nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Apresiasi Pasien Kanker dengan Berbagi Rambut dan Ikut Sadari

Dewi Kania, Jurnalis · Jum'at 23 Maret 2018 15:34 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 23 481 1876991 apresiasi-pasien-kanker-dengan-berbagi-rambut-dan-ikut-sadari-HjdUwmDOQe.jpg Ilustrasi (Foto: Breasthealthandhealing)

SEMANGAT para pasien kemoterapi akibat kanker harus selalu dibangkitkan. Hal itu agar membuat pasien terus berjuang sembuh dari penyakitnya.

Kondisi yang dikeluhkan pasien yang menjalani kemoterapi yakni kebotakan pada rambut yang membuat rasa percaya dirinya menurun. Padahal, itu adalah salah satu efek samping pengobatan yang wajar terjadi.

Karena itu, supaya mereka bisa semakin semangat melakukan pengobatan hingga tuntas, tak ada salahnya sebagai sesama Anda berbagi rambut. Banyak upaya yang bisa dilakukan agar para pengidap kanker merasa dihargai.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia Prof Dr dr Aru Wicaksono Sudoyo SpPd-KHOM menyerukan kepada siapa saja agar ikut serta menyumbangkan rambutnya. Setiap pasien, baik mental dan fisiknya harus selalu didukung agar tetap bangkit.

"Siapapun boleh menyumbang rambutnya guna menghargai pasien kanker, terutama kalangan wanita," ujarnya lewat pesan elektronik yang diterima Okezone, Jumat (23/3/2018).

Aksi tersebut dinamai dengan hair to share, yang mana kaum perempuan mulai usia remaja dan dewasa diajak untuk menggunduli rambutnya, sebagai tanda apresiasi kepada pengidap kanker. Beberapa tahun sebelumnya, banyak kegiatan serupa yang digagas selebriti. Kegiatan ini pasti membuat seseorang bisa ikut membahagiakan penderita penyakit ganas itu.

Setiap perempuan yang rela menggunduli rambutnya sama dengan mendukung mental pasien. Terlebih, beban pasien ketika menjalani kemoterapi jadi terasa ringan dan mereka lebih dihargai. Umumnya, pasien yang menderita penyakit kanker payudara dan kanker serviks merasa jatuh mental, ketika menjalani tahap kemoterapi.

Tak sekedar berbagi rambut, sejak dini para remaja perempuan juga harus mengenal cara deteksi dini mencegah penyakit kanker. Sejak dini, mereka harus belajar teknik periksa payudara sendiri (Sadari).

Sadari, menurut Prof Aru, wajib dipraktikkan setiap satu bulan, setelah hari ke-7 usai menstruasi. Kebiasaan ini tidak boleh dilewatkan agar kondisi kesehatan payudara seorang perempuan, terdeteksi secara teratur.

"Banyak manfaat Sadari dan setiap perempuan sejak remaja harus kenal," tuturnya.

Dijelaskan lebih lanjut, Sadari fungsinya dilakukan untuk mendeteksi benjolan aneh di sekitar dada perempuan. Karena pada awalnya, gejala penyakit kanker ganas ini sulit dikenali pasien awal.

Sementara itu, kegiatan Sadari juga harus selalu dilakukan dengan tepat tekniknya. Jika tidak, suatu saat bila perempuan terdeteksi penyakit akibat serangan sel kanker ganas ini akan terlambat dideteksi.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini