Share

Patut Dicontoh, Begini Cara Pemuda Marunda Turunkan Angka Kekerasan pada Anak

Vessy Frizona, Jurnalis · Jum'at 23 Maret 2018 22:15 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 23 196 1877176 patut-dicontoh-begini-cara-pemuda-marunda-turunkan-angka-kekerasan-pada-anak-Jw8JgZZiYy.jpg Cara pemuda Marunda turunkan angka kekerasan terhadap anak (Foto:Ilustrasi/Ist)

 

PADA 2016, pernah terkuak kabar mengejutkan yang datang dari Kelurahan Marunda, Jakarta Utara. Ketika itu ditemukan pelaku pedofil yang telah melakukan kekerasan seksual terhadap 30 anak.

Fajar, Ketua Pemuda Marunda menceritakan, kehidupan di Marunda yang berantakan membuat kejahatan biasa saja terjadi di sana. Seks bebas dan narkoba bukan pemandangan langka, tapi di mana saja ada.

"Saya dulu juga termasuk anak muda yang hidup bebas. Tapi saya bertekad untuk berubah setelah mendengar ada anak yang menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan orang dewasa," ungkap Fajar saat bercerita di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Jakarta Pusat, Jumat (23/3/2018).

BACA JUGA:

Menebak Nasib dari Garis Tangan, Ramalan Bintang hingga Pertanda Alam

Menurut Fajar, kekerasan seksual yang dilakukan orang dewasa terjadi di setiap cluster yang ada di rusun Marunda, bahkan di kampung-kampung sekitar. Pelakunya ada 3, mulai dari tukang martabak, tukang batu cincin, dan pengangguran. Seorang pelaku yang tinggal di rusun sering memanggil anak-anak usia SMP dan SD untuk main ke rusunnya. Anak-anak diiming-imingi jajan dan uang.

"Tau gak uangnya berapa? Cuma Rp2 ribu. Awalnya anak-anak dipanggil trus diajak nonton video porno ramai-ramai. Kemudian mereka diraba-raba dulu kelaminnya kalau mau dikasih uang dan jajan. Anak-anak enggak ada yang berani ngomong, soalnya mereka diancam," sambung Fajar.

Suatu ketika ada seorang anak yang berani melapor ke kakaknya. "Kakak anak itu teman saya. Perasaan saya ketika mendengar langsung marah. Soalnya saya juga punya adik, enggak rela kalau adik saya digituin. Saya berpikir, pasti itu terjadi karena pengaruh narkoba atau banyak anak-anak yang bebas berkeliaran di lingkungan. Akhirnya saja memutuskan untuk berubah dan ingin menjaga anak-anak di Marunda supaya enggak jadi korban," celotehnya.

Setelah kasus ditangani polisi, banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pemerintah yang masuk ke Marunda untuk memberi penanganan dan penyuluhan. Mereka membantu warga untuk keluar dari masalah ini.

"Sejak itu saya mengajak anak-anak muda lain bersama-sama menciptakan lingkungan yang postif di Marunda. Saya setuju kalau kegiatan postif akan mendorong anak muda Marunda untuk tidak nelakukan hal negatif," paparnya.

 BACA JUGA:

WIB

Cara Belajar Matematika Menyenangkan untuk Anak Usia 2 Tahun

Jadi, sambungnya, anak muda di sana diajak untuk melakukan hal mereka suka. Bermain musik, futsal, mengaji, atau ke masjid. Lalu orang dewasa yang menganggur diberi pekerjaan yang mereka bisa.

"Cara itu cukup ampuh. Apalagi pemuda di sana bekerja sama dengan karang taruna, tokoh warga, untuk membuat aturan. Anak-anak tidak boleh main di atas jam 8 malam. Saya yang juga bekerja sebagai keamanan di rusun Marunda selalu memantau anak-anak pada jam tersebut. Kami juga menyediakan posko untuk menerima laporan anak yang mengalami kekerasan," jelasnya.

Alhasil, bebernya, kekerasan terhadap anak di Marunda angkanya nol. Bukan saja kekerasan seksual. Tapi kekerasan fisik dan verbal sudah tidak ada. "Enggak ada ibu-ibu yang marah-marahin anaknya. Kalau anak muda ada melihat atau saya pas sedag lewat, kami berani menegur supaya ibu tidak membentak atau memukul anaknya," tukasnya.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini