nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini 6 Penyebab Utama Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 28 Maret 2018 16:41 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 28 481 1879165 ini-6-penyebab-utama-angka-kematian-ibu-dan-bayi-baru-lahir-9NEGUEm1yS.jpg Ilustrasi (Foto: Theblaze)

ANGKA kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia hingga kini masih jauh dari target yang ditetapkan oleh PBB. Millennium Development Goals (MDGs) menargetkan jika angka kematian ibu dan bayi baru lahir adalah 102/100.000 kelahiran. Sedangkan menurut laporan, di negeri ini hingga 2017 angka kematian ibu dan bayi baru lahir sekira 259-305/100.000 kelahiran.

Angka tersebut memang masih terbilang tinggi. Terlebih penurunannya pun tidak signifikan setiap tahun. Sebenarnya banyak faktor yang berperan dalam angka kematian ibu dan bayi baru lahir seperti bayi lahir prematur, pernikahan usia dini, jumlah kehamilan yang terlalu banyak, dan lainnya. Namun sayangnya belum ada bukti spesifik yang menjelaskan faktor penyebab tersebut.

Melihat kondisi itu, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) berusaha melakukan penelitian berdasarkan data untuk menguak penyebab angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Penelitian yang bertajuk Evidence Summit itu juga bertujuan untuk membantu proses penurunan angka kematian. Penelitian berlangsung selama Juni 2016-Maret 2018 dan menelusuri lebih dari 7.000 literatur.

 (Baca Juga: Sering Diabaikan, Jamban yang Bersih Penting untuk Cegah Stunting)

Menurut ketua tim penelitian, Prof. DR. dr. Akmal Taher, SpU (K), literatur selanjutnya dikelompokkan sesuai persyaratan.

"Jadi sebenarnya yang kita kerjakan adalah membagi dulu faktor-faktor apa saja yang diduga memengaruhi angka kematian ibu. Itu ada kualitas pelayanan, kedua kita lihat tentang sistem referalnya sistem rujukannya jalan atau enggak, ketiga kita lihat faktor JKN berpengaruh atau enggak, keempat kita lihat tentang pengaruh terkait kebijakan pemerintah daerah tentang aturannya di daerah masing-masing," ungkapnya saat ditemui usai pemaparan hasil penelitian Rabu (28/3/2018) di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat.

Kemudian ternyata ada faktor lain yang ikut berpengaruh yaitu faktor budaya dimana tim peneliti menemukan bukti bahwa masih banyak daerah yang perempuannya tidak bisa memutuskan sendiri terkait kondisi kehamilannya. Selain itu, pernikahan dini juga menjadi salah satu faktor yang ikut andil. Berdasarkan pemaparan hasil penelitian, berikut penyebab utama angka kematian ibu dan bayi baru lahir:

  (Baca Juga: Ibu, Perhatikan 4 Hal Ini Agar Tumbuh Kembang Buah Hati Optimal)

1. Masih ada kesenjangan akses terhadap pelayanan kesehatan berkualitas, yang berhubungan erat dengan kondisi ekonomi dan sosial.

2. Keterlambatan mendapat pertolongan pada keadaan darurat, yang berhubungan dengan lokasi kelahiran dan proses pengambilan keputusan untuk mencari pertolongan tenaga ahli

3. Pengetahuan tentang pendidikan kesehatan reproduksi yang belum memadai.

4. Deteksi awal dan upaya pencegahan yang belum maksimal untuk penyakit komplikasi kehamilan, seperti malaria, tuberculosis, hepatitis B, diabetes melitus, jantung, dan obesitas.

5. Belum terpadunya data dan sistem informasi kesehatan yang berpengaruh pada pengambilan kebijakan.

6. Regulasi yang tumpang tindih dan bias gender, contohnya UU Perkawinan No.1/1974 yang mengatur usia pernikahan minimal 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki.

"Permasalahan kematian ibu dan bayi memiliki penyebab yang kompleks, sehingga upaya penurunannya memerlukan kolaborasi dari berbagai sektor seperti profesional di bidang kesehatan, pemerintah, dan masyarakat," ujar Ketua AIPI, Prof. Sangkot Marzuki saat ditemui dalam kesempatan yang sama.

Di sisi lain, Menteri Kesehatan RI Nila F. Moeloek menyambut baik penelitian tersebut. "Menurut saya bagus, jadi gini artinya, 'kan kita bicara data mereka kaji dari paper evidance base, dilihat di mana kekurangan-kekurangannya. Saya lihatnya tadi dua, satu untuk riset ada yang kita kurang perhatikan padahal penting sehingga bisa mendorong fakultas melakukan riset atau Menristekdikti. Kedua keputusan penelitian untuk jadi kebijakan itu betul, kita jangan bikin keputusan atau regulasi yang tidak berbasis data," pungkasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini