nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sorabi Hijau Khas Karawang, Makanan Rakyat Citarasanya Mendunia

Mulyana, Jurnalis · Selasa 20 Maret 2018 16:47 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 20 298 1875464 sorabi-hijau-khas-karawang-makanan-rakyat-citarasanya-mendunia-NIAaDtt1MQ.jpg Kue sorabi khas Kerawang (Foto:Mulyana/Okezone)

KUE sorabi, mungkin sudah tak asing lagi di telinga masyarakat Jawa Barat. Ya, penganan berbentuk bulat yang berbahan dasar tepung beras ini mungkin sudah menjadi kuliner khas yang melegenda.

Biasanya, kuliner khas Jawa Barat ini disajikan dengan gula aren yang dicairkan (kinca) sebagai sausnya. Terkadang, ada juga yang lebih suka menyantapnya secara original.

Seiring dengan perkembangan zaman, penganan sorabi juga turut berkembang. Bahkan, ada sebagian dari para pedagangnya sengaja memodifikasi tampilannya. Tak heran, jika saat ini sorabi bisa dinikmati dengan berbagai varian rasa. Bahkan, penyajiannya juga sudah semakin menarik.

 BACA JUGA:

5 Moment Seksi Mia Khalifa Bersama Makanan, Intip Foto-fotonya

Berbicara kreatifitas, Di Kabupaten Karawang, tepatnya di Kampung Kali Jaya RT 04/09, Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok, ada seorang pedagang yang cukup piawai memodif sorabi menjadi makanan yang 'Ngangenin'.

Sejak zaman nenek moyang, tampilan sorabi mungkin begitu-begitu saja. Yakni berwarna putih polos dengan hiasan hitam bekas tungku pembuatan di bawahnya. Tapi, pedagang di Karawang ini justru mengubah tampilan sorabi menjadi berwarna hijau.

 

Sorabi hijau Rengasdengklok, begitulah sebutan untuk kuliner khas ini. Nama tersebut, disesuaikan dengan warnanya yang hijau cerah. Sehingga, hanya dengan melihat warnanya setiap orang ingin mencicipi penganan tersebut.

Adalah Maat Kasim (60) sang inisiator kuliner tersebut. Dirinya tak menyangka hidupnya akan sukses secara finansial hanya karena berjualan surabi. Lelaki dengan enam anak ini, awalnya berkehidupan cukup sulit. Berbagai profesi sudah dia lakoni, dari mulai pedagang asongan, pedagang buah, pedagang ketupat dan tukang ojek sudah dijalaninya.

Namun, pada 1995 kondisi ekonomi keluarganya berubah drastis atau saat Kasim mulai melirik peluang usaha makanan rakyat yakni menjadi penjual sorabi hijau. Dia mengaku, memiliki resep sorabi hijau sejak usia sembilan tahun.

Dia pun sedikit bercerita soal perjalanan usahanya ini. Awalnya, dulu di lingkungan rumahnya banyak bermukim warga keturunan China (encek). Dari orang China itulah, Kasim diberi resep sorabi hijau.

"Orang China itu, sering membuat sorabi. Tapi, hanya untuk konsumsi sendiri. Karena, sering melihat proses pembuatannya, saya mencobanya sendiri. Ternyata, hasilnya sangat menggembirakan,"ujar Kasim, saat ditemui di kediamannya, belum lama ini.

Menurut dia, sorabi hasil karyanya ini sering juga disebut dengan surabi kuntilanak. Mengingat, sebelumnya letak warung sorabi hijau Kasim berada di areal tempat pemakaman umum (TPU). Akan tetapi, saat ini lokasinya pindah, yakni berhadap-hadapan dengan TPU tersebut.

BACA JUGA:

Lagi Ngehits Ayam Goreng Saus Telur Asin, Bikin Sendiri Yuk

Kasim mengaku, pelanggan sorabinya ini dari mulai kalangan rakyat sampai pejabat bahkan konglomerat. Tak hanya itu, sorabi hijau ini sampai juga ke Singapura, Jepang, Malaysia, Hongkong, bahkan Amerika Serikat.

Sorabi hijau ini sendiri, memiliki dua rasa yakni rasa gula aren dan gula durian. Soal rasa, Kasim sangat menjaganya. Bahkan, dia tak takut bersaing dengan pedagang lainnya. Karena rasanya yang sangat khas inilah, Kasim mempopulerkan penganannya ini sebagai Raja Surabi Hijau Khas Rengasdengklok.

Mungkin saat ini, Surabi Hijau ini sudah menjadi makanan khas Kabupaten Karawang. Rasanya yang lezat, serta teksturnya yang lembut menjadi pembeda dengan penganan serupa. Tak hanya itu, keunggulan lain dari sorabi buatan Kasim ini yakni bebas bahan kimia. Karena, pewarna hijau yang digunakan untuk mewarnai sorabi tersebut berasal dari bahan alami, yakni daun suji.

Tak hanya pewarna, tepung beras dan santan yang digunakan pun tanpa campuran pengawet. Tak heran, karena hanya menggunakan bahan alami, penganannya ini hanya bisa bertahan 1x24 jam saja.

Meski waktu penyantapannya terbatas, namun ada saja sejumlah pelanggannya tetap membeli sorabi untuk dijadikan oleh-oleh. Seperti, untuk dibawa ke luar negeri. Menurut dia, para pelanggannya itu memiliki alat khusus. Sehingga, penganan bulat berwarna hijau ini bisa dinikmati para bule tanpa basi (makanan sudah rusak).

BACA JUGA:

Unik! Jepang Luncurkan 8 Jenis Camilan Lezat Terinspirasi dari Bunga Sakura

Kasim mengaku, dalam sehari bisa menghabiskan paling sedikit 60 sampai 70 kilogram tepung beras. Sedangkan, untuk gula aren ditambah gula pasir sebanyak 50 kilogram. Selain menggunakan bahan alami tadi, dalam pembakarannya Kasim masih menggunakan kayu bakar.

 

"Saya masih menggunakan resep tradisional. Dari mulai bahan sampai pembakaran, semuanya masih tradisional," tambah dia.

 BACA  JUGA:

Menikmati Lezatnya Sego Sambel Iwak Pe Khas Surabaya di Tangerang

Soal tips membuat sorabi yang berkualitas, Kasim tak pelit berbagi resepnya. Menurut dia, sorabi yang bagus dapat terlihat dari bentuknya. Jika dibelah, akan terlihat pori-pori dengan diameter yang cukup besar. Jika banyak pori-porinya, maka sorabi ini bagus alias tidak bantat.

Untuk menghasilkan sorabi seperti itu, lanjut dia, harus diperhatikan mengenai kualitas tepungnya, cara menyampur adonan, hingga proses pembakaran adonannya. Anda penasaran dengan rasa sorabi ini, silahkan saja datang ke Rengasdengklok.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini