Share

Hari Air Sedunia, Pelestarian Jadi Tantangan Tingkatkan Kualitas dan Kuantitas Air

Annisa Aprilia, Jurnalis · Kamis 22 Maret 2018 12:18 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 22 481 1876349 hari-air-sedunia-pelestarian-jadi-tantangan-tingkatkan-kualitas-dan-kuantitas-air-PAQp752wVl.jpg Ilustrasi (Foto: Zeenews)

MANUSIA bisa hidup di bumi salah satu faktornya karena adanya air yang berlimpah. Air memegang peranan penting bagi tubuh manusia yang dua pertiga bagiannya adalah air. Tanpa adanya air, manusia akan dehidrasi dan tidak bisa melanjutkan hidup.

Namun, seiring berjalannya waktu, kerusakan lingkungan dan perubahan iklim yang terjadi bisa memberikan dampak pada kualitas air yang ada di bumi. Akibatnya, kualitas dan kuantitas air menurun.

"Bagi kami, air memiliki peranan penting untuk kehidupan makhluk hidup dan karenanya kami selalu berupaya untuk menjaga kelestarian air dan lingkungan, salah satunya dengan menggunakan cara alamiah dengan memanfaatkan potensi alam untuk menyelesaikan tantangan terkait air," tutur Arif Mujahidin, Corporate Communications Director Danone Indonesia, Kamis (22/3/2018).

Solusi yang ditemukan ternyata sesuai dengan tema Hari Air Sedunia 2018 yang jatuh tepat hari ini, Kamis, 22 Maret 2018, yaitu Nature for Water yang artinya Alam untuk Air. Melalui konservasi air dengan memanfaatkan solusi ilmiah yang digabung dengan pembangunan infrastruktur bertujuan konservasi, diupayakan kualitas dan kuantitas air bisa kembali meningkat.

"SWAT atau yang dikenal sebagai piranti analisis air dan tanah ini memiliki beberapa manfaat, di antaranya membangun strategi perencanaan konservasi efektif. Dengan SWAT, kami dapat melakukan penanaman pohon dan konservasi sipil teknis yang tepat dan sesuai dengan kondisi lahan yang ada," kata Karyanto Wibowo, Sustainable Development Director Danone Indonesia.

Lebih lanjut, Karyanto juga menuturkan dengan SWAT pihaknya dapat menghitungkan dampak dari upaya atau praktik pengelolaan lahan, seperti menghitung tingkat resapan air ke dalam tanah, pengendapan tanah hingga penggunaan kimia dari praktik pertanian. SWAT juga bermanfaat untuk mempredikai risiko timbulnya bencana alam.

Adapun daerah yang dikonservasi di antaranya, Mekarsari dan Babakan Pari, Sukabumi. Bentuk konservasi yang dilakukan, seperti penanaman 580ribu pohon yang tersebar didelapan, yaitu Desa Pasawahan, Desa Tenjolaya, Desa Cisaat, Desa Kutajaya, Desa Jayabakti, Desa Tangkil, Desa Girijaya, Desa Cidahu, pembuatan kolam resapan air (water pond).

Selain itu, ada pula pembangunan pemanen air hujan, yaitu memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan pemenuhan air bersih di rumah ibadah, sekolah, dan rumah warga, pembuatan DAM resapan air, pembuatan 40 buah sumur resapan dengan kapasitas resapan sebesar 2.200meter kubik, tujuan dari sumur resapan ini agar dapat bermanfaat untuk mengimbuh sumur masyarakat dan mengurangi genangan atau banjir serta membantu menyuburkan tanah.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini