nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kena TBC sejak 1997, Binsar Baru Dinyatakan Sembuh pada 2012

Annisa Aprilia, Jurnalis · Rabu 21 Maret 2018 16:14 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 21 481 1875963 kena-tbc-sejak-1997-binsar-baru-dinyatakan-sembuh-pada-2012-3XdOiYJDax.jpg Binsar mantan pasien TBC (Foto:Aprilia)

KINI bibirnya bisa tersenyum dan kalimat yang keluar dari bibirnya bisa menginspirasi orang lain. Padahal sebelumnya pria berambut cepak itu sempat melewati masa-masa sulit selama bertahun-tahun dan berjuang sekuat tenaga melawan penyakit.

Pria yang bernama Binsar tersebut pernah mengidap Tuberkulosis Resisten Obat atau Multi Drug Resistan Tuberculosis (MDRTB) selama bertahun-tahun. Kisah perjuangan Binsar bermula pada 1997 tepatnya ketika ia masih duduk di bangku kelas dua Sekolah Teknik Mesin (STM) di Medan, Sumatera Utara.

BACA JUGA:

Manfaat Menakjubkan Puasa Dua Kali Sepekan untuk Kesehatan

Awal sakit tuberkulosis (TB)

"Awal kena itu tahun 1997 di Medan. Awalnya saya nggak tahu TB. Tapi, kondisi saya batuk terus, sampai akhirnya saya tidak bisa melanjutkan sekolah lagi karena sakit," tutur Binsar, dalam kesempatan temu media dalam rangka menjelang Hari Tuberkulosis Sedunia 2018 di Stasiun Kota, Jakarta Barat, Rabu (21/3/2018).

Melihat anaknya terus batuk dan kesehatannya menurun, orangtua Binsar pun membawa anak mereka ke klinik. Setelah diperiksa dan diberi obat yang tidak ia ketahui jenis dan namanya, Binsar pun rutin minum obat selama tiga bulan.

"Setelah saya merasa sehat dan kuat. Maka pengobatan tidak saya lanjuti. Saya berpikir untuk apa berobat lagi?" paparnya.

Selain alasan itu, pengambilan obat yang masih membutuhkan biaya cukup besar dan mesti sering dikonsumsi, menjadi alasan lain Binsar memghentikan pengobatannya. Ia pun lebih memilih untuk bekerja demi membantu perekonomian keluarga karena sudah putus sekolah.

Kembali kambuh dan batuk darah

Malangnya Binsar, setelah merasa di atas angin karena puas dengan hasil pengobatan yang belum dituntaskan, akhirnya pada 2009 ia kembali didiagnosa oleh dokter mengidap tuberkulosis. Bahkan, kali ini kondisi Binsar semakin memburuk, karena darah sudah mulai keluar bersamaan batuk.

"Tahun 2009 kambuh lagi, sampai batuk darah. Batuk darah banyak sekali, sampai orangtua saya pesimis, dan menganggap saya tidak bisa bertahan hidup," tuturnya.

Masih dalam kondisi yang minim. Pengetahuan tentang tuberkulosis dan cara penyembuhannya, Binsar pun kembali berobat dan setelah beberapa bulan kemudian kembali merasa sehat dan segar. Namun, pengobatan ternyata belum juga ia tuntaskan. Hingga pada bulan-bulan selanjutnya ditahun yang sama kesehatannya kembali memburuk dan kali ini Binsar dinyatakan oleh dokter mengidap tuberkulosis multi obat atau multi drug resistant tuberculosis.

 BACA JUGA:

Tekan Angka Kasus TBC Pemerintah Bagikan Masker Gratis di Stasiun Kota

"Lalu saya ke jakarta, titik didiagnosa tuberkulosis multi obat itu masih tahun 2009 dan batuk darah lagi. Tapi, saya tetap tidak mau berobat seperti anjuran dokter, karena saya harus bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga dan istri," jelasnya.

Keadaan Binsar yang masih sakit dan terus menurun membuat mertuanya menyarankan dia untuk pulang ke Solo kampung halaman istrinya. Saat berada di Solo pun Binsar kembali batuk darah lagi.

"Saya pun pindah lagi ke Medan, setibanya di sana saya merasa tidak kuat, kesehatan saya tidak terjadi perubahan, efek dari tidak menuntaskan pengobatan. Hingga pada akhirnya dokter memberitahu kalau saya positif multi drug resistant tuberculosis (MDRTB) dan menyarankan saya kembali ke jakarta untuk menuntaskan pengobatan karena hanya Jakarta dan Surabaya yang punya obatnya," jelas Binsar.

 

Kembali bersemangat untuk benar-benar sembuh

"Saya putuskan untuk benar benar sembuh karena merasa tidak seperti orang lain, saya bekerja sedikit sakit. Sesampainya di Jakarta, saya diperiksa dinyatakan MDRTB, lalu dirawat selama tiga hari untuk observasi," lanjutnya.

Selama menjalani pengobatan Binsar mengalami efek samping yang cukup mempengaruhi mentalnya. Efek samping tersebut, seperti halusinasi, kurang nafsu makan, merasa tertekan karena harus selalu minum obat dan disuntik. Namun, semangat Binsar untuk sembuh sudah bulat dan besar, maka ia bertekad meskipun batuk darah obat tetap ia konsumsi.

"Saya berkomitmen untuk sembuh hingga saya berhenti bekerja pada saat itu. Saya melakukan pengobatan selama tujuh bulan dan selama 1 tahun berhenti bekerja," kisah Binsar.

"Saya tetap optimis, mau sembuh dan normal, maka saya putuskan sekalipun darah keluar obat tetap saya minum," ucap Binsar dengan mantap dan semangat.

 BACA JUGA:

Kesalahan Menggosok Gigi Membawa Dampak Buruk Seumur Hidup

Jalan kaki dari rumah ke rumah sakit karena tidak punya uang

"Saya jalan kaki dari rumah ke rumah sakit sampai dikira orang gila sama orang, saya tidak peduli orang lain ngomong apa. Saya kuat karena ada istri dan keluarga yang mendukung, sampai saya dinyatakan sembuh," ungkapnya.

Kisah perjuangan Binsar untuk bisa sembuh dari tuberkulosis tepatnya MDRTB bisa ia lewati dengan penuh kesabaran. Meskipun banyak tantangan menghadang tekad untuk sembuh selalu ia jaga, sebab menurutnya tidak ada gunanya hidup jika sakit dan justru mencelakakan orang lain karena menularkan penyakit.

"Saya lebih memilih tidak ada daripada tidak sembuh, karena saya bisa menularkan dan menyakiti orang lain, jadi buat apa? Saya bisa mencelakakan banyak orang. Mereka akan sama seperti saya. Maka, apapun yang terjadi pengobatan akan saya tuntaskan, sekalipun ekonomi sulit saya rela jalan dari rumah ke rumah sakit. Hingga pada 2012 akhir Agustus saya dinyatakan sembuh oleh dokter. Dukungan keluarga dan istri tidak sia sia," pungkas Binsar.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini