Image

Bedanya Ibu Zaman Old dan Ibu Genarasi Milenial

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 16 April 2018 19:42 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 16 196 1887410 bedanya-ibu-zaman-old-dan-ibu-genarasi-milenial-DDL6HhSD2d.jpg Ilustrasi (Shutterstock)

MENJADI ibu milenial memang memberikan kemudahan tersendiri, salah satunya akses mendapatkan informasi yang lebih mudah. Para ibu di zaman ini juga beruntung dapat berkumpul di suatu komunitas yang dipersatukan lewat media sosial.

“Beda dengan ibu zaman old, di mana sumber informasi mereka didapat dari orang tuanya. Kita sekarang memiliki pilihan informasi yang tidak terbatas, tetapi harus selektif dalam menggunakannya,” beber psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo dalam acara Mothercare Serukan Kampanye “Senangnya Jadi Ibu” untuk Para Ibu Millennial di Jakarta, yang diadakan Mothercare.

Vera menjelaskan, ibu milenial atau yang dikenal dengan gen Y umumnya wanita kelahiran 1980-1990-an. Meski mereka mengaku beda literatur, terkadang beda pula batasan usia kelompok ini. Ibu generasi milenial berusia sekitar 24-38 tahun.

“Tidak hanya usia, gen Y ini juga berhubungan dengan karakter. Di mana, gen Y mementingkan rasa hormat, pengguna teknologi, serta goal dan achievement oriented,” ungkap psikolog Tiga Generasi ini.

Usia saat mempunyai anak dibandingkan ibu zaman old, ibu milenial lebih tua ketika memiliki anak. Zaman dulu usia 21 tahun umumnya wanita sudah punya anak, tetapi di zaman ini usia memiliki anak sekitar 26 tahun. Di samping itu, dengan kemajuan teknologi zaman sekarang, ibu masa kini dapat bekerja di rumah, misalnya dengan berdagang online atau menjadi blogger dan lainnya. Pola asuh zaman kini dan dulu tentu juga jauh berbeda. Kita mengenal pola asuh zaman dulu yang lebih ketat, keras, dan penuh disiplin.

Pola asuh zaman sekarang lebih fleksibel. “Pola asuh zaman dulu itu helicopter parenting , orang tua selalu memantau dan siap turun tangan kalau anak mengalami kesulitan,” tutur Vera.

Adapun pola asuh zaman now lebih ke drone parenting. Pada drone parenting, orang tua mendidik dan memantau anak dari jarak jauh dengan memberi mereka kebebasan dan peraturan yang tidak seketat helicopter parenting. Dengan drone parenting, ibu milenial tidak mengontrol anak, tetapi memberikan ruang untuk mengeksplor hal baru.

“Para ibu milenial juga cenderung mempunyai rasa keingintahuan yang besar dan mencari informasi yang diinginkan melalui bantuan internet. Rasa keingintahuan tersebut yang mendorong mereka untuk sering berbagi satu sama lain melalui platform media sosial dan kampanye, seperti #Senangnya Jadi Ibu ini, menjadi relevan,” kata Vera.

Vice President Mothercare & ELC Lina Paulina mengatakan, kampanye Senangnya Jadi Ibu ibarat sebuah tempat berkumpul ribuan ibu serta ribuan cerita indah dan luar biasa mengenai pengalaman menjadi seorang ibu dan calon ibu. Selain itu, para ibu zaman sekarang sangat dekat dengan media sosial.

Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, psikolog Nadya Pramesrani MPsi menjabarkan, ibu adalah kelompok yang paling tinggi berisiko stres dan menderita kelelahan fisik dan mental karena pekerjaan yang dilakukan. Seperti diketahui, ibu melakukan pekerjaan caring for others atau mengurus orang lain sehingga acap kali melupakan kebutuhan diri sendiri. Hal ini dapat memengaruhi hubungan ibu dan anak. Maka itu para ibu acap kali menjadikan belanja online sebagai salah satu upaya melepas stres.

“Ini merupakan retail therapy. Ketika seseorang sudah berubah peran, ada perubahan pola belanja, misalnya belanja untuk anaknya. Dengan belanja untuk orang lain, bagi ibu, ada kepuasan tersendiri,” kata psikolog Rumah Dandelion ini.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini