nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penyebab Seseorang Malas Bergerak yang Tingkatkan Risiko Penyakit Tidak Menular

Vessy Frizona, Jurnalis · Kamis 12 April 2018 21:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 04 12 481 1885891 penyebab-seseorang-malas-bergerak-yang-tingkatkan-risiko-penyakit-tidak-menular-TH8IAJUiSi.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

SENDENTARY lifestyle atau gaya hidup sendentari adalah gaya hidup kurang gerak. American College of Sports Medicine (ACSM) mengartikan, gaya hidup sendentari adalah di mana seseorang tidak melakukan aktivitas fisik intensitas sedang, dengan waktu minimal 30 menit sekurang-kurangnya dalam 3 hari dalam satu minggu selama satu bulan.

Ada beberapa sebab yang mengakibatkan saat ini orang terjebak dalam gaya hidup sendentari. Salah satunya perubahan pola hidup dari aktif menjadi tidak aktif. Dr. Ade Jeanne L. Tobing, SpKO, dokter spesialis kedokteran olahraga dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga menyebut beberapa sebab yang memicu pola hidup manusia saat ini berubah.

“Semakin canggih suatu negara, semakin memudahkan masyarakatnya menjalani hidup. Fasilitas yang mudah membuat orang menjadi kurang gerak. Mau melakukan apa saja tinggal pencet tombol. Contoh, Kalau dulu orang mau mengganti chanel televisi harus berdiri, lalu jalan, baru menekan tombol di televisi, baru saluran berganti. Kalau sekarang ada remote, tinggal tekan dari jauh,” ungkap dokter Ade saat ditemui Okezone beberapa waktu lalu di Jakarta.

Ia juga menambahkan contoh lainnya, dulu orang mau mencuci baju harus pakai tangan, mengucek, menyikat, dan membilas, tapi sekarang pakaian bersih hanya dengan menekan tombol. Bahkan, tidak perlu repot ada jasa cuci murah, badan sama sekali tidak bergerak. Kemudian tidak ada lagi naik tangga, mau naik ke lantai berapa tingga berdiri di lift, lalu sampai.

Selain kemudahan fasilitas untuk melakukan berbagai aktivitas, dokter Ade juga menyebut kebiasaan dan hobi baru masyarakat zaman sekarang membuat mereka malas bergerak. Apalagi kalau bukan screen time atau main gadget.

“Lamanya waktu menggunakan perangkat layar, memonitor televisi, komputer, video game, ponsel untuk mengecek media sosial, Facebook. Instagram, Twitter. Berdasarkan penelitian yang dilakukan mahasiswa tahun 2013, screen time dilakukan pada waktu senggang, dengan rata-rata 5 jam perhari, yang dilakukan oleh 88,2 persen orang,” terangnya lebih lanjut.

Dokter Ade memaparkan gaya hidup sendentari dapat mengakibatkan timbulnya penyakit berisiko kematian. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) 2011, lebih dari 60 persen kematian di dunia diakibatkan oleh penyakit tidak menular yang karena gaya hidup kurang gerak.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini