nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengalaman dan Suka Duka Pelaku Perkawinan Campuran di Indonesia

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 12 April 2018 13:36 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 12 196 1885662 pengalaman-dan-suka-duka-pelaku-perkawinan-campuran-di-indonesia-bZm8LCzB6A.jpg Juliani W. Luthan (Foto: Dimas/Okezone)

PERNIKAHAN adalah momen yang sakral dan dinantikan oleh setiap pasangan. Namun, untuk mencapai tahap ini diperlukan persiapan yang matang baik dari segi finansial maupun mental. Terlebih jika salah satu pasangan merupakan warga negara asing (WNA), atau sering dikenal dengan istilah pernikahan campuran.

Ketua Perca Indonesia, Juliani W. Luthan memaparkan, bukan masalah hati atau cinta saja yang harus diperhatikan oleh setiap pasangan, mereka harus memiliki visi yang kuat untuk menyatukan dua keluarga dengan latar belakang berbeda.

"Menikah dengan orang asing itu tidak jauh berbeda dengan menikah sesama WNI, semuanya membutuhkan kedewasaan dan kecermatan. Bedanya, kita harus siap menyatukan dua keluarga dengan latar belakang yang berbeda, serta memikirkan bagaimana langkah ke depannya," tutur Ani saat ditemui dalam perayaan Dasawarsa Masyarakat Perkawinan Campuran di Double Tree Hilton, Jakarta Pusat, Rabu 11 April 2018.

 (Baca Juga: 8 Harta Karun yang Hingga Kini Masih Menjadi Misteri)

Ani juga sempat menceritakan bagaimana suka dan duka menjadi salah satu pelaku pernikahan campuran di Indonesia. Pada awalnya, ia tidak mengira akan menikah dengan seorang pria berkewarganegaraan Jepang yang ternyata merupakan mahasiswa ayahnya ketika sedang bertugas di Jepang.

"Kita dulu itu sama-sama mahasiswa, saya juga awalnya tidak naksir sama sekali. Tapi setelah ayah saya kembali ke Indonesia, tak selang berapa lama kemudian dia memutuskan untuk merantau ke sini," paparnya.

 

Seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta pun mulai dirasakan oleh Ani dan Hiro Aki. Selama masa pacaran inilah, Ani membangun visi serta memberikan pengertian kepada pasangannya. Hal ini dilakukan mengingat ia terlahir dalam lingkungan keluarga yang cenderung konservatif.

"Awalnya ya flirting seperti anak muda zaman sekarang. Tapi dari awal saya sudah menegaskan, kalau dia mau serius, dia harus mengikuti prinsip hidup yang keluarga saya terapkan. Karena saya lahir dalam keluarga Muslim, saya katakan kepada dia kalau saya harus memiliki imam yang Muslim jika hubungan ingin dilanjutkan ke tahap yang lebih serius (menikah)," imbuhnya.

  (Baca Juga: Antara Kocak dan Tega! Asyik Dangdutan, Emak Satu Ini Biarkan Anaknya Nangis di Lantai)

Tapi ternyata, masih banyak tantangan yang harus Ani dan Hiro hadapi. Ani bahkan mengaku menjalani hubungan secara diam-diam pada masa-masa awal berpacaran. Tujuannya tentu saja untuk meminimalisir kekhawatiran keluarga, serta memberikan waktu kepada Hiro untuk menunjukkan keseriusannya.

"Seperti yang sudah saya katakan, saya lahir di keluarga Muslim. Ibaratnya itu harga mati buat saya. Kalau mau serius dengan saya, dia harus convert ke Islam. Alhamdulillah, waktu itu dia mengaku serius dan mau pindah keyakinan," kata Ani.

Setelah mendapat restu dari kedua pihak keluarga, Ani dan Hiro pun sepakat untuk melangsungkan pernikahan. Namun mengingat adanya perbadaan culture, bahasa, adat dan istiadat, ia mengaku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk beradaptasi.

"Orang Indonesia kan lebih kekeluargaan, lebih guyub. Saya dan keluarga juga merayakan Idul Fitri dan Idul Adha. Itu awalnya sangat asing buat dia, karena di Jepang mereka selalu merayakan hari besar dengan keluarga inti atau yang terdekat saja. Kalau di Indonesia kan mau keluarga jauh sekalipun harus kita jalin tali silaturahminya," tambahnya.

Namun dari hal-hal seperti itulah, Ani mulai terbuka dan menerima perbedaan dalam pernikahan beda warga negara atau campuran.

"Kalau di tanya soal suka dan duka, sukanya sih menjadi ajang untuk belajar, untuk membuat hati dan pikiran kita terbuka. Kehidupan kita menjadi lebih kaya secara spiritual," tutup Ani.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini