nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tradisi Malam Makan Ketan Suku Lembak Bengkulu Sebelum Resepsi Pernikahan

Demon Fajri, Jurnalis · Jum'at 23 Maret 2018 12:17 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 23 298 1876899 tradisi-malam-makan-ketan-suku-lembak-bengkulu-sebelum-resepsi-pernikahan-01iTgLvv88.jpg Makan ketan di Bengkulu (Foto:Demon/Okezone)

 

INDONESIA memiliki beragam budaya dan adat istiadat. Termasuk, Provinsi Bengkulu. Di daerah ini sebelum melangsungkan resepsi pernikahan musti menghelat hajatan. Malam makan ketan, namanya.

Makan ketan salah satu rangkaian adat dalam suku Lembak yang merupakan malam berasan. Di mana hingga saat ini adat tersebut masih berlangsung setiap resepsi pernikahan. Khususnya, masyarakat Lembak.

Dalam masyarakat adat Lembak, makan ketan diadakan di rumah pengantin laki-laki terlebih dahulu. Di mana di rumah calon pengantin laki-laki, ketua adat memimpin mufakat Rajopenghulu untuk menetapkan kepanitian pelaksanaan acara peresmian pernikahan.

Lalu, ketua adat Rajopenghulu dan kaum ibu-ibu beserta kerabatan pengantin laki-laki berangkat menuju rumah pengantin perempuan untuk meresmikan pertunangan secara adat.

Malam itu Kota Bengkulu, cerah berawan. Jauh dari kata hujan. Tidak terkecuali di kediaman Setiawandi dan Siti Jalilah di jalan Nangka Kelurahan Panorama, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu. Rumahnya permanen, cukup besar.

Di depan rumahnya telah dihiasi pernak-pernik hiasan resepsi pernikahan, cantik dan menawan. Pernak-pernik itu di dekorasi sedemikian rupa. Di dinding, serta posisi lainnya pun juga telah dipenuhi hiasan. Sehingga suasana hajatan terlihat megah.

Tidak hanya pernak-pernik hiasan, di depan halaman rumahnya pun telah berjejer bangunan tenda. Tersusun rapi. Begitu juga dengan kursi. Termasuk di bagian jalan gang, persis di depan rumah calon pengantin. Terlihat mewah.

Setiawandi beserta istrinya Siti Jalilah, berniat melangsungkan pernikahan anak keduanya. Ahmad Rais idham Malik dan calon pengantin perempuannya, Katika Sari Dewi.

Ba'da salat Isya, pukul 20.01 WIB, kira-kira. Masyarakat setempat berangsur datang. Syara’, sanak saudara, kaum kerabat, penghulu adat atau ketua adat, misalnya. Mereka datang memenuhi undangan.

 BACA JUGA:

Konsumsi 5 Buah Ini agar Rambut Tumbuh Panjang Lebih Cepat

Tamu undangan, duduk di bagian dalam rumah dan teras rumah mengenakan pakaian agamis. Sebagian undangan duduk di kursi. Setelah tamu undangan berdatangan. Ketua adat membacakan persiapan dan urutan acara. Mulai dari pembuatan pangujung atau bala, penetapan organisasi upacara beserta personil yang bertugas saat resepsi pernikahan.

Usai membacakan susunan acara dan berbagai persiapan, tuan rumah menyajikan menu makanan dan minuman. Ketan, namanya. Serta makanan pendukung lainnya. Di mana nasi ketan itu telah dimasak tuan rumah dengan melibatkan masyarakat setempat dan sanak saudara.

Di malam berasan itu, makanan yang disajikan berupa ketan berkuah atau dikenal nasi ketan dengan kuah yang dimasak dari santan dan gula merah atau aren. Namun, bisa juga menyajikan ketan berinti atau intinya gula merah campur kelapa.

Ketan berkuah, biasanya diterapkan di daerah Kelurahan Tanjung Agung, Semarang, Surabaya, Jembatan Kecil, Panorama, dan Kelurahan Dusun Besar di Kota Bengkulu.

Tokoh masyarakat Lembak Kota Bengkulu Usman Yasin, mengatakan dinamakan malam makan ketan, jamuannya berupa nasi ketan berkuah atau ketan berinti. Di mana acara ini berlangsung di rumah kedua belah pihak calon pengantin yang berasal dari suku Lembak.

Selain itu, terang Usman, pada malam makan ketan utusan dari keluarga laki-laki datang ke pihak perempuan untuk menyampaikan uang hantaran. Hantaran ini dilengkapi dengan perangkat sirih dan bunga. Sirih bujang dibawa pihak laki-laki dan sirih gadis yang menunggu di rumah pihak perempuan.

Rangkaian sirih ini, jelas Usman, ditata sedemikian rupa. Di mana untuk sirih bujang, tujuh tingkat dan sirih gadis, lima tingkat. Kedua bunga ini kemudian disandingkan untuk kemudian ditukar.

''Acara makan ketan masih tetap dilaksanakan. Tetapi pada rangkaian sirihnya mengalami perubahan. Rangkalan sirih ini hanya dibuat ala kadarnya atau tidak bertingkat-tingkat,'' kata Usman, Rabu 21 Maret 2018, malam.

Usman mengulas, pada masa terdahulu dalam berasan atau malam makan ketan ditentukan juga bila kerja (kerje/bepelan, bahasa lembak) akan dilangsungkan di balai. Sehingga masyarakat setempat secara bersama-sama membuat balai.

''Di balai itu ada tempat pengantin beristirahat. Mulai dari tempat duduk, tempat pakaian dan istirahat. Dengan dibatasi antara tempat pengantin yang satu dengan yang lain,'' ulas Usman.

 

 BACA JUGA:

Sarapan Sehat & Lezat dengan Sup Dadar Gulung Plus Cumi Jagung Muda

Selanjutnya, terang Usman, beberapa hari berikutnya masyarakat mulai mendirikan pangujung atau tenda. Pendirian itu dibangun secara bersama dengan melibatkan masyarakat setempat dan sanak saudara.

''Pembuatan pangujung pada masa lalu memiliki ciri tersendiri. Jika ahli rumah memotong sapi atau kerbau pangujungnya berbubung. Jika hanya memotong kambing atau ayam dan sebagainya maka pangujung tidak berbubungan,'' ulas Usman mengakhiri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini