nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cara Tepat Menangani Anak Down Syndrome

Annisa Aprilia, Jurnalis · Rabu 28 Maret 2018 14:27 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 28 481 1879046 cara-tepat-menangani-anak-down-syndrome-BTRsn3TFcD.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

DIKARUNIAI seorang anak merupakan anugerah dari Tuhan. Tapi, jika anak yang dititipkan pada Anda memiliki keistimewaan seperti sindroma down atau yang lebih sering disebut down syndrome, masihkah Anda bersyukur? Jawabannya harus!

Anda tidak perlu lagi kebingungan untuk mencari informasi atau tempat perawatan bagi anak dengan sindroma down. Pasalnya, di Jakarta sudah banyak terdapat rumah sakit, tempat terapi, dan komunitas orangtua dengan anak sindroma down.

Bagi ibu hamil sebaiknya rutin memeriksakan kehamilan, agar dapat mengetahui perkembangan janin, dan bisa mengantisipasi serta mengambil langkah selanjutnya jika memang mengalami kelainan. Jika sudah terdiagnosa mengidap sindroma down, sebaiknya ibu harus mulai rajin mencari informasi terkait kelainan tersebut.

 (Baca Juga: 10 Hal yang Terjadi pada Tubuh Anda saat Stres)

"Kalau sudah ditegakkan diagnosisnya anak sudah harus mulai melakukan perawatan dan terapi. Adapun terapi yang harus dilakukan, seperti fisioterapi, rehabilitasi medik, terapi wicara, terapi okupasi, dan seterusnya," papar Dr. Luh K. Wahyuni, SpRM(K), dalam acara peringatan Hari Sindroma Down Sedunia 2018, di RSIA kiara RSCM, Jakarta, Rabu (28/3/2018).

Semua terapi itu harus dilakukan oleh anak dengan dampingan orangtua khsusunya ibu, agar anak bisa merasakan hidup seperti anak yang lain. Luh juga melanjutkan, ada beberapa kemampuan dasar yang harus bisa dilakukan anak dengan sindroma down, yang harus dilatih sejak dini dan bisa menolong hidupnya sendiri atau bisa hidup mandiri.

"Pertama, anak harus mampu berkomunikasi, karena menjadi dasar bagi mereka untuk bisa berinteraksi. Kedua, bisa melakukan aktivitas sehari-hari, mampu menolong diri sendiri. Ketiga, mampu bermain seperti anak yang lain, seperti main sepak bola, berenang, bermusik, menari. Keempat, bersekolah," lanjut Luh.

  (Baca Juga: Rutin Lakukan Manikur Berisiko Kanker Kulit, Benarkah?)

Untuk dapat berkomunikasi dengan orang sekitar, anak sindroma down memerlukan fungsi penglihatan dan pendengaran yang baik, jadi penanganannya harus dilakukan oleh tim dokter ahli yang tidak bisa bekerja secara individu. Sementara, untuk anak yang sudah masuk usia sekolah, harus diperiksa oleh tim ahli terlebih dahulu untuk bisa ditentukan masuk di sekolah apa, karena akan disesuaikan dengan kemampuan kecerdasan (IQ) anak.

"Kita berharap anak bisa mandiri, anak juga perlu belajar, tapi tidak selalu belajar di sekolah, karena belajar pun dimulai dari ibu. Selain terapi, ibu harus mengulangnya di rumah, ibu harus jadi guru dan terapis yang baik, ibu harus terus belajar juga dalam merawat anaknya," imbuhnya.

Lebih lanjut, menurut penuturan Luh, dalam perjalanannya anak dengan sindroma down mempunyai modal masing-masing, tidak ada satu anak yang sama kemampuan dan kondisinya. Tugas tim kesehatan dan orangtua hanyalah menemukan modal yang bisa dikembangkan dalam diri anaknya.

  (Baca Juga: Mau Gigi Tetap Sehat? Hentikan Kebiasaan-Kebiasaan Mengasyikkan Ini!)

"Ada tiga vitamin untuk orang tua yang memiliki anak dengan sindroma down, yaitu vitamin C yang artinya cinta, vitamin S yaitu sabar, dan vitamin K yang berarti kreatif. Orang tua perlu kreatif untuk menyiasati cara menghadapi anak, karena tidak mudah," tuturnya.

Jadi, kesimpulannya menurut Luh, semuanya perlu proses belajar, tiap anak bisa memiliki pencapaian yang tidak sama. Sekolah anak juga berbeda sesuai dengan keadaannya, yang sebelumnya diperiksa dulu modal anak. Ada beberapa jenis sekolah luar biasa, seperti SLB A untuk anak yang tunanetra, SLB B khusus bagi anak tunarungu, SLB C untuk anak mengalami tunagrahita dengan disabilitas inteligensi di bawah rata-rata, SLB D bagi anak tunadaksa, dan lainnya.

"Ada mitos anak dengan sindroma down, tidak bisa memiliki hubungan (asmara). Itu tidak benar, karena mereka pun memiliki rasa senang dan sedih yang sama. Faktanya anak dengan sindroma down bisa menikah, berkencan, dan bahkan memiliki anak. Anak perempuan dengan sindroma down juga bisa melahirkan anak normal dan mengurus bayinya secara mandiri," papar Luh.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini