nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mencicipi "Si Kenyal" Khas Riau di Yogyakarta

Agregasi Sindonews.com, Jurnalis · Senin 16 April 2018 15:20 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 16 298 1887259 mencicipi-si-kenyal-khas-riau-di-yogyakarta-r15QTu0h4m.jpg Foto diambil dari sindonews.com

YOGAKARTA - Selama ini kita mengenal sagu sebagai makanan pokok masyarakat Maluku dan Papua. Padahal, bahan makanan yang terbuat dari batang pohon rumbia itu juga merupakan sajian khas masyarakat Riau.

Hanya, sagu di Riau dan di wilayah Indonesia Timur itu diolah menjadi menu yang berbeda. Masyarakat Papua ataupun Maluku lazim mengolah sagu menjadi papeda, sejenis bubur putih bertekstur lengket. Sementara di Riau, khususnya di Kabupaten Kepulauan Meranti, tepung yang secara fisik terlihat berbeda dengan tepung pada umumnya itu kerap di olah menjadi mi.

Bahkan mi sagu ini di klaim sebagai makanan khas daerah tersebut, meski kurang dikenal di Indonesia. Hal inilah yang mendorong warga Bengkalis, Riau, M Teguh Prasetio, untuk memperkenalkan mi sagu kepada masyarakat luas. Apalagi, kata Teguh, pohon terbaik penghasil sagu berasal dari Kepulauan Meranti.

Cara yang ditempuh lelaki 23 tahun itu adalah dengan mendirikan Warung Mie Sagu Pandega di Yogyakarta. Teguh berharap, langkah tersebut akan membuat mi sagu familier di telinga masyarakat Indonesia. “Dengan begitu, kelak mi sagu bukan hanya dikenal sebagai makanan khas Riau, tapi juga menjadi menu Nusantara yang dikenal di mana-mana,” ujarnya.

Selain itu, dengan adanya warung ini, pelajar ataupun mahasiswa Riau di Yogyakarta diharapkan tidak merasakan home sick. Sebab, di Sleman pun mereka dapat menemukan makanan khas tanpa harus pulang ke kampung halaman. Warung Mie Sagu Pandega beroperasi pada pukul 19.00-23.00 WIB. Ada tiga varian yang ditawarkan, yaitu mi sagu goreng, mi sagu lembab, dan mi sagu rebus.

Ketiga varian tersebut sama-sama bertekstur kental dengan cita rasa udang. Di daerah asalnya, mi sagu memang menggunakan rasa udang. Bahan baku mi didatangkan lang sung dari Kepulauan Meranti. Harga per porsinya sangat terjangkau, yaitu Rp15.000 untuk semua varian.

“Saat ini baru ada tiga rasa itu. Ke depan kami akan menambah varian lain,” ungkap Teguh, yang merupakan mahasiswa di Fakultas Bisnis dan Ekonomi UGM angkatan 2013. Proses pembuatan mi sagu tidak terlalu beda dengan mi pada umumnya. Bahan yang digunakanya itu ebi halus, bawang merah dan putih halus, cabai merah keriting dan tomat yang sudah disatukan, kecap manis, saus sambal, serta telor.

Semua bahan tadi dicampur dan dimasak hingga matang, setelah itu barulah mi sagu dimasukkan. Untuk topping, ada potongan ayam goreng, taoge, dan daun bawang seledri. “Selain bercita rasa udang, mi sagu juga kenyal, tapi lembut,” kata Teguh yang memulai usahanya setahun lalu.

Sementara itu, sejumlah pengunjung warung Pandega mengatakan, kelembutan serta tekstur kenyal mi sagulah yang membuat mi ini berbeda dari mi pada umumnya. Menurut mereka, selain enak, bumbunya juga terasa.

“Kalau menurut saya, unik ya rasanya. Sebab, saya belum pernah merasakan dan baru tahu di sini. Kuat bumbunya. Selain itu, minya beda, lebih kenyal dan teksturnya lebih lembut,” beber Nuri, pelanggan asal Sulawesi Tenggara.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini