Menikmati Mi Godog dengan Nuansa Jawa

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 26 Maret 2018 12:38 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 26 298 1877903 menikmati-mi-godog-dengan-nuansa-jawa-uSAI4cGyVA.jpg Ilustrasi mi godog (foto: Kuliner123)

JIKA Tiongkok bangga dengan mi bihun, Italia dengan spageti, dan Korea dengan ramyeon, Indonesia juga patut bangga dengan bakmi jawa. Meski bahan pokoknya sama-sama tepung, penggunaan rempah-rempah khas Nusantara membuat aroma, rasa, dan kekenyalan bakmi jawa terasa lebih menggoda. Bakmi jawa yang asli sudah jarang ditemukan, sekalipun di daerah Jawa sendiri, seperti di Yogyakarta.

Namun, ada satu warung yang masih mempertahankan resep leluhur dan mengagungkan adat serta budaya lokal, yakni Bakmi Jawa Mbah Gito. Pencarian warung Bakmi Jawa Mbah Gito sedikit sulit. Sebab, selain berada di pedalaman dan di tengah permukiman warga, warungnya tidak menonjol seperti restoran modern yang menampilkan reklame iklan, logo, ataupun tulisan superbesar.

Gaya arsitektur yang tradisional seakan menyarukan predikatnya sebagai warung bakmi. Warung Bakmi Jawa Mbah Gito sangat unik dan akan membawa kita ke zaman dulu. Tiang, meja, kursi, saung, serta biliknya 100% terbuat dari kayu hutan yang bermacam-macam.

Topeng-topeng Jawa dengan berbagai karakter, lonceng, padi kering, sangkar burung, dan wayang dipajang menggantung atau dipaku di palang kayu. Di beberapa tiang yang berdekatan dengan kasir, KORAN SINDO melihat pahatan wajah-wajah presiden Republik Indonesia, mulai Soekarno hingga Joko Widodo.

Setiap informasi atau petunjuk juga ditulis menggunakan bahasa dan aksara Jawa, meski sebagian beraksara latin. Pramusajinya pun mengenakan pakaian adat lurik. Menu utama yang ditawarkan warung Bakmi Jawa Mbah Gito ada banyak, mulai mi godog hingga rica ayam kampung.

Pada kesempatan itu, KORAN SINDO hanya memesan migodog yang disebut-sebut sebagai menu andalan dan mi asli orang Jawa plus susu jahe. Harga satu porsi mi godog Rp22.000 dan susu Rp9.000. Penyajian empat porsi mi godog untuk empat orang berlangsung cukup lama, kendati pada saat itu pengunjung hanya sedikit.

Namun, hal ini dapat dimaklumi. Pasalnya, mi godog dimasak satu persatu di atas tungku tanah liat dan api arang. Pemisahan pemasakan itu dimaksudkan agar cita rasa mi godog tetap terjaga. Di atas mi godog terdapat taburan bawang goreng, seledri, bawang daun, kol, telur bebek, irisan daging ayam, dan tomat.

Kuahnya agak asin bercampur rasa segar beraroma rempah-rempah dan daging. Minya kenyal di lidah, dagingnya empuk, dan telurnya lezat. Mi jawa sangat nikmat dicicipi dalam keadaan hangat. Bagi yang sering makan mi instan, kuah mi jawa asli Mbah Gito akan terasa lebih hambar, mengingat tidak dimasukkannya penyedap rasa monosodium glutamate (MSG).

Pengunjung dapat menambah kadar garam dengan garam yang sudah disediakan di setiap meja, juga jika mau dengan merica bubuk atau kecap manis. Kalau ingin bersantap di sini, siapkan kocek antara Rp10.000-40.000 untuk menu makanan dan Rp6.000-12.000 untuk menu minuman.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini