nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Lho Cara Menangani Stress Urinary Incontinence

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Kamis 12 April 2018 12:54 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 04 12 481 1885637 ini-lho-cara-menangani-stress-urinary-incontinence-Cknjn4A7Cx.jpg Ilustrasi (Shutterstock)

JAKARTA - 1 dari 3 perempuan akan mengalami Stress Urinary Incontinence (SUI). Ini adalah kondisi di mana aktivitas fisik menyebabkan kebocoran urine. Kebocoran yang terjadi dapat berupa tetesan, atau semprotan, atau lebih banyak lagi pada kasus yang lebih parah. SUI bisa dialami baik oleh pria maupun wanita. Namun, memang lebih umum terjadi pada wanita yang sudah aktif secara seksual.

“Misalnya ketika batuk, sedang berjalan, berhubungan suami-istri tiba-tiba ngompol tanpa dapat ditahan. Ini bukanlah bagian dalam proses penuaan, tapi kalau sudah mengalami ini, maka akan tambah buruk seiring bertambahnya usia,” tutur dr Budi Iman Santoso SpOG(K), dalam acara yang diadakan rumah sakit YPK Mandiri tentang Stress Urinary Incontinence.

SUI terjadi akibat berbagai faktor, namun biasanya berkaitan dengan melemahnya otot yang mengontrol urine. Kelemahan otot-otot ini mengurangi kemampuan menahan tekanan abdominal akibat urine yang terkumpul sehingga menyebabkan keluarnya urine secara tidak disadari.

Otot yang terlibat meliputi otot sphincter yang terletak di leher kantung kemih, atau otot dasar panggul yang menyokong kantung kemih. Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang. Dikatakan dr Budi, tidak hanya mengganggu kualitas hidup, lebih dari itu jika tidak diatasi lewat pengobatan yang tepat, maka penderita juga akan mengeluarkan banyak biaya.

Sayangnya, sampai saat ini informasi mengenai gangguan dasar panggul masih belum banyak dipahami masyarakat dan kerap dianggap normal, khususnya pada wanita lanjut usia. Beberapa faktor risiko yang memengaruhinya, di antaranya, obesitas, adanya riwayat operasi panggul, batuk lama/TBC, merokok, cedera pada saraf, kehamilan, dan jumlah persalinan.

Pada ibu hamil, SUI dialami oleh 1 dari 2 perempuan. “Ibu hamil yang mengalami ini 80-90% akan pulih setelah tiga bulan. Tapi 10% di antaranya akan mengalami gangguan yang menetap dan tambah buruk, terutama kalau penderita melahirkan kembali,” beber dr Budi.

Ada beberapa gejala yang perlu dipahami terkait dengan gangguan panggul, khususnya yang dialami oleh perempuan, yaitu inkontinensia urine atau sulit menahan buang air kecil, turun peranakan (prolaps), sulit menahan buang air besar, dan masalah gangguan seksual. Kabar baiknya, SUI dapat disembuhkan.

Ada tiga cara pengobatan, yaitu melalui terapi non surgical (nonbedah) yang meliputi perubahan gaya hidup, latihan senam kegel, dan penggunaan pesarium (alat medis yang dimasukkan dan dipakai dalam vagina. Alat ini menopang dinding vagina dan membantu membetulkan posisi organ-organ pelvis yang bergeser).

Adapun perubahan gaya hidup yang disarankan, antara lain mengatur pola makan agar berat badan tidak berlebih, mengurangi minum kopi dan membiasakan berkemih sebelum tidur. Adapun untuk ibu hamil yang mengalami gangguan ini, bisa mencoba melakukan latihan dasar otot panggul di trimester kedua dan ketiga kehamilan.

Dr Budi menerangkan bahwa perlu dilakukan skrining dengan prinsip cepat, sederhana, dan bukan diagnostik guna mencegah terjadinya gangguan yang bisa terjadi lantaran adanya gangguan pada organ panggul. Dr Yusfa Rasyid SpOG MARS mengatakan, ada tindakan nonbedah maupun bedah untuk mengatasi itu.

Tindakan nonbedah yang bisa dilakukan dengan femilift laser vaginal rejuvenation, femilift SUI, femilife labia brightening, femilofe labia tightening, dan uroste. Untuk bedah estetika bisa dilakukan dengan vaginaplasti, hymenoplasti, reparasi fistula, PRP, labio reduktion mayora, dan beberapa tindakan lainnya. Jika Anda mengalami inkontinensia urine disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan.

“Konsultasi dengan dokter merupakan langkah awal untuk menemukan cara efektif mengatasi keluhan Anda. Inkontinensia urine biasanya bisa terdiagnosis setelah konsultasi dengan dokter. Dokter akan bertanya tentang gejalanya dan melakukan pemeriksaan panggul pada wanita atau pemeriksaan rektal pada pria,” tutur dr Budi.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini