nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mencengangkan, di Desa Terpencil Ini Lebih Banyak Boneka daripada Manusia

Senin 19 Maret 2018 09:15 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 19 406 1874627 mencengangkan-di-desa-terpencil-ini-lebih-banyak-boneka-daripada-manusia-hfCc8Ay4Jt.jpg Boneka di Desa Nogoro (foto dilansir dari Solopos.com)

NAGORO – Kisah unik sebuah desa di Jepang memiliki penghuni berupa boneka lebih banyak dari pada manusia. Desa tersebut bernama Nagoro, terletak Lembah Iya, Pulau Shikoku, Perfektur Tokushima.

Meski terlihat seram saat ditelusuri foto-fotonya, Nagoro menjadi desa boneka seperti sekarang melalui proses panjang dan merupakan karya seni seorang seniman kelahiran desa tersebut.

Nagoro merupakan desa terpencil, dulunya penduduk desa tersebut kurang lebih 300 jiwa. Namun jumlah itu menurun drastis hingga tersisa 35 orang pada Januari 2015. Lima orang meninggal dunia dalam kurun satu tahun setelahnya. Kini jumlah boneka di desa itu mencapai 350 buah.

 

Cerita tersebut berawal saat seorang seniman kelahiran Nagoro kembali ke kampung halaman setelah membangun karier puluhan tahun di Osaka. Seniman tersebut bernama Tsukimi Ayano. Laman Wikipedia menyebutkan Tsukimi kembali ke Nagoro awal 2000-an untuk merawat ayahnya yang kondisi kesehatannya mulai menurun.

Pada 10 Oktober 2017, laman National Geographic merilis artikel tentang karya Tsukumi di Desa Nagoro. Diungkap dalam liputan National Geographic, Tsukumi membuat boneka sejak momen-momen awal kepulangannya untuk merawat sang ayah.

Berbagai boneka seukuran manusia dibuat untuk menggantikan warga yang meninggal dunia, atau warga yang pindah. Bahkan saat ayah Tsukumi meninggal dunia, ia membuat boneka ayahnya, dipakaikan baju asli milik ayahnya dan dipasang di ladang sang ayah.

 

Apa yang dilakukan Tsukumi ini pernah dibuatkan film pendek dokumenter oleh sineas bernama Fritz Schumann. Film pendek dokumenter itu berjudul The Valley of Dolls.

“Saat aku membuat boneka orang-orang yang sudah meninggal. Aku memikirkan masa-masa saat mereka masih sehat. Boneka-boneka itu seperti anak-anakku,” ungkap Tsukumi.

Boneka-boneka itu kini ditempatkan di berbagai tempat di desa tersebut. Ada yang diposisikan memancing di pinggir sungai, ada yang di depan toko, hingga di kelas menggambarkan kegiatan belajar mengajar. Sekolah di Desa Nagoro ditutup pada 2012.

*Semua foto diambil dari artikel serupa di Solopos.com

Gedung sekolah kini menjadi galeri bagi Tsukumi. Dia secara berkala mengganti model boneka yang menjadi murid dan guru. Tak hanya itu, Stukumi juga secara berkala memperbaiki boneka-boneka lama kemudian mengembalikan ke tempat semula.

Hal itu mengundang wisatawan ke Desa Nagoro. Mereka penasaran melihat desa yang dihuni boneka. Hingga 2017, dilaporkan Tsukumi sudah memajang lebih dari 350 boneka.

Dia bahkan membuat boneka dirinya. Boneka Tsukumi biasa ditempatkan di sekitar rumah, kalau tidak melihat tanaman, boneka itu biasa berada di depan penghangat ruangan.

*Semua foto diambil dari artikel serupa di Solopos.com

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini