nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Perjalanan, Bersua Kembali dengan Kota Paris

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 13 April 2018 20:53 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 04 13 406 1886470 kisah-perjalanan-bersua-kembali-dengan-kota-paris-ZMGZrYtvnq.jpg Foto: Ony Jamhari

PERJALANAN ke benua Eropa pada awal tahun 2018 adalah perjalanan saya yang kedua kalinya. Benua Eropa yang sangat kental dengan sejarah dan budayanya memang selalu menarik untuk dikunjungi. Perjalanan saya kali ini adalah untuk urusan pekerjaan, yaitu menjajaki kerja sama bidang pendidikan dengan salah satu sekolah rintisan baru di Kota Paris.

Negara berpenduduk kurang lebih 67 juta jiwa ini tidak hanya menjadi salah satu tempat favorit bagi siapa saja untuk menghabiskan liburannya, juga menimba ilmu.

Pesawat Thai Airways dengan nomor penerbangan TG 930 mendarat mulus di Bandara Charles de Gaulle. Bandara internasional terbesar di Prancis ini masih sepi ketika saya sampai. Saat itu suhu udara berkisar 15 derajat. Setelah antre di Imigrasi dan mengambil barang di bagasi, saya mencari taksi untuk menuju hotel tempat menginap di tengah kota.

Sebenarnya banyak moda transportasi yang dapat digunakan dari bandara ke kota, baik kereta api maupun bus. Hanya saja, karena saya mengejar waktu, akhirnya naik taksi. Setelah lima menit perjalanan, saya pun mulai membuka percakapan dengan sopir taksi yang bernama Adib, orang Maroko yang sudah menjadi warga negara Prancis. “Anda dari Malaysia?” tanya dia. Saya menjawab, “Saya dari Indonesia.” Adib begitu senang ketika saya menyebut Indonesia karena ternyata dia sudah pernah ke Bali dua kali. Dia pun menceritakan pengalamannya selama di Bali dengan keluarganya.

“Saya selalu senang bertemu orang Indonesia. Orang Indonesia sangat ramah, makanan Indonesia enak, dan alamnya luar biasa indahnya,” kata Adib.

Obrolan santai selama 50 menit berlalu dengan cepat. Saya telah sampai di sebuah hotel butik di pusat kota Paris tempat saya menginap. Ongkos naik taksi dari bandara ke kota kurang lebih 72 euro. Tidak perlu membayar tunai karena semuanya cashless. Sesudah melakukan serangkaian pertemuan selama dua hari, akhirnya saya mendapatkan kesempatan menjelajahi Kota Paris. Untuk menjelajahinya, saya berjalan kaki dan menggunakan kereta api Metro. Dari sekian banyak hal menarik naik moda transportasi ini, saya sangat menikmati seni, baik itu mural maupun desain stasiun kereta api di Kota Paris. Semuanya serasa hidup dan indah. Selama berkunjung ke Paris kali ini, ada beberapa tempat yang saya kunjungi.

Menara Eiffel

Menara Eiffel yang dibangun oleh Gustave Eiffel pada 1889 adalah bangunan tertinggi di Paris. Salah satu hal yang menarik di Kota Paris adalah bangunan yang mempunyai seni arsitektur tinggi. Bangunan-bangunan tinggi yang biasanya sering saya temui di kota-kota besar di dunia tidak ada di Paris. Dalam perjalanan, saya sempatkan melihat kafe-kafe yang berada di pinggir jalan. Kafe biasanya buka agak sedikit siang, terlebih saat musim dingin. Setelah makan dan minum di beberapa kafe di sini, saya selalu terkejut karena kalau memesan kopi, pasti ukurannya adalah ukuran espresso .

Sudah banyak wisatawan yang sampai di Menara Eiffel ketika saya tiba pukul 10.00 pagi. Di sekitar Menara Eiffel banyak sekali pembangunan. Paris akan menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2024 dan mereka sudah menyiapkan diri sejak lama. Walaupun tidak ada langit biru dan juga rumput hijau, saya dapat melihat pemandangan yang indah di sekitar Menara Eiffel. Salah satu yang saya suka pada musim dingin adalah banyaknya “bare tree” yang tampak indah jika difoto dengan latar belakang bangunan bersejarah seperti Menara Eiffel. Para juru kamera yang saya temui di sepanjang jalan dan kafe tampak sekali menikmati pemandangan di kota ini. Kemudian saya lanjutkan makan siang. Untuk makan, jangan khawatir karena berbagai macam makanan ada di sini. Makanan halal kebab turki juga ada di sekitar Eiffel.

 

Kathedral Notre Dame de Paris

Gereja ini adalah bangunan dengan gaya arsitektur Gotik terbaik di Prancis. Antrean panjang sudah mengular ketika saya sampai di depan pintu masuk katedral. Sambil me - nunggu, saya mengamati sekeliling, dan banyak sekali burung beterbangan di sekitar katedral. Suasana sore yang sedikit mendung menjadi lebih indah dengan adanya burungburung ini. Tidak hanya luarnya yang indah, bangunan di dalam juga sangat indah. Patung-patung dan relief di dalam gereja ini menggambarkan keadaan dari awal saat katedral dibuat. Banyak sekali orang yang bersembahyang. Saat ini katedral berfungi sebagai tempat misa dan juga tempat tinggal Uskup Agung.

Museum Louvre

Paris adalah surganya museum. Jumlah museum di sini sampai ratusan dari yang kecil sampai yang besar. Untuk Louvre, jumlah koleksinya kurang lebih 380.000 buah dan memamerkan 35.000 karya seni. Pada saat itu saya tidak masuk ke dalam museum, tetapi memilih berjalan-jalan di sekitar museum. Museum ini awalnya bertempat di Istana Louvre. Seiring dengan perkembangan museum, ini diperluas hingga membentuk Istana Louvre. Berjalan mengelilingi kompleks museum mem bu - tuhkan energi yang prima. Kompleks ini benar-benar luas sekali. Walaupun udara musim dingin sedikit menusuk tulang, saya sangat menikmati kompleks ini. Salah satu yang saya suka adalah tanah berwarna cokelat (seperti clay). Langit sedikit muram, tanah berwarna cokelat, dan orang-orang yang memakai baju gelap adalah paduan pemandangan yang sangat menarik.

Champ Elysees

Pergi ke Paris, rasanya tidak lengkap kalau tidak pergi ke Champ Elysees. Kawasan ini adalah kawasan favorit wisatawan untuk berbelanja. Jalanan lurus sepanjang kurang lebih dua kilometer ini dipenuhi butik-butik ternama dan kafe-kafe indah. Bagi saya, kawasan ini menjadi kawasan yang sangat multikultural karena berbagai makanan dari seluruh dunia ada di sini. Menelusuri jalanan di sini benar-benar menarik. Anda dapat melihat orang dengan pakaian-pakaian warna-warni dengan gaya bebas.

Jika lelah, dapat beristirahat di bangku-bangku di sepanjang jalan. Beberapa toko juga sedang mengadakan sale musim dingin. Saya sempatkan untuk membeli beberapa parfum yang harganya setengah dari harga di Indonesia.

Oleh: Ony Jamhari/Traveller

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini