nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hari Tidur Sedunia, Para Ahli Ungkap Alasan Seseorang Sulit Dapatkan Tidur Berkualitas

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 16 Maret 2018 18:41 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 16 481 1873897 hari-tidur-sedunia-para-ahli-ungkap-alasan-seseorang-sulit-dapatkan-tidur-berkualitas-WrSu6FxYTC.jpg Ilustrasi (Foto: 9coach)

MENERAPKAN pola hidup sehat memang tidak semudah yang dibayangkan. Selain harus menjaga asupan makanan, setiap individu juga harus mendapatkan tidur berkualitas.

Nah, dalam rangka memperingati World Sleep Day atau Hari Tidur Sedunia yang jatuh setiap tanggal 16 Maret, para ahli telah merilis fakta terbaru dari survei global tahunan yang berjudul "Better Sleep, Better Health. A Global Look at Why We’re Still Falling Short on Sleep.”

Survei yang dilakukan di 13 negara ini, bertujuan untuk mengamati apa yang membuat orang-orang tidak mendapatkan tidur yang berkualitas. Diperkirakan lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia menderita sleep apnea, 80 persen di antaranya tetap tidak terdiagnosa, dan secara global 30 persen orang mengalami kesulitan untuk memulai tidur tanpa terjaga di malam hari.

Tidur yang baik sangat penting bagi kesehatan, tetapi hanya sepertiga dari orang dengan gangguan tidur yang mencari bantuan tenaga kesehatan profesional. Melalui kolaborasi dengan Richter, Philips ingin menekankan pentingnya tidur berkualitas bagi setiap orang di seluruh dunia.

(Baca Juga: 7 Aktivitas yang Bikin Anda Susah Terlelap dan Tidur Nyenyak)

Survei yang dilakukan secara online pada bulan Februari oleh Harris Poll atas nama Philips ini, mengulas kebiasaan tidur lebih dari 15.000 orang dewasa di 13 negara (Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Polandia, Prancis, India, China, Australia, Kolombia, Argentina, Meksiko, Brasil dan Jepang), melihat lebih dekat bagaimana tidur diprioritaskan, ditangani, dan dipandang oleh populasi di negara tersebut. Temuan utama meliputi:

Tidur belum menjadi prioritas

Survei menemukan bahwa mayoritas orang dewasa secara global (67%) menganggap bahwa tidur berdampak penting bagi keseluruhan kesehatan mereka. Namun, ketika mereka diminta untuk memasukkan kebiasaan tidur sehat sebagai bagian gaya hidup hanya 29 persen yang merasa bersalah tidak menjaga kebiasaan tidur yang baik. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan keinginan mereka untuk berolahraga secara rutin – 3-4 kali dalam seminggu sebanyak 49% dan menjaga makan sehat sebanyak 42%.

(Baca Juga: Kondisi Aneh Membuat Mantan Model Ini Tidak Bisa Pipis Selama 2 Tahun!)

Memiliki hambatan untuk tidur berkualitas

Enam atau lebih dari 10 orang dewasa (61%) di dunia memiliki beberapa jenis masalah medis yang memengaruhi tidur mereka. Sekitar seperempat orang dewasa melaporkan insomnia (26%) dan 1 dari 5 orang mendengkur (21%). Berbagai kekhawatiran membuat lebih dari setengah orang dewasa di dunia terjaga di malam hari dalam 3 bulan terakhir (58%), diikuti oleh distraksi dari teknologi (26%). Setelah tidur malam yang tidak berkualitas, mereka merasa lelah (46 persen), murung/mudah marah (41 persen), tidak termotivasi (39 persen), dan mengalami kesulitan berkonsentrasi (39%).

Sebagian orang mulai berupaya untuk mendapatkan tidur berkualitas

Secarara global, tiga perempat orang dewasa (77%) telah mencoba memperbaiki tidur mereka dengan cara tertentu. Secara kolektif, banyak yang beralih dengan mendengarkan musik yang menenangkan (36%) atau mengatur jadwal untuk tidur/ bangun mereka (32%). Namun, metode berbeda digunakan di tiap-tiap negara. Salah satu metode utama yang digunakan orang dewasa India adalah meditasi (45%), sementara salah satu metode teratas yang digunakan oleh orang dewasa Polandia dan Tiongkok adalah dengan meningkatkan kualitas udara mereka (33% dan 31%).

Millenials memiliki pandangan berbeda mengenai tidur

Dari keseluruhan hasil survei global, muncul satu kelompok kecil yang terdiri dari orang dewasa berusia 18-24 tahun. Meskipun cenderung tidak memiliki jam tidur yang teratur dibandingkan generasi lainnya (38% vs 47% berusia 25+), kelompok ini melaporkan bahwa secara rata-rata mereka lebih banyak tidur setiap malam dibandingkan kelompok usia lainnya (usia 18-24 rata-rata 7,2 jam, dibandingkan 6,9 jam pada kelompok usia 25+). Mereka juga cenderung merasa bersalah jika tidak secara teratur menjaga kebiasaan tidur yang baik dibandingkan dengan kelompok usia 35+ (35% vs 26%). Orang dewasa berusia 18-24 tahun juga lebih mungkin untuk mencoba memperbaiki tidur mereka dibandingkan dengan kelompok usia 25+ (86% vs 75%).

Untuk memperbaiki hasil klinis dalam terapi dan perawatan tidur, Philips mengumumkan pembukaan Sleep and Respiratory Education Center pertama di Asia Tenggara di kantor pusat regional, Philips APAC Center, di Singapura. Pusat pedidikan ini bertujuan untuk melatih para tenaga kesehatan profesional di seluruh wilayah Asia Pasifik untuk bisa mendiagnosis dan mengobati gangguan tidur dengan lebih baik.

"Tidur adalah landasan gaya hidup sehat. Seberapa baik dan berapa lama kita tidur setiap malam sebelumnya adalah variabel paling penting yang mempengaruhi perasaan kita pada hari berikutnya. Jadi, tidur yang tidak memadai bisa berdampak langsung pada kesehatan kita, tidak seperti olahraga atau diet," tukas Dr. David White, Chief Medical Officer, Philips Sleep & Respiratory Care, dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Jumat (16/3/2018).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini