nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peran Orangtua dalam Perangi Kasus Kekerasan dan Eksploitasi Seksual Online

Annisa Aprilia, Jurnalis · Jum'at 06 April 2018 10:23 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 06 196 1882940 peran-orangtua-dalam-perangi-kasus-kekerasan-dan-eksploitasi-seksual-online-M1TdgjnmCY.jpeg Ilustrasi (Foto: Lifehack)

ZAMAN telah berubah. Kini teknologi menjadi semakin canggih, hingga untuk mendapatkan sebuah informasi pun akan sangat mudah.

Perkembangan teknologi informasi tersebut sebenarnya tidak bisa dianggap sepele oleh para orangtua dan membutuhkan pengawasan ekstra terhadap anak-anaknya. Terlebih kini harga ponsel pintar semkin terjangkau dan tidak sedikit pula orangtua yang mengizinkan anak-anaknya untuk memiliki gawai pribadi.

 BACA JUGA:

Beredar Akte Kelahiran Nama Persib Satu Sembilan Tiga Tiga, Netizen: Ortu Zaman Now!

“Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menjadi bagian penting dalam era globalisasi dan ikut mempengaruhi sosial budaya masyarakat termasuk anak. Salah satu efek negatif dari kemajuan TIK ini membuat anak-anak menjadi rentan terhadap bentuk eksploitasi seksual yang beragam dan terus berevolusi,” ucap Sri Danti Anwar, Staf Ahli Menteri Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), dalam kesempatan Media Talk, di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Jakarta, belum lama ini.

Seiring dengan berkembangnya teknologi dan pengadopsian yang dilakukan masyarakat, nyatanya juga mempengaruhi perilaku anak-anak. Untuk menunjukkan eksistensi diri, anak cenderung akan mengikuti tren, hingga tidak sadar bisa menjadi bahan eksploitasi, atau bahkan memang ada yang sengaja memanfaatkan dunia maya untuk praktik prostitusi.

“Anak-anak menaruh gambar bisa juga orang lain yang mengirim gambar mereka, atau gambar mereka digunakan oleh oranglain kemudian dijual online, kekerasan lainnya anak bisa dijadikan prostisi online,” lanjut Sri.

Masih dalam penuturannya, Sri pun mengungkap media sosial sekarang digunakan untuk mengomersilkan anak-anak, sifatnya tidak semua orang bisa melihat, melainkan ada target tersendiri yang menyukai anak-anak terlibat pada pornografi. Gambar-gambar anak yang terdapat dalam dunia maya kerap kali digunakan untuk fantasi bagi orang dewasa dan seharusnya ada peraturan yang mengatur hal tersebut.

“Dari sisi kebijakan undang-undang perlindungan anak masih perlu disesuaikan, karena dulu belum seperti sekarang. Kedepannya harus masuk undang-undang perlindungan anak untuk mencegah anak-anak jadi korban online. Kalau undang-undang pronografi dan ITE harus dilihat kembali, apakah akan ditambah lagi, atau lewat undang-undang cyber yang sedang digodok,” tambahnya.

Di sisi lain, fenomena ini menurut Sri tidak hanya menjadi perhatian pemerintah saja, tapi pencegahan anak menjadi korban eksploitasi dan kekerasan online pun merupakan tugas dari orangtua. Penggunaan gawai harus lebih diawasi oleh orangtua sebagai pihak yang memberikan akses ke media sosial secara tidak langsung.

 BACA JUGA:

5 Kisah Anjing Inspiratif yang Bikin Mewek

“Harus diawasi penggunaan gadget oleh orangtua. Kementerian PPPA memiliki rencana dengan service provider agar bisa mengunci situs, yang nantinya bisa jadi salah satu cara pencegahan. Tapi peran orangtua juga penting. Kerjasama dengan Kominfo untuk internet sehat juga sudah dilakukan,” pungkas Sri.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini