nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Isi Sanksi Pemberhentian Dokter Terawan yang Diputuskan IDI

Dewi Kania, Jurnalis · Kamis 05 April 2018 17:26 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 05 481 1882619 isi-sanksi-pemberhentian-dokter-terawan-yang-diputuskan-idi-TMA5U3hhH2.jpg Dokter Terawan (Foto: @Dean_Metric/Instagram)

DOKTER Terawan melakukan pelanggaran kode etik profesi dengan kategori berat. Dia diberhentikan sebagai keanggotaan IDI, serta rekomendasi izin praktiknya dicabut.

Sesuai dengan Pedoman Organisasi dan Tata Laksana Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (Pedoman Ortala MKEK) pasal 29 ayat 12 menyatakan bahwa putusan yang menyangkut dokter spesialis wajib ditidaklanjuti oleh perhimpunan spesialis masing-masing.

Dalam menjalankan profesinya, Dokter Terawan tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia (PDSRI). MKEK mewajibkan PDSRI menindaklanjuti pelanggaran berat yang dilakukan oleh sejawatnya.

Di samping itu, MKEK sebagai bagian dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengirimkan putusan amar secara utuh. Isinya berupa pemberhentian sementara terhadap keanggotaannya dalam organisasi IDI. Dokter Terawan telah menyalahi etik profesi dalam melayani pasien.

Nama Dokter Terawan berhembus di telinga masyarakat karena mengobati pasien dengan metode 'cuci otak'. Sampai-sampai pasien dari pejabat tinggi memberikan testimoni berbunga-bunga atas keahlian pria berpangkat mayjend TNI itu.

Nah, dalam surat putusan amar yang dikeluarkan oleh IDI, disebutkan bahwa Dokter Terawan Adi Putratanto telah melakukan pelanggaran etik serius. Dia diklaim melakukan tindakan praktik metode 'cuci otak' dengan teknik Digital Substracion Angiography (DSA).

"Dia terkena sanksi berupa pemecatan sementara sebagai anggota IDI. Sanksi itu dijatuhkan selama 12 bulan, mulai tanggal 25 Februari 2018 sampai 25 Februari 2019," ujar Ketua Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Prijo Pratomo, SpRad(K), dalam keterangan tertulisnya, Kamis (5/4/2018).

Akibatnya, status kepengurusan Dokter Terawan di perhimpunan spesialis radiologi sangat berpengaruh. Dalam susunan pengurus pusat PDSRI periode 2014-2018, Dokter Terawan menjadi ketua umum yang membawahi sejawatnya.

Tak cukup itu, Dokter Terawan mendapatkan pernyataan tertulis pencabutan rekomendasi izin praktiknya. Namun hingga hari ini, dokter kebanggaan penderita kelainan saraf otak itu masih praktik di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Adanya kabar ini, pasti banyak komentar masyarakat yang menanggapinya. Tapi MKEK tetap menjatuhkan sanksi sesuai putusan amar.

"Masyarakat silakan menanggapi saja. Kita bicarakan dan sosialisasikan kepada stakeholder terkait adalah unsurnya pembinaan," pungkas Prijo.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini