nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perempuan Thailand Tolak Anjuran Berpakaian Sopan saat Festival Air

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Senin 16 April 2018 14:06 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 16 194 1887215 perempuan-thailand-tolak-anjuran-berpakaian-sopan-saat-festival-air-guThnStPPE.jpg Foto: BBC

BANYAK orang kembali mengingat pengalaman model Cindy Sirinya Bishop, ketika seorang pejabat pemerintah Thailand meminta agar para perempuan memperhatikan pakaian mereka guna mencegah pelecehan saat perayaan Songkran atau festival air.

Warga Amerika-Thailand itu masih baru berumur 17 tahun ketika dilecehkan saat perayaan Tahun Baru. Dia mengenakan t-shirt hitam longgar dengan celana pendek dan dikerubungi lima pria saat terpisah dari teman-temannya.

"Mereka mengelilingi saya dan berusaha meraba. Saya langsung lari dan berhasil menjauh dari mereka. Sejak saat itu saya tidak pernah ke Songkran," katanya kepada BBC.

Perayaan tiga hari yang dimulai Jumat lalu tersebut diramaikan dengan saling menyiram air, sebagai cerminan upaya pembersihan dari ketidakberuntungan tahun sebelumnya.

Bulan lalu, Sutthipong Chulcharoen, direktorat jenderal pemerintah setempat di Thailand, mendorong perempuan agar berpakaian dengan sopan untuk mencegah kejahatan seksual selama pesta air.

Cindy kemudian menjawab saran itu dengan menerbitkan sejumlah klip di Instagram bertagar #DontTellMeHowToDress (#JanganAjariSayaBagaimanaBerpakaian) serta #TellMenToRespect (#AjariPriaUntukMenghormati), dan ternyata banyak yang berperasaaan sama dengan dia.

Model berusia 39 tahun itu mengatakan bahwa tagar tersebut menentang 'pemikiran bahwa perempuan yang bersalah saat terjadi pelecehan seksual'.

Tidak lama setelah tagar itu beredar, banyak perempuan lain yang berbagi pengalamannya.

"Saya pergi dengan seorang teman dan sepupu perempuan (saat Songkran) mengenakan atasan leher tertutup, celana panjang dan sweater karena saya mudah merasa kedinginan," kata seorang pengguna Twitter.

Setelah kehilangan teman-temannya, dia segera dikerubungi sekelompok laki-laki.

"Mereka langsung menyudutkan saya... salah satu pria merenggut lengan saya. Saya segera menangis. Untunglah sepupu dan teman-temanku kembali dan keadaan membaik. Sejak saat itu saya tidak pernah ke Songkran."

Perempuan Thailand lainnya berbagi pengalaman sehari-hari yang mengakibatkan pelecehan, jadi bukan hanya saat Songkran.

"Saya pernah memakai celana pendek ke toko 7-11 di dekat rumah dan seorang satpam melihat kakiku dan mengatakan kepada temannya bahwa dia ingin meraba karena begitu menarik, "tulisnya di Twitter .

"Saat itu saya di SMP. Sejak saat itu saya tidak pernah memakai celana pendek di luar rumah. Mengapa hanya perempuan yang harus melindungi diri mereka? Saya mual."

Acara saling siram air saat Songkran -sebagai perlambang membersihkan ketidakberuntungan- sebenarnya merupakan salah satu festival air terbesar di dunia, namun disayangkan menjadi tercela berdasarkan pengalaman beberapa perempuan.

"Songkran adalah sebuah perayaan tradisional yang indah," kata Cindy. "(Tetapi) bagi kebanyakan perempuan Thailand, telah menjadi berbahaya karena mereka mengetahui akan disalahgunakan".

Survei tahun 2016 yang dilakukan lembaga pegiat kesetaraan gender- Women and Men Progressive Movement Foundation Thailand- menemukan setengah lebih dari 1.650 perempuan mengalami pelecehan seksual pada perayaan itu.

Namun Cindy -yang tidak pernah menyangka posting nya akan menarik begitu banyak perhatian- berharap pembicaraan tentang masalahi tu berlanjut setelah Songkran selesai.

"Sering kali Anda mendengar orang bertanya ke perempuan tentang pakaian mereka, bukan hanya saat perayaan Songkran," katanya.

"Di dunia, Anda memiliki gerakan feminis, #MeToo movement, pembicaraan tentang topik ini terus meluas dalam cara yang sama. Saya berharap di Thailand gerakan ini akan meluas, melebihi Songkran."

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini