nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Langka, Pohon Raksasa Bergetah Merah Darah di Hutan Kalimantan

Agregasi Antara, Jurnalis · Jum'at 16 Maret 2018 20:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 16 406 1873964 langka-pohon-raksasa-bergetah-merah-darah-di-hutan-kalimantan-0WPiFD1Dor.jpg Ilustrasi. Pohon raksasa di Tasmania (Foto: BBC)

BANJARMASIN - Tim dari Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Banjarbaru, terjun ke Desa Mentoyan, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, untuk melakukan penelitian terhadap keberadaan pohon raksasa.

Seorang peneliti utama dari instansi tersebut, Syaifudin S Hut, di Halong 230 Km Utara Banjarmasin, Jumat mengakui timnya diterjunkan ke lokasi tersebut, atas perintah Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Perintah tersebut, keluar setelah tersebar berita ditemukannya sebuah pohon berukuran besar besar oleh kalangan anak muda pecinta lingkungan Forum Komunitas Hijau (FKH) Balangan beberapa waktu lalu.

Untuk memastikan keberadaan pohon besar yang berpotensi sebagai objek wisata, penelitian, dan objek pendidikan tersebut maka diterjunkanlah tim yang terdiri dari dia sendiri serta dua peneliti lainnya.

Kedua peneliti tersebut yakni Edy Suryanto, dan Akhmad Ali Musthofa, dibantu oleh pemuda FKH Balangan sebagai pemandu jalan ke kawasan tersebut.

Tim ini dibantu berbagai peralatan melakukan pengukuran, di samping mencari anakannya untuk dikembangbiakan di areal instansi mereka di Banjarbaru.

Penelitian tersebut pada hari Kamis (15/3) menelan waktu beberapa jam, di wilayah tersebut dan sempat menjadi perhatian warga setempat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa banir pohon tersebut dengan ukuran 25,7 meter atau untuk mengelilingi pohon ini memerlukan setidaknya 15 orang berpegangan tangan.

Tinggi batang tanpa cabang 16,5 meter, tinggi banir 16 meter, tinggi keseluruhan 42 meter, diameter pohon tanpa banir 203 centemeter.

Yang unik, getah pohon ini berwarna merah darah, dan terdapat semacam damar di antara kulit pohon yang terkelupas.

Pohon berada di RT 1 Desa Mentoyan. Warga setempat menyebut pohon Jalamu sejenis pohon kenari.

Mereka berharap pohon tersebut terpelihara dengan baik karena itu adalah warisan alam yang sangat langka, sebagai objek wisata, objek penelitian, dan objek pendidikan di kemudian hari.

Di tempat berbeda, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sitti Nurbaya mengatakan yang sedang pemerintah urus dan tata sekarang ini adalah mengembalikan fungsi alam hutan sebagaimana mestinya.

"Kita semua mempunyai kewajiban memanfaatkan kekayaan alam sebagai karunia Tuhan dengan sebaik-baiknya dan bukan sebaliknya merusak," kata Menteri LHK dalam sambutan tertulis dibacakan Kepala Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), Jusman pada upacara Hari Bakti Rimbawan ke-35 di Palu, Jumat.

Menteri mengatakan semuanya tersedia dalam jumlah melimpah di alam maupun dapat habis bahkan hilang jika kondisi alamnya rusak atau terganggu. Sebagai contoh, kata Menteri Sitti Nurbaya, air yang dihasilkan dari proses siklus hidrologi di alam sangat tergantung dari keberadaan ekosistem hutan.

Rusaknya ekosistem hutan atau berkurangnya pepohonan akan mengubah siklus yang terjadi dan berdampak kepada menurunnya ketersediaan air baik di permukaan maupun di dalam tanah.

Begitu halnya juga dengan wisata alam, fenomena dan keindahan alam yang merupakan hasil proses alkam akan hilang jika ekosistem tergagnggu. “Karena itu, mari bersama-sama pemerintah dan masyarakat, kita kembalikan fungsi alam hutan dengan menata dan mengelola dengan baik.”

(Baca Juga: Pohon Raksasa Ditemukan di Hutan Kalimantan Selatan, Besarnya Luar Biasa)

Selain itu, ujar dia, juga harus kita pulihkan sungai-sungai dari pencemaran yang sudah cukup berat. "Dan banyak lagi kondisi lingkungan yang harus kita berikan perlakukan dengan corrective action," kata Menteri Sitti Nurbaya.

Caranya, kata dia, dengan satu nafaskan antara perlindungan dan pengelolaan serta jangan dikotomikan investasi dan lingkungan. Dia juga menambahkan sejak hadirnya konsep implementasi pembangunan berkelanjutan agenda 21, baik internasional maupun nasional, sudah sangat jelas bahwa keselarasan ekonomi dan lingkungan atu lebih spesifik investasi dan lingkungan dapat dilakukan dan telah berlangsung hingga sekarang ini.

(Baca Juga: Pria Mirip Boneka Ken Barbie Ingin Punya Anak, namun Ini yang Jadi Halangan!)


Pemerintah semakin nyata mendorong bahwa lingkungan dan sumberdaya alam dapat menjadi sumber bagi suatu pertumbuhan wilayah. Contoh konkritnya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.

Industri pariwisata alam menjadi trend dunia saat ini. Begitupun di Indonesia dengan satu program prioritas nasional menjadikan Indonesia sebagai target destinasi wisata dunia bermodalkan atraksi kekayaan dan keindahan alam.

Di Indonesia, kata menteri ada sepuluh destinasi wisata yang menjadi prioritas seperti Labuan Bajo, Kepulauan Seribu, Wakatobi,Tanjung Lesung, Morotai dan Tanjung Kelayang.

Sumberdaya alam dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk masyarakat sekitar yang sifatnya konstruktif.

Karena itu kelompok masyarakat sebagai garda terdepan di masing-masing daerah seyogianya menjaga upaya kelestarian dan keutuhan berbagai Taman Nasional yang ada di Tanah Air.

Kekuatan alam Taman Nasional dicirikan oleh kekayaan keanekaragaman hayati yang berada pada ranking dua di dunia untuk ekosistem darat. "Dan ranking satu untuk ekosistem lautan," kata menteri.

(Baca Juga: Kondisi Aneh Membuat Mantan Model Ini Tidak Bisa Pipis Selama 2 Tahun!)

Peran keanekaragaman hayati sangat penting untuk masa depan Indonesia dan dunia, terutama untuk pajak, bioenergi, bio medicine dan air. Kenali dan cintai negerimu dengan cara baik dan benar, demikian Menteri LHK Sitti Nurbaya.

Peringatan Hari Bakti Rimbawan ke-35 tingkat Provinsi Sulteng di pusatkan di halaman Balai Besar TNLL dan dihadiri seluruh pejabat dan pegawai di jajaran Dinas Kehutanan Provinsi Sulteng dan Kementerian LHK di daerah itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini