nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Soto Hendak Dijadikan Locomotive Food, Apa Kata Pakar?

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 10 April 2018 18:04 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 04 10 298 1884660 soto-hendak-dijadikan-locomotive-food-apa-kata-pakar-mKUMhelGx7.jpg Soto Semarang (Foto: Utami/Okezone)

MENJALIN kerja sama dengan negara lain bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya melalui bernegosiasi atau dikenal dengan istilah diplomasi. Bentuknya pun bermacam-macam, bisa dengan makanan.

Hubungan diplomasi melalui makanan dikenal dengan istilah gastronomy diplomacy. Menurut Ketua Akademi Gastronomi Indonesia, Vita Datau, salah satu persyaratan untuk melakukan hubungan tersebut adalah memiliki national food atau locomotive food.

“Locomotive food itu memudahkan orang mengingat negara kita. Itu sebabnya kenapa namanya lokomotif, cuma satu harusnya,” ungkapnya saat dijumpai dalam sebuah acara di kawasan Jakarta Selatan baru-baru ini.

 (Baca Juga: 5 Tradisi Pernikahan Paling Gila dari Suku-Suku Dunia, Ritual Minum Sperma Salah Satunya!)

Bagi Indonesia sendiri sebenarnya menentukan locomotive food adalah sesuatu yang sulit. Sebab begitu banyak makanan yang dimiliki oleh bangsa ini. Beberapa macam makanan juga sudah mulai dikenal oleh masyarakat luar. Selain itu, terkadang timbul kecemburuan bila ada makanan dari suatu daerah yang diangkat. Beruntung sekarang ini Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) sudah menentukan soto yang akan menjadi makanan lokomotif. Akan tetapi apakah keputusan itu sudah tepat?

 

(Foto: Utami/Okezone)

“Menurut saya usahanya harus diapresiasi. Bagusnya cara pikirnya Bekraf gini, soto itu soalnya ada di mana-mana di seluruh Indonesia. Betul, kalau secara makanan kebanggaan Indonesia mungkin cocok karena bisa ditemui di mana-mana, tetapi kalau sebagai lokomotif bagaimana lokomotifnya banyak gerbongnya enggak ada,” papar Vita.

Dijelaskan lebih lanjut olehnya bila masih ada aspek lain yang harus diperhatikan bila ingin menjadikan soto sebagai locomotive food.

“Kalau saya bilang soto itu tidak bisa dijadikan main course. Ambil contoh, tom yum. Meskipun bentuknya hampir mirip tapi kadar proteinnya banyak banget, orang luar negeri itu makannya protein,” tambahnya.

  (Baca Juga: 11 Tokoh Perempuan Muslim dengan Kisah Menginspirasi)

 

(Foto: Utami/Okezone)

Vita berpendapat bila penyajian soto lebih mirip dengan sup yang isiannya sedikit. “Which is sup itu hanya ada di pembuka. Bayangin kalau kita bikin fine dining set, dia (soto) dilupakan karena akan ada main course. Nah makanya harus dicari yang bisa jadi main course, nasi goreng, sate, rendang apalagi,” katanya.

Walau begitu Vita tetap mendukung usaha Bekraf untuk menjadikan soto sebagai makanan lokomotif yang hendak diperkenalkan ke kancah internasional.

“Kalau berbicara sudah tepat atau belum, menurut saya harus dikaji lagi. Harus diapresiasi, tapi alangkah lebih baiknya bila dikaji lagi dari segi produk, proses, dan filosofi di balik soto itu. Kalau itu dapat keren, kita juga harus dukung,” pungkasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini