Jumlah Penderita Gangguan Bipolar Lebih Banyak Dibanding Penderita Kanker

Agregasi Sindonews.com, Jurnalis · Selasa 10 April 2018 09:37 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 10 481 1884449 jumlah-penderita-gangguan-bipolar-lebih-banyak-dibanding-penderita-kanker-0ShytV3eUl.jpg Ilustrasi (Shutterstock)

JAKARTA - Gangguan bipolar (GB) merupakan gangguan suasana perasaan sedih atau senang yang berlebihan. Hal itu diungkap perwakilan Pokdi Bipolar DKI Jakarta, dr. Hervita Diatri, SpK(J).

Kondisi ini terjadi dalam waktu yang cukup lama dan mengakibatkan gangguan fungsi dan penderitaan baik untuk orang yang mengalami maupun sekitarnya.

"GB ialami oleh sekitar 34-36% populasi sepanjang hidupnya. Artinya 1 dari 3 orang di dunia sedikitnya pernah mengalami gangguan bipolar," kata dr Hervita di Jakarta.

Angka ini sama atau jauh lebih besar dibandingkan penyakit fisik seperti hipertensi (30%), kanker (13%), diabetes melitus (8,8%) dan stroke (2,7%).

"Percobaan bunuh diri orang dengan gangguan bipolar lebih tinggi daripada kanker. Oleh karena itu sudah sepatutnya gangguan bipolar menjadi perhatian bagi masyarakat," terang dia.

Hingga saat ini, penyebab GB masih sulit ditetapkan karena bersifat multifaktoral dan melibatkan banyak factor, mulai biologis, psikologis, sosial, kultur dan spiritual.

Dalam hal ini, faktor biologis memegang peran besar dikaitkan dengan faktor genetik dan neuotrasmiter di otak. Secara psikososial, gangguan ini dikaitkan dengan pola asuh pada masa kanak-kanak dan berbagai faktor stres dari lingkungan.

"Gangguan bipolar memiliki dua tipe yaitu tipe 1 dan tipe 2. Tipe 1 ditandai dengan episode mania (gembira berlebihan) yang diikuti dengan episode hipomania (gembira) atau depresi (perasaan sedih). Sedangkan tipe 2 ditandai episode hipomanik, saat ini atau sebelumnya mengalami satu gejala depresif mayor. Orang dengan gangguan bipolar tipe 2 tidak pernah mengalami episode manik," ungkapnya.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini