nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sunat Perempuan Sunnah sejak Zaman Nabi, Ini Penjelasannya!

Dewi Kania, Jurnalis · Rabu 25 April 2018 15:27 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 25 481 1891292 sunat-perempuan-sunnah-sejak-zaman-nabi-ini-penjelasannya-CzNrjbb6Sm.jpg Ilustrasi sunat perempuan (Foto: Papasyamamas)

SUNAT perempuan rasanya tidak dianggap penting bagi sebagian orang. Padahal teknik ini hukumnya Sunnah dan bisa menjauhkan diri dari bahaya kesehatan.

Meski telah menjadi budaya, sunat perempuan masih banyak diperdebatkan orang. Padahal jelas sunat diperbolehkan secara medis asal dengan teknik yang tepat.

Sejak zaman Rasullah, sunat perempuan dianjurkan. Karena banyak hikmah yang didapatkan dari sisi baik. Nabi Muhammad SAW menganjurkan anak perempuan sejak lahir disunat. Sejak itu, khitan pada kaum hawa ini jadi satu syariat Islam berdasarkan anjuran nabi.

Ustadz Anhari Sultoni, SH, MH mengatakan, sunat perempuan berkaitan dengan hak asasi manusia. Sejak nenek moyang, teknik ini sudah menjadi budaya dan nampaknya kini mulai jarang dilakukan.

"Sunat perempuan sudah dilakukan turun-temurun dan bukan diskriminasi. Teknik ini bahkan dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW di zamannya," terang Uztadz Anhari dalam Diskusi Media Memahami Sunat Perempuan dari Sisi Medis, Hukum dan Syariat bersama Rumah Sunatan dr Mahdian, di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (25/4/2018).

(Baca Juga: Tahi Lalat Berpotensi Jadi Kanker, Kenali Ciri-cirinya!)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi dr Valleria, SpOG menambahkan, setelah bayi perempuan lahir, boleh segera disunat dengan hukum Sunnah. Sunat perempuan ini adalah salah satu syariat Islam, dengan dalil Anas bin Malik, yang membolehkan memotong klitoris, tapi disisakan sedikit saja.

"Saat melakukan sunat perempuan, daerah klitoris yang dipotong, lalu disisihkan sedikit. Karena di antara klitoris dan kulup labia rentan kotor dan harus dihindari," papar dr Valleria, dalam kesempatan sama.

(Foto: Vice)

Bahkan, WHO pun telah mengakui praktik sunat perempuan secara medis. Banyak manfaatnya, terutama untuk merangsang seksual secara aktif.

Baca Juga: Pramugari Cantik Asal Taiwan Ini Sedang Berlibur di Bali, Foto-Foto Seksinya Bikin Salah Fokus

Berdasarkan anjuran WHO pula, ada empat tipe praktik sunat yang diperbolehkan. Sementara itu, praktik sunat di Indonesia dan negara bagian Asia lainnya, menggunakan teknik clitoral hood (tudung klitoris).

Yang jelas saat disunat, perempuan tidak merasa tersiksa dan terjadi perdarahan. Bahkan, usai disunat tidak perubahan anatomi sedikitpun di bagian kelamin.

"Teknik sunat perempuan tersebut justru membuat klitoris terbuka saat usia dewasa. Hal ini manfaatnya jelas bisa menyenangkan hati pasangannya saat berhubungan intim," tambah dr Valleria.

Ditambahkan Ustadzah Aini Aryani dari Rumah Fiqih Indonesia, sunat pada perempuan boleh dilakukan sejak baru lahir, hingga sebelum baligh. Namun, dia mengimbau agar sunat di hari ketujuh setelah bayi perempuan lahir.

"Sunat umumnya dilakukan pada anak usia 7-10 tahun. Namun yang lebih disarankan yakni sejak bayi baru lahir sampai usia baligh. Tapi tidak boleh dilakukan pada hari ketujuh setelah melahirkan, karena itu meniru ajaran kaum Yahudi yang tidak diperbolehkan," tutup Ustadzah Aini.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini