nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Yuk, Lihat Pesawat Tanpa Awak Membelah Langit Khatulistiwa Saat Kulminasi Matahari

Agregasi Antara, Jurnalis · Senin 19 Maret 2018 19:53 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 19 406 1875025 yuk-lihat-pesawat-tanpa-awak-membelah-langit-khatulistiwa-saat-kulminasi-matahari-A45nk4JqqB.jpg Tugu Khatulistiwa (Foto: Wisata Pontianak)

PONTIANAK - Pesawat tanpa awak berbahan bakar sinar matahari akan memeriahkan peringatan puncak kulminasi matahari di kawasan Tugu Khatulistiwa, Pontianak pada Rabu 21 Maret mendatang.

CEO Borneo Skycam, Toni Eko Kurniawan di Pontianak, Senin, mengatakan, pesawat tanpa awak tersebut akan merekam aktivitas peringatan titik kulminasi matahari di kawasan Tugu Khatulistiwa Pontianak dengan tema "Membelah Langit Khatulistiwa".

Penerbangan pesawat bernama OPIOR-1603 yang dikembangkan Borneo Skycam bersama Creative Robotic School tersebut, dapat disaksikan lewat "live streaming" di channel YouTube Borneo Skycam.

Ia menambahkan, untuk memberikan tayangan visual yang bisa disaksikan lewat YouTube secara langsung, pesawat ini dilengkapi kamera yang dapat dipantau pada "groud controll station" secara real time.

Toni mengatakan, sejatinya pesawat bisa untuk kepentingan militer, seperti pemantauan batas negara atau digunakan untuk pengambilan data peta. "Untuk sementara pesawat ini kami gunakan sendiri untuk kebutuhan pengambilan data peta yang bisa memantau wilayah sekitar 1.000-3.000 hektare per terbang," katanya.

Sementara itu, peristiwa titik kulminasi terjadi dua kali setahun, yakni pada 21-23 Maret serta 21-23 September dan telah menjadi agenda tahunan Kota Pontianak guna menarik kedatangan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Peristiwa titik kulminasi matahari merupakan fenomena alam ketika matahari tepat berada digaris khatulistiwa, pada saat itu posisi matahari akan tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda di permukaan bumi terutama di kawasan Tugu Khatulistiwa.

Kulminasi matahari berada tegak lurus di atas kepala manusia, yakni pada tanggal 21-23 Maret pukul 11.50 WIB, dan tanggal 21-23 September jam pukul 11.38 WIB di Tugu Khatulistiwa Pontianak.

Kulminasi matahari merupakan peristiwa alam yang hanya terjadi di lima negara, antara lain di Indonesia, tepatnya di Pontianak. Ke-4 negara lain, masing-masing Afrika, yaitu Gabon, Zaire, Uganda, Kenya dan Somalia.

Di Amerika Latin, garis itu juga melintasi empat negara yaitu, Equador, Peru, Columbia dan Brasil. Dari semua kota atau negara yang dilewati tersebut, hanya ada satu di dunia ini yang dibelah atau dilintasi secara persis oleh garis khatulistiwa, yaitu Kota Pontianak. Hal itu menjadi ciri khusus. Karena itulah Kota Pontianak juga dikenal dengan sebutan Kota Khatulistiwa.

Selain pesawat tanpa awak, Pemerintah Kota Pontianak juga akan memeriahkan peringatan titik kulminasi matahari di kawasan Tugu Khatuliswa dengan fasilitas planetarium.

(Baca Juga: Bahaya Konsumsi Minum Air Mineral Kemasan, dari Menurunkan Jumlah Sperma hingga Kanker)

"Kami akan mengandeng Lapan (Lembaga Antariksa dan Penerbangan), dan Badan Promosi Pariwisata Kota Pontianak (BP2KP)," kata Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Pontianak, Syarif Saleh.

Planetarium merupakan ruang teater untuk memperagakan simulasi susunan bintang dan benda-benda langit. Saat ini planetarium tersebut sedang dalam perjalanan menuju Pontianak, katanya.

"Hadirnya ruang teater benda-benda atas langit itu diharapkan bisa jadi sarana edukasi masyarakat, khususnya pelajar dalam menambah wawasan tentang dunia antariksa," ungkapnya.

Selain itu, menurut dia, peringatan titik kulminasi matahari juga akan dimeriahkan dengan pertunjukkan robot kuntilanak, penampilan band SMA, barongsai, permainan air dan sejumlah olahraga tradisional lainnya. "Kami juga menggandeng banyak komunitas untuk ikut meramaikan peristiwa alam tersebut," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Lapan Pontianak, Muzirwan menyebutkan di Pontianak belum pernah ada planetarium, sehingga planetarium yang dibawa untuk edukasi selama tiga hari penuh itu jadi yang perdana.

(Baca Juga: Ternyata Bentuk Hidung Gambarkan Kepribadian Seseorang, Kamu Termasuk yang Mana?)

Menurut dia, planetarium yang akan didatangkan itu, merupakan planetarium mini yang berbentuk planet dan muat 15-20 orang. Dalam sekali tampilan diorama antariksa, akan membutuhkan waktu 15-20 menit. "Kita bisa melihat yang ada di antariksa seakan-akan ikut terbang, dan peserta yang masuk nantinya akan bergantian dengan durasi 15 - 20 menit," katanya.

Dia berharap kedatangan planetarium ke Pontianak bisa jadi pemancing agar ke depan Pontianak punya planetarium sendiri, sehingga edukasi soal antariksa ke masyarakat bakal jauh lebih luas lagi. "Kami juga akan menyiapkan teleskop untuk pengamatan, sehingga masyarakat bisa melihat detik-detik kulminasi matahari tersebut," katanya.

(Baca Juga: Lintasan Tangga Terunik di Dunia, Mulai di Atas Laut hingga Membelah Parit)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini