nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Masjid Agung Baing Yusuf, Bukti Penyebaran Islam di Tanah Purwakarta

Mulyana, Jurnalis · Selasa 17 April 2018 18:30 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 17 406 1887819 masjid-agung-baing-yusuf-bukti-penyebaran-islam-di-tanah-purwakarta-7zfAB7vbEj.jpg Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta (Foto: Mulyana/Okezone)

KABUPATEN Purwakarta, Jawa Barat, memiliki suguhan komplit untuk mereka yang gemar berwisata. Tak hanya wisata alam dan kuliner, di kabupaten kecil kedua di Jabar ini ternyata banyak juga lokasi untuk mereka yang suka berwisata religi.

Mungkin tak banyak yang tahu jika di kabupaten kecil yang mengedepankan spirit budaya dalam setiap pembangunannya itu juga banyak terdapat peninggalan sejarah. Misalnya, sejarah mengenai penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.

Salah satu buktinya, yakni keberadaan Masjid Agung Purwakarta. Selain masjid besar, lokasi yang letaknya persis di sekitar perkantoran pemkab ini, juga ada sebuah peninggalan lain. Yakni, makam RH Moch Yusuf.

Menurut cerita, RH Moch Yusuf atau lebih dikenal dengan Baing Yusuf, merupakan salah seorang tokoh ulama penyebar agama Islam di era 1800-an. Bahkan, saking kuatnya ikatan antara sang ulama dengan masjid tersebut, sampai tempat peristirahatan terakhirnya pun tak jauh dari masjid tersebut.

Jadi, tak heran, jika selama ini hampir setiap hari banyak peziarah yang mendatangi makam Baing Yusuf. Mereka datang dari dalam dan luar kota. Bahkan, di waktu-waktu tertentu yang berziarah itu sampai puluhan bus.

Baca Juga: Melihat Jejak Telapak Kaki Pertama Nabi Adam di Srilanka

Pengurus Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta, RH Sanusi AS membenarkan, jika selama ini Masjid agung dan makam Baing Yusuf ini kerap menjadi tujuan wisata religi bagi masyarakat. Tak hanya masyarakat lokal, para peziarah pun banyak di antaranya dari luar kabupaten.

"Tiap hari juga suka ada yang berziarah. Bahkan, di waktu-waktu tertentu suka banyak rombongan dari luar daerah," ujar Sanusi, belum lama ini.

Sanusi menuturkan, dari silsilahnya Baing Yusuf merupakan tokoh ulama kelahiran Bogor 1700-an. Ia datang ke Purwakarta sekitar 1820. Saat itu, pusat pemerintahan berada di wilayah Wanayasa. Konon kabarnya, Baing Yusuf ini masih merupakan keturunan Raja di Kerajaan Padjajaran.

Pada 1826, lanjut Sanusi, Baing Yusuf mulai membangun masjid. Masjid tersebut, saat itu masih berada si tengah hutan belantara. Mengingat, saat itu kantor pemerintahan bukan di pusat Purwakarta. Melainkan, jauh ke wilayah selatan, yakni tepatnya di alun-alun Wanayasa.

Baca Juga: Cara Traveler Muslim Amerika Tetap Menjaga Salat Saat Keliling Dunia

Kemudian, masjid besar yang dibangun Baing Yusuf ini pada masanya dijadikan tempat syiar Islam di wilayah Purwakarta. Apalagi, saat itu pemeluk agama Islam di wilayah ini masih sangat jarang. Makanya, Baing Yusuf mendirikan tempat untuk kajian agama Islam.

"Sejak kecil, beliau memang sudah sangat cerdas. Pada usia belia, Baing Yusuf sudah fasih Bahasa Arab. Lalu, saat usia 12 tahun, beliau hafal Al Quran. Bahkan, beliau pernah belajar Islam di Makkah, Arab Saudi," cerita Sanusi.

Namun, meskipun fasih berbahasa arab, berdasarkan sejarah saat itu Baing Yusuf mensyiarkan Islam dengan bahasa sunda. Apalagi, saat itu masyarakat Purwakarta belum mengenal dan memahami bahasa latin, bahasa arab, ataupun bahasa Jawa kuno.

Ada bukti lain jika Baing Yusuf menyebarkan Islam dengan bahasa sunda. Yaitu dari kitab fikih dan tasawuf yang disusunnya. Meskipun tulisannya menggunakan bahasa arab, tapi kitab tersebut diterjemahkan dalam bahasa sunda.

Pada 1830-an, lanjut Sanusi, pusat pemerintahan pindah dari Wanayasa ke Purwakarta. Perpindahan pusat pemerintahan ini, semakin berkembangnya penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.

Apalagi, keberadaan Masjid Agung ini sangat strategis. Yakni, berdekatan dengan pusat pemerintahan (kantor bupati) di sebelah kanannya dan persis di sebelah kirinya berdekatan dengan lembaga pemasyrakatan (Lapas).

"Baing Yusuf konon pernah menjadi murid Syekh Campaka Putih atau Pangeran Diponegoro," ujarnya.

Tak hanya itu, menurut sejarah, Baing Yusuf juga banyak muridnya. Salah satunya, yakni Syekh Nawawi Al Bantani, pengarang kitab asal Banten. Jejak sejarah Baing Yusuf pun, kini semakin banyak digandrungi masyarakat. Bahkan, masyarakat dari berbagai daerah kerap menyempatkan diri untuk menunaikan shalat baik shalat wajib maupun sunah di Masjid Agung Baing Yusuf.

Tak ketinggalan, warga juga banyak yang menziarahi makam Baing Yusuf dan para muridnya. Mengingat, komplek pemakaman tersebut jaraknya hanya 100 meter dari Masjid Agung. Anda tertarik mengenal sejarah Islam di Purwakarta, silahkan kunjungi Masjid Agung dan komplek pemakaman Baing Yusuf.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini