nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Angka Penderita Kusta di Ambon Mencapai 49 Kasus

Agregasi Antara, Jurnalis · Kamis 15 Maret 2018 23:06 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 03 15 481 1873496 angka-penderita-kusta-di-ambon-mencapai-49-kasus-4nXSgD8X2D.jpg Ilustrasi (Foto: Livestrong)

PENDERITA kusta di Ambon jumlahnya cukup banyak. Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemerintah Kota Ambon, Maluku mendata jumlah pasien baru penderita kusta di kota itu tercatat sebanyak 49 kasus dengan angka prevalensi 1.17 per 10.000 penduduk pada tahun 2017.

"Menuju eliminasi tingkat provinsi. Indonesia menargetkan eliminasi kusta di seluruh provinsi tahun 2019, dan kabupaten kota termasuk Ambon tahun 2024," kata Sekretaris Kota Ambon Anthony Gustaf Latuheru, pada kegiatan sosialisasi dan pelatihan intensifikasi penemuan kasus kusta dan frambusia, di Ambon, Kamis.

Ia menyatakan, kusta dan frambusia oleh WHO digolongkan kedalam kelompok penyakit tropis terabaikan di Indonesia.

 (Baca Juga: Bayi Ini Meninggal Setelah Dilahirkan di Rumah, Cerita sang Ibu Bikin Mewek!)

"Jumlah kasus yang dilaporkan juga tidak terlalu banyak, bahkan cenderung pada kantong-kantong wilayah tertentu di Indonesia terutama di Indonesia bagian timur," katanya.

Anthony mengakui, secara nasional Indonesia telah mencapai eliminasi kusta sejak tahun 2000, tetapi situasi epidemiologi kusta sejak tahun 2001 hingga sekarang cenderung statis, tanpa banyak mengalami perubahan yang signifikan.

  (Baca Juga: Seperti Stephen Hawking, Ini Musisi hingga Olahragawan Dunia yang Mengidap ALS)

Eliminasi kusta ditetapkan dengan angka prevalensi kurang dari 1 per 10.000 penduduk, sesuai dengan peta jalan program pengendalian kusta.

Dijelaskannya, dampak yang ditimbulkan penyakit kusta dan frambusia sangat luas dan sering bermanifestasi pada jaringan kulit, jika tidak segera ditangani secara cepat dan tepat maka dapat menimbulkan kecacatan.

Kecacatan yang terjadi, lanjutnya, menimbulkan masalah pada fisik penderita tetapi juga gangguang psikis yang turut memengaruhi faktor sosial ekonomi, sehingga dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia.

  (Baca Juga: Sekolah Dasar Terapkan Bawa Bekal Bergizi Seimbang agar Anak Lebih Sehat)

"Penyakit kusta dan frambusia disebabkan karena kurang cepatnya respon masyarakat terhadap potensi kemunculan penyakit kusta dari lingkungannya," kata Anthony.

Pihaknya berharap, kedua jenis penyakit ini tidak menjadi masalah kesehatan bagi masyarakat, dan mencapai target eliminasi.

"Karena itu saya mengajak kita semua untuk bersama berkomitmen meningkatkan kepedulian terhadap upaya pencegahan penyakit, dengan cara mengkampanyekan serta mengobati pasien yang terkena penyakit kusta dan frambusia," ujarnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini