nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BPJS Akan Cabut Jaminan Trastuzumab, Obat Terapi Kanker Payudara Paling Efektif

Annisa Aprilia, Jurnalis · Selasa 27 Maret 2018 16:26 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 03 27 481 1878607 bpjs-akan-cabut-jaminan-trastuzumab-obat-terapi-kanker-payudara-paling-efektif-orYNe92kMm.jpg Ilustrasi (Foto: Cloudfront)

HARAPAN pengidap kanker payudara yang sedang melakukan perawatan tengah terombang-ambing. Obat trastuzumab yang dinilai ampuh dan selama ini dijamin BPJS dikabarkan akan dicabut jaminannya.

Tentu kabar tersebut sontak membuat organisasi pasien kanker termasuk Komisi IX terkejut. Pasalnya, langkah BPJS menimbulkan pertanyaan dan kekecewaan besar di kalangan kedokteran, organisasi pesien kanker, keluarga pasien, dan tentu pasien itu sendiri.

"Dengan adanya BPJS pasien membeludak, waktu direncanakan pembuatan BPJS semuanya based on data. Setelah itu dibuat anggaran lihat tren lima tahun terakhir, ternyata ketika itu dibuka dan dicover semua, semua pasien keluar dari persembunyian dan membeludak," tutur Shanti Persada dari Love Pink, dalam acara Peluncuran Asosiasi Advokasi Kanker Perempuan Indonesia (A2KPI), di Auditorium Siwabessy, Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (27/3/2018).

Lanjut Shanti, BPJS yang semula menjamin semua obat-obatan pasien kanker, terutama kanker payudara, kini kabarnya akan ada obat yang tidak lagi dijamin biayanya. Padahal, obat yang bernama trastuzumab tersebut merupakan obat yang paling efektif.

"Ada obat yang tidak akan lagi dicover, sampai saat ini trastuzumab emang itu obat yang paling efektif. Jadi si pasien kan kaget apalagi yang sedang treatment. Dari mulai situ bergejolak, akhirnya keluar isu lain," lanjutnya.

Masih dalam kesempatan yang sama, turut pula hadir Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Syamsul Bachri. Ia mengungkap telah mendengar kabar obat trastuzumab akan dicabut jaminannya oleh BPJS.

"Salah satu obat yang dibutuhkan oleh masyarakat penderita kanker dihapus dari daftar yang ditanggung BPJS, tentu Komisi IX ingin mempertanyakan kenapa BPJS tidak lagi menanggung obat yang dibutuhkan masyarakat," ucapnya.

Namun, ternyata Komisi IX mendengar kabar tersebut justru dari pihak lain dan bukan dalam sebuah pernyataan resmi dari BPJS. Akhirnya, esok direncanakan Komisi IX DPR RI, Menteri kesehatan, dan BPJS akan bertemu untuk membahas hal tersebut.

"Informasi awal yang kami terima itu dari luar, tidak resmi. Katanya berdasarkan saran dari sebuah dewan, yang mengatakan ini tidak signifikan, dan mendapat reaksi dari masyarakat. Oleh karena itu kami tentu ingin mendapatkan penjelasan yang clear mengapa itu dilakukan BPJS, untuk itu besok kami akan perbincangkan dengan BPJS dan Menteri Kesehatan," ungkapnya.

Di sisi lain, Shanti sebagai perwakilan dari organisasi pasien kanker akan terus berjuang demi kesembuhan pasien-pasien kanker. Sebab, menurutnya tidak sedikit pula pasien yang mengonsumsi obat trastuzumab tersebut.

"Kita akan terus berjuang karena penyintas kita banyak yang pakai obat itu, kalau ada obat yang sama efektifnya, asal dijelaskan pada kita nggak apa-apa. Tapi kalau penggantinya tidak lebih bagus, ya kita lebih pilih trastuzumab. Apapun obatnya asal lebih efektif ya tidak apa-apa, tapi ajak kita sebagai user dalam memutuskan," tegasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini