Sejarah Nifsu Sya'ban yang Perlu Anda Ketahui

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Senin 30 April 2018 13:16 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 30 196 1892841 sejarah-nifsu-sya-ban-yang-perlu-anda-ketahui-Zxl10ITMbB.jpg (Foto: AFP Photo)

SALAH satu bulan yang terdapat dalam kalender Islam atau kalender Hijriyah ialah Sya'ban. Bulan Sya'ban berarti menunjukkan bahwa umat Islam sebentar lagi akan menghadapi bulan Ramadan.

Sya'ban merupakan bulan ke delapan dalam penanggalan Hijriyah. Bulan Sya'ban terdapat satu malam istimewa yang masih menjadi ikhtilaf atau perbedaan pendapat. Meskipun demikian, diyakini bila menghidupkan malam tersebut dengan beribadah kepada Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa, kecuali dosa syirik.

Malam ini disebut dengan malam Nisfu Sya'ban, di mana Nisfu dalam bahasa Arab artinya ialah pertengahan. Sementara Sya'ban ialah bulan dalam kalender Hijriyah, sehingga Nisfu Sya'ban berarti pertengahan bulan Sya'ban.

Melihat pada kalender Hijriyah, maka malam Nisfu Sya'ban jatuh pada 14 Sya'ban. Ini berarti pada 2018, malam Nisfu Sya'ban jatuh pada Senin malam Selasa, atau bertepatan dengan 30 April 2018.

 

(Foto: Reuters)

Melihat dari sejarah Islam, ada yang berpendapat bahwa pada saat itu terjadi pemindahan kiblat kaum muslimin dari baitul maqdis ke arah masjidil haram.

Keistimewaan Malam Nisfu Sya'ban

Ada hadits yang menyatakan keutamaan malam Nisfu Sya'ban, yang menyebutkan bahwa di mala mitu ada pengampunan terhadap dosa.

Hadits riwayat Mu'adz bin Jabal, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya'ban. Dan Dia akan mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan".

Al-Mundziri dalam At-Targhib setelah menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan, "Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Al Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya dan juga oleh Al-Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al-Asy'ari. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dengan sanad yang tidak mengapa".

Baca juga: 5 Camilan Khas Indonesia Ini Go Internasional Buntuti Rendang

Demikian perkataan Al Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi, Al Mubarakfuri mengatakan, "Pada sanad hadits Abu Musa Al-Asy'ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahi'ah dan ia adalah perawi yang dinilai dha'if".

 

(Foto: Reuters)

Hadits lainnya ialah hadits 'Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Allah 'azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya'ban, Allah mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa".

Baca juga: Mandi dengan Sabun dan Sampo Buruk Bagi Kesehatan, Apa Alasannya?

Al Mundziri mengatakan, "Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi yang diberi penilaian negatif atau di-jarh, namun haditsnya masih dicatat)", demikian dikutip dari Kabarmakkah.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini