nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gunung Everest Jadi Rangkaian Terakhir 2 Wanita Indonesia Gapai Seven Summits Dunia

Annisa Aprilia, Jurnalis · Kamis 29 Maret 2018 11:22 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 29 406 1879524 gunung-everest-jadi-rangkaian-terakhir-2-wanita-indonesia-gapai-seven-summits-dunia-ZATpkKSdLj.jpg Fransiska dan Mathilda di Istana Negara (Foto: Annisa Aprilia/Okezone)

DUA wanita hebat Indonesia yang telah memulai misi mendaki tujuh puncak gunung tertinggi di belahan dunia akhirnya tiba pada puncak terakhir. Gunung Everest menutup rangkaian misi Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari yang tergabung dalam tim The Women of Indonesia's Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU) yang kibarkan bendera Merah Putih di puncak tertinggi di dunia.

Fransiska dan Mathilda merupakan dua wanita muda yang masih berusia 24 tahun dan mahasiswi dari Universitas Parahyangan, yang juga tempat Miss Indonesia 2018 Alya Nurshabrina menimba ilmu. Sebelumnya, Fransiska dan Mathilda telah berhasil mencapai enam puncak gunung tertinggi di enam lempeng dunia, yaitu Gunung Cartensz Pyramid (4.884 mdpl), Gunung Elbrus (5.642 mdpl), Gunung Kilimanjaro (5.895 mdpl), Gunung Aconcagua (6.962 mdpl), Gunung Vinson Massif (4.892 mdpl), dan Gunung Denali (6.190 mdpl).

Misi Fransiska dan Mathilda tersebut telah dimulai sejak empat tahun lalu dan keduanya akan berangkat menuju Gunung Everest pada Kamis, 29 Maret 2018. Meskipun Fransiska dan Mathilda bukanlah warga Indonesia yang pertama mendaki Gunung Everest, namun keduanya adalah dua orang wanita pertama Indonesia yang akan segera menginjakkan kaki di puncak Gunung Everest.

 (Baca Juga: Serunya Jelajah Wisata Budaya ke Istana Maimun Sumatera Utara)

"Semua pengalaman yang telah kita dapat selama empat tahun melakukan ekspedisi ini. Kami merasa cukup siap untuk melaksanakan ekspedisi terakhir ini," kata Mathilda, dalam acara #dengaryangmuda Perempuan Indonesia di Puncak Dunia, di Aula Sekretariat Negara Republik Indonesia Gedung 3, Jakarta, Kamis (29/3/2018).

"Inspirasi itu menular, kami contohnya yang terinspirasi atas pencapaian pendaki sebelumnya. Pencapaian ini kami tujukan murni untuk Indonesia, khususnya kami hadiahkan untuk ibu yang telah melahirkan kami," Sebastian Prasetyo, General Manager The Women of Indonesia's Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU).

 

(Foto: ina7summits/Instagram)

Gunung Everest merupakan titik tertinggi yang ada di bumi, dengan catatan elevasi 8.848 meter di atas permukaan laut. Ketinggian Everest hampir sama dengan menumpuk dua Gunung Carstensz, gunung tertinggi di Indonesia.

"Kilimanjaro treknya tidak membosankan karena berbeda-beda, hutan hujan tropis baru sampai ke atas ada es. Gunung Denali tantangan yang paling berat bawa barang bawaan sendiri karena enggak ada porter di sana. Nanti berangkat ke Everest deg-degan banget, seneng, ada takutnya juga," ungkap Mathilda.

"Perjalanan menuju puncak Gunung Everest akan memakan waktu 57 hari. Tantangannya melewati death zone, oksigen hanya 30 persen, makanya kami akan pakai oksigen juga. Kami juga sudah mampersiapkan fisik sejak empat tahun lalu, mencari tahu tantangan apa saja di Everest, kami telah melakukan persiapan 30 persen fisik, 30 persen persiapan mental, 30 persen persiapan peralatan, 10 persennya doa," tutur Fransiska.

  (Baca Juga: Dulu Dipanggil 'Babi', Kini Perempuan Asal Filipina Ini Bak Model Cantik)

Pendakian Everest ini tentu memiliki tantangan yang lebih banyak dan besar dibandingkan dengan gunung-gunung yang sebelumnya didaki. Pasalnya, oksigen di ketinggian berkurang menjadi hanya sepertiga dibandinhkan dengan yang bisa dihirup dengan bebas sekarang.

"Badan terasa amat dingin. Napas menjadi amat berat. Jalan satu langkah membutuhkan empat kali pengambilan napas," ucap Frans, salah satu Seven Summiters Indonesia yang pernah mendaki Gunung Everest.

Tipisnya oksigen yang sudah mulai dirasakan oleh Frans kala itu di area sekitar Camp 3 yang berada di ketinggian sekira 7.200 mdpl, sebelum mencapai ketinggian 8.000 meter. Suhu rendah juga jadi tantangan bagi Fransiska dan Mathilda, karena suhu udara di pucuk bumi tersebut bisa mencapai hanya sekira -20 derajat celcius.

"Waktu itu saya ketemu mereka sudah mendaki enam gunung. Itu suatu prestasi yang hebat karena belum tentu kita bisa dan punya kesempatan tersebut," tutur Diaz Hendropriyono, Staf Khusus Presiden.

Di musim dingin pada Januari, suhu di puncak Everest bisa mencapai -60 derajat celcius. Pada musim panas yang merupakan musim pendakian, suhu udara di pucuk bumi ini hanya sekira -20 derajat celcius menambah tantangan lebih bagi pendaki, apalagi yang berasal dari daerah beriklim tropis seperti Indonesia.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini