nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ahli Bedah Saraf Sebut DSA Bukan Terapi Pengobatan Stroke

Dewi Kania, Jurnalis · Kamis 05 April 2018 19:13 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 05 481 1882663 ahli-bedah-saraf-sebut-dsa-bukan-terapi-pengobatan-stroke-d7Ibj5eJtN.jpg Ilustrasi MRI (Foto: NHS Choices)

DOKTER Terawan belakangan ini mendadak viral karena mengobati pasien stroke dengan 'cuci otak'. Dia menggunakan metode Digital Subtraction Angiography (DSA) yang banyak disalahartikan oleh pasien.

Sebagai ahli radiologi, Dokter Terawan menawarkan metode DSA untuk kesembuhan pasien stroke. Padahal secara ilmiah, DSA hanya dapat mendeteksi dini penyakit gangguan saraf otak itu.

DSA bukanlah satu-satunya metode pengobatan yang cepat mengatasi gangguan saraf di bagian otak. Metode ini biasa dilakukan oleh ahli radiologi untuk mendeteksi dini gejala stroke.

Diterangkan Spesialis Bedah Saraf dr Roslan Yusni Hasan SpBS dari RS Bethsaida Serpong, pasien bisa menjalani DSA hanya untuk deteksi dini. Dengan cara ini, pasien kelainan saraf otak bisa terdiagnosa dengan cepat atas keluhan yang dialami.

"DSA bukanlah terapi pengobatan, tapi upaya preventif yang bisa membuat orang mencegah faktor risiko stroke," ujarnya saat ditemui di Gading Serpong, Tangerang Selatan, beberapa waktu lalu.

Metode radiologi intervensi ini mampu mendeteksi risiko brain attack yang paling sering dialami pasien, karena mengancam nyawa. Penyakit tersebut terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah yang sulit diatasi dalam waktu cepat.

Saat menjalankan ini, ada serangkaian cara yang diterapkan. Pasien diperiksa detail bagian kepala dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Setelah otak kelainan otak terdeteksi, tindakan selanjutnya dilakukan. Beberapa bagian tubuh pasien dibedah untuk dimaksukkan kateter di dalamnya. Setelah itu lendir atau darah kotor yang menyumbat otak disedot perlahan-lahan.

Namun, praktik DSA saja belum cukup untuk menyembuhkan pasien. Metode ini menjadi salah satu cara deteksi dini stroke yang fatal akibatnya.

"Serangan stroke terjadi mendadak, sehingga pasien harus mencari tahu mencegahnya. Tapi harga DSA memang tidak mahal, pasien harus merogoh kocek puluhan juta," tambahnya.

Terlepas dari itu, untuk mencegah stroke tentu harus menjaga gaya hidup sehat. Bila di dalam keluarga Anda memiliki riwayat stroke, pastikan untuk mencegah risiko yang diturunkan.

Lakukan langkah cerdik untuk menghindari penyakit apapun dengan cara cek kesehatan rutin, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, istirahat cukup dan kelola stres dengan baik.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini