nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berperan Penting dalam Kesehatan Masyarakat, Banyak Kader Posyandu Belum Paham Tugasnya

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 03 April 2018 18:24 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 03 481 1881632 berperan-penting-dalam-kesehatan-masyarakat-banyak-kader-posyandu-belum-paham-tugasnya-8gukOzb8jp.jpg Ilustrasi (Foto: Foxnews)

PEMERINTAH memiliki andil besar untuk menjaga kesehatan masyarakat. Akan tetapi, untuk mencapai hal tersebut tentu dibutuhkan peran dari masyarakat itu sendiri. Entah itu melalui kesadaran perilaku sehari-hari atau dalam sebuah gerakan.

Sebagai contoh, di masyarakat terdapat kegiatan kesehatan yang berasal dari, oleh, dan untuk masyarakat yaitu Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Posyandu merupakan garda terdepan kesehatan masyarakat karena memiliki peran yang sangat penting. Dalam kegiatannya, ada 5-15 pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat, mulai dari kesehatan ibu dan anak, gizi, dan masih banyak lagi.

Sayangnya, meskipun memiliki peran yang cukup penting, keberadaan posyandu kurang mendapatkan perhatian baik dari masyarakat maupun pemerintah. "Selama ini kader-kader posyandu seperti tidak terlalu menjadi perhatian. Padahal kalau kita maksimalkan peran dan fungsinya (posyandu) bisa menjadi kontribusi yang besar di negara ini, terutama untuk pencapaian pembangunan," ungkap Ketua Kalyanamitra, Listyowati di sela-sela acara Jambore Nasional Posyandu, Selasa (3/4/2018) di kawasan Cibubur, Jakarta Timur.

Sekadar informasi, Kalyanamitra merupakan LSM yang ikut serta mendampingi posyandu dalam menjalankan program-programnya. Dijelaskan oleh perempuan yang akrab disapa Lilis itu, hingga sekarang banyak masalah yang harus dihadapi posyandu. "Selama ini mungkin banyak masyarakat yang tidak percaya terhadap pelayanan posyandu karena memang disadari minim kapasitas minim, program, dan sebagainya. Belum semua posyandu bisa melakukan 15 pelayanan kesehatan karena kapasitasnya juga tidak diberikan peningkatan kapasitas," tambahnya.

Menurut Lilis, banyak kader posyandu yang belum memahami dengan baik tugas-tugas yang harus dilakukan. Maka dari itu diperlukan peningkatan pembinaan untuk para kader. Masalah lain adalah kesulitan regenerasi karena jarang sekali generasi muda yang mau menjadi kader posyandu. Di sisi lain keterlibatan laki-laki sebagai kader posyandu juga jarang terjadi, baik dalam pelayanan maupun membawa balita.

"Masyarakat menganggap yang harus ke posyandu adalah ibu-ibu. Kalau yang datang ke posyandu adalah bapak-bapak banyak yang bertanya ibunya ke mana padahal tidak salah. Mindset posyandu untuk perempuan itu harus diubah karena posyandu untuk keluarga sehingga laki-laki juga berperan," jelas Lilis.

Masalah lain yang menjadi sorotan adalah penganggaran bagi posyandu itu sendiri. Tak bisa dipungkiri bila kader juga mengharapkan adanya alokasi dana yang jelas untuk operasional posyandu maupun insentif untuk para kadernya. Berbicara mengenai hal ini, Plt Dirjen Kesehatan Masyarakat, dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS menganggap bila masalah ini harus dibicarakan dengan pemerintah daerah.

"Dari segi penganggaran pemerintah (pusat) hanya memberikan stimulus dan peran dari pemerintah desa sangat besar karena ada alokasi dana desa yang cukup besar untuk bagian kesehatan termasuk di dalamnya posyandu. Bagaimana kepala desa dan daerah supaya (bisa) mengalokasikan dana itu untuk mendukung program kesehatan khususnya posyandu," pungkasnya saat ditemui dalam kesempatan yang sama.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini