ di kawasan Cipete, Jakarta Selatan.

Dengan mengikuti kursus meracik parfum tersebut, ibu dua orang anak ini mengungkapkan bahwa pengetahuan dirinya menjadi bertambah. Sehingga ilmu inilah yang ia bawa pulang ke Indonesia, untuk bisa membangun karakter dalam kisah bukunya.

“Baca buku teori wewangian, jelalatan cari bahan-bahan yang menarik. Begitu banyak materi wewangian yang menarik. Saya jadi belajar gimana bau itu bisa jadi wangi karena ada banyak unsur-unsur di dalamnya, yang kalau sendiri itu enggak enak tapi kalau digabungin sama formula lain akan jadi enak. Hal-hal inilah yang saya bawa pulang untuk membangun karakter,” imbuhnya.

Selain mengambil kursus meracik parfum hingga ke Singapura, Dee juga diketahui bahkan sampai mendatangi tempat pembuangan akhir, kawasan TPA Bantar Gebang serta menemui juru kunci Gunung Lawu agar risetnya semakin serius dan dalam.

“Di Bantar Gebang itu, dinamika kehidupan, aroma, tata kehidupan rasanya tersendiri. Hal yang menarik untuk dicermati. Melihat bagaimana para pemulung itu juga melalui sebuah proses adaptasi. Lalu soal Gunung Lawu, meriset jalur tengah, karena sejarah di buku ini latar belakangnya Majapahit, mau enggak mau ya profilnya memang Gunung Lawu. Gunung yang walau populer tapi tetap disegani karena memang ada tempat-tempat tertentu yang disegani. Kuncinya sih bertemu dengan juru kunci sebagai informan utama, lewat beliau saya tahu cerita-cerita aneh apa, hewan-hewan apa yang ada di sana, dan lain-lain. Inilah yang saya jahit ke dalam cerita,” pungkasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini