nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengintip Pembuatan Warna-Warni Tenun Songket Subahnale Khas Lombok

Dewi Kania, Jurnalis · Jum'at 06 April 2018 18:39 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 06 194 1883220 mengintip-pembuatan-warna-warni-tenun-songket-subahnale-khas-lombok-JUzALU6Pq4.jpg Tenun Songket Khas Lombok (Foto: Dewi/Okezone)

SONGKET sasak subahnale jadi ciri khas wastra dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Masyarakat Desa Sade masih melestarikan dan membuat tenun itu, khususnya kaum wanita.

Masyarakat Suku Sasak punya peninggalan wastra dari nenek moyangnya yang kini masih dijaga. Saat berkunjung ke Desa Sade, perempuan yang menginjak di sana mulai mengenal teknik membuat songket.

Ada makna yang besar ketika kaum perempuan harus bisa menenun saat beranjak dewasa. Perempuan harus sudah mandiri dalam menghadapi hidupnya. Apalagi syarat untuk wanita yang boleh menikah harus bisa membuat kain songket.

Dalam Suku Sasak, perempuan harus bisa membuat songket karena bisa membantu menopang hidup keluarganya kelak. Saat menikah, pasti perempuan harus membantu mencari pendapatan, selain suaminya yang bertani.

Salah satunya pengrajin songket Sasak, Inak Miye, lebih dari 30 tahun dia membuat songket subahnale di halaman rumahnya. Khas dari songket subahnale yakni menggunakan benang hitam yang menghasilkan kain indah. Tapi saat ini, kain itu menggunakan benanr warna-warni yang terlihat cantik. Dalam kepercayaan masyarakat Sasak, kain songket biasa dipakai untuk prosesi pernikahan.

Dalam cerita asal-usulnya pemilihan nama songket subahnale menjadi satu apresiasi nenek moyang yang mengenalkan wastra ini kepada masyarakat lokal. Subahnale berarti Subhanallah dalam bahasa Arab. Ternayata nenek moyangnya dulu tidak berhenti membuat kain songket selama 1,5 bulan. Itulah yang membuat masyarakat kagum atas peninggalan wastra songket.

Kemudian, proses pembuatan kain songket Sasak hampir serupa dengan daerah lainnya. Pengrajin mulanya telaten memintal benang supaya bisa membantuk kain yang lebar dan panjang. Kemudian, ada proses mengoleskan air nasi supaya kain jadi kaku dan mudah dibentuk. Barulah, pengrajin melakukan teknik menyatukan benang menjadi songket yang indah.

Benang yang dipakai untuk membuat kain ini pun mengandalkan pewarna alam. Penduduk setempat menggunakan benang dengan warna dari tumbuh-tumbuhan. Seperti sabut kelapa, kulit kayu, kapur sirih, daun nila, akar pohon, daun taum, dan pewarna lainnya yang populer.

Keunggulannya, saat sudah menjadi kain cantik, saat dicuci tidak akan luntur. Buktinya Inak Miye punya kain yang disimpan dan dipakai sekira 26 tahun. Kualitas kain tetap bagus dan warnanya tidak pudar.

Inak Miye sudah terbiasa membuat songket sejak lama. Di sela aktivitasnya mengurus keluarga, dia menyempatkan duduk di halaman rumah untuk membuat songket. Satu kain ukuran dua meter, dia bisa menghabiskan waktu empat hari.

Dia mengatakan, songket sasak itu kini banyak dilirik oleh wisatawan yang singgah ke Desa Sade. Dalam sehari, dia bisa menjual 2-4 kain songket dengan kisaran harga Rp100 ribuan ke atas.

Kain itu dipakai untuk syal, pakaian bawahan, taplak meja, seprei, atau baju lumbung siap pakai. Dari beragam kreasi kain itu, satu helai dibanderol dengan harga mulai Rp20 ribu-Rp 400 ribu. Sangat terjangkau sekali, tapi Anda harus pintar menawar untuk membelinya.

Tidak hanya Inak Miye, hampir semua perempuan di desa itu melestarikan wastra songket dari Lombok. Tak ada salahnya Anda membawa pulang kain songket asli dari sana sebagai buah tangan, sekaligus mengapresiasi para pengrajin kain.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini