nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengalami Peningkatan, Industri Kopi Indonesia Masih Jauh di Bawah Vietnam

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 02 April 2018 14:42 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 02 298 1880985 mengalami-peningkatan-industri-kopi-indonesia-masih-jauh-di-bawah-vietnam-5YOhfKr9PK.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

PERKEMBANGAN industri kopi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memang mengalami peningkatan yang sangat pesat. Hal ini ditandai dari bertambahnya kedai kopi yang tersebar di seluruh daerah. Dilihat dari data statistik, Ibu Kota Jakarta masih menjadi tuan rumah terbesar dengan kurang lebih 3.000 kedai kopi yang aktif beroperasi hingga kuartal pertama tahun 2018.

Namun sayangnya, masih banyak kendala dan permasalahan yang harus segera ditangani pemerintah Indonesia guna memajukan industri kopi yang nyaris terlupakan ini. Padahal, menurut Moelyono Soesilo, selaku Founder/Commissioner Viva Barista, kopi sebetulnya bisa menjadi komoditas utama karena berpotensi mendatangkan devisa negara.

"Kopi sebetulnya emas hitam yang terlupakan. Pada zaman penjajahan Belanda, harga kopi itu sama seperti harga emas. Sekarang Indonesia merupakan produsen kopi ke-4 di dunia, kalah dari Vietnam yang dulu masih jauh di bawah kita," tutur Moelyono, dalam konferensi pers V , beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Moelyono mengatakan, salah satu permasalahan yang dihadapi masih seputar konsistensi dan kualitas kopi yang diproduksi. Indonesia masih belum bisa menjanjikan produk kopi berkualitas untuk dijual ke pasar internasional, meski setiap tahunnya jumlah produksi terus meningkat.

"Vietnam itu sudah bisa memproduksi robusta sampai 3 ton per hektar. Kita masih terkendala lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Tidak banyak yang tahu bahwa lebih dari 60% kebun kopi di Jawa Barat terpapar pestisida," imbuhnya.

Hal senada juga diakui oleh Handoko Hendroyono, salah satu Founder VIVA Barista. Menurutnya, peran serta generasi muda Indonesia sangat dibutuhkan guna memajukan industri kopi Nusantara.

"Kita masih kekurangan kontribusi petani-petani muda. Ini penting karena mereka bisa melihat perkembangan tren di pasar, serta lebih tanggap terhadap perkembangan teknologi. Namun kenyataannya, orang-orang cenderung lebih tertarik menjadi barista daripada petani," tegas Handoko.

Jika dilihat dari prospek jangka panjang, bisnis kopi sebetulnya sangat menjanjikan. Tinggal bagaimana seseorang mengemasnya menjadi sesuatu yang lebih menarik.

"Daya tarik petani muda itu keren, walaupun presentasinya saat ini masih kecil. Tapi potensi atau influence ke depannya sangat besar, apalagi di zaman serba media sosial seperti saat ini," tukasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini