nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menjadi Instruktur Zumba Kini Jadi Pilihan Karier yang Menyenangkan bagi Wanita

Vessy Frizona, Jurnalis · Kamis 29 Maret 2018 04:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 28 196 1879327 menjadi-instruktur-zumba-kini-jadi-pilihan-karier-yang-menyenangkan-bagi-wanita-JE2Y2uEFXn.jpg Ilustrasi (Foto: Sheknows)

APAKAH wanita benar-benar harus memilih antara karir profesional dan keluarga seutuhnya? Meskipun kita berada di abad ke-21, saat ini wanita yang memilih karir, pada akhirnya masih sering diharapkan berperan sebagai seorang ibu dan istri untuk mengurus keluarga.

Anak perempuan harus mengurus keluarga. Menikah atau tidak wanita harus terlibat dalam urusan keluarga. Jika berkarier adalah cara lain untuk meningkatkan kondisi keuangan, apakah wanita bisa melakukan keduanya sekaligus?

Dalam bekerja, wanita selalu diharapkan berada di kantor dari jam 9 sampai 5 sore. Namun, kini keadaannya telah berubah, terkadang wanita harus mengahbiskan waktu lebih dari itu. Tapi yang perlu diingat karir tidak hanya untuk pekerja kantoran.

Perempuan, atau bahkan siapapun, dapat membangun karir yang sukses tanpa harus menghabiskan 9 jam sehari atau lebih di depan meja.

Kunci kesuksesan tidak dilihat dari berapa banyak waktu yang dihabiskan seharian untuk bekerja, namun seberapa banyak dedikasi yang Anda kerahkan dalam usaha itu.

Hal ini pun sempat menjadi dilema bagi Sandra Bella Nirvana, seorang Zumba Instructor Network atau instruktur zumba yang sekaligus seorang pendiri dari Nirvana Life Indonesia. Sandra Bella, yang berumur 30 tahun, mendirikan Nirvana Life Indonesia, penyedia jasa Trainer di Perusahaan Perusahaan BUMN dan Swasta di Indonesia sejak 2016 miliknya sendiri.

“Saya pernah mengalami masa-masa sulit di hidup saya saat saya bekerja sebagai Managing Director di sebuah perusahaan dan dalam waktu yang bersamaan saya harus merawat ibu saya yang sedang berjuang melawan kanker. Saat itu saya membutuhkan pekerjaan yang dapat mendukung finansial saya dan ibu, namun bekerja full-time mengharuskan saya meninggalkan ibu saya, yang seharusnya saya selalu ada disampingnya,” ujar Sandra dari siaran pers.

“Saya juga merasa kurang percaya diri dengan berat badan saya saat itu, yang membuat saya lebih stres,” sambungnya .

Orang terdekatnya lah yang akhirnya mengenalkannya dengan salah satu tempat gym di Jakarta untuk menghilangkan stress, menurunkan berat badan, sekaligus memperluas pertemanan saya untuk keperluan bisnis.

“Awalnya, saya juga berpikir bahwa ini kesempatan yang baik untuk memperluas jaringan bisnis saya. Namun, rasanya seperti ada secercah harapan. Saya ingin menjadi instruktur yang seperti itu,” ujar Sandra.

Instruktur yang dimaksud adalah Olivia Febriani, seorang Zumba Education Specialist (ZES) di Indonesia. Dia tidak hanya seorang instruktur yang baik, namun sebagai seorang ZES, ia memiliki tanggung jawab untuk mensertifikasi atau mengajar instruktur zumba baru.

“Dia sosok yang menginspirasi bagi saya. Mulai dari gerakan dia saat mengajar kelas zumba, sampai menjadi seorang ZES, Olivia lah yang telah memotivasi dan mengajak saya untuk menjadi seorang instruktur,” lanjut Sandra.

Mengambil tantangan tersebut, Sandra berlatih secara intensif, dan usahanya pun berbuah hasil. Sandra pun berhasil menurunkan 40kg sekaligus mendapatkan sertifikat mengajar dari kelas zumba pada 2014.

“Melalui karir saya di zumba, tidak hanya membantu dari segi finansial untuk saya dan keluarga, namun juga dapat menyeimbangan antara kesehatan dan kehidupan personal mengajar kelas zumba dan marawat ibu saya. Ini rasanya seperti hobi yang dibayar,” Sandra menambahkan.

Seperti Sandra, kebanyakan instruktur zumba memilih mengajar sehari 2 sampai 3 kali, yaitu pagi jam 9, sore jam 5 dan malam jam 7 dengan banyak pilihan waktu dan lokasi. Dengan waktu mengajar yang hanya memakan waktu satu jam, banyak waktu luang yang perempuan dapat manfaatkan untuk mengurus keluarga ataupun melakukan hobi atau pekerjaan lain.

Contohnya, Sandra pernah bertemu seorang instruktur zumba yang juga seorang pengendara ojek online. “Saya tidak pernah merasa begitu termotivasi sepenuhnya sepanjang hidup saya. Setelah saya berkeliling ke beberapa negara, di Asia, Eropa, China dan Australia. Saya memiliki tim saya sendiri. Saya memiliki banyak waktu luang untuk saya, keluarga dan teman – teman saya,”tukasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini