nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

20 Gigitan Kobra Tak Membuat Santoso Jera, Ini Kisahnya

krjogja.com, Jurnalis · Senin 30 April 2018 16:10 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 04 30 196 1892937 20-gigitan-kobra-tak-membuat-santoso-jera-ini-kisahnya-tT3viP8fyy.jpg Muhammad Nur Santoso dan kobranya (foto: KRJogja)

MUHAMMAD Nur Santoso (37) lebih dari 20 kali digigit ular kobra. Itu tak menghentikan pekerjaannya selama ini sebagai jagal ular bernama ilmiah naja ini.

"Saya pernah merasakan seluruh tubuh kesakitan, kejang-kejang karena gigitan ular kobra," kata Muhammad Nur Santoso yang akrab dipanggil Mas Nur saat ditemui tim KRjogja.com di kediamannya, Timbulharjo, Sewon Bantul.

Dia menghabiskan Rp14 juta untuk menyelamatakan nyawanya dari gigitan salah satu ular paling berbisa di dunia ini. Usai sembuh, Mas Nur kembali menjalankan pekerjaannya sebagai jagal kobra yang merupakan warisan dari orang tuanya. Ayahnya menekuni jagal kobra sejak tahun 1985.

Baca Juga: Salah Prediksi, Dokter di India Potong Mr P Bayi yang Baru Lahir

Menurutnya tidak ada keahlian dan pekerjaan lain yang bisa dijadikan pilihan. Selain itu, ayah tiga anak ini juga tidak senang bekerja untuk orang lain yang seringkali membuatnya tertekan, maka dari itu ia lebih memilih profesi sebagai penjagal ular yang tergolong beresiko tinggi bagi keselamatan.

Benarkah Ular Kobra Berkhasiat ?

Bisnis ular kobra dengan bendera "Kobra Jaya" ini sempat mendapat banyak pasokan dari seluruh wilayah di Pulau Jawa yang bisa mencapai jumlah 1.000 ekor per minggu. Namun, saat ini Mas Nur hanya dapat mengumpulkan 200-300 ekor saja dari beberapa wilayah seperti Pati, Ngawi, Gombong, dan Kebumen.

Sebagai penadah dan penjagal ular, Mas Nur lebih memilih berburu ular liar karena dianggap lebih menguntungkan daripada harus berternak. “Jika berternak, justru tidak untung. Ongkos makan ular kan tinggi, harus rajin-rajin memberi katak dan tikus. Jadi, lebih enak mencari yang liar karena lebih menguntungkan dan tidak perlu memelihara,” ungkap Mas Nur.

Ular kobra yang berhasil didapatkan, kemudian diambil daging dan empedunya yang dipercaya dapat menyembuhkan stroke, diabetes, kanker, bengkak, dan cedera akibat kecelakaan.

Banyak konsumen yang mengaku telah merasakan khasiat daging ular. Konsumen yang datang dari berbagai daerah mengetahui informasi “Kobra Jaya” dari mulut ke mulut. Bahkan, Mas Nur juga tidak perlu repot-repot lagi mempromosikan bisnisnya karena banyak acara televisi yang datang meliput sekaligus mempromosikannya.

Mas Nur selaku pemilik “Kobra Jaya” menceritakan beberapa konsumennya yang semula tidak dapat bergerak, dapat menjadi lebih sehat dan mampu beraktivitas seperti sediakala setelah mengkonsumsi daging kobra. Selain daging ular, empedu ular kobra juga dipercaya sangat ampuh menyembuhkan penyakit seperti diabetes.

Mas Nur bercerita bahwa ada salah seorang konsumennya yang kadar gulanya turun setelah 12 jam mengkonsumsi empedu ular. Salah satu konsumen mengeluhkan kakinya bengkak pasca mengalami kecelakaan dan memiliki penyakit diabetes. Karena merasa lukanya berangsur pulih setelah mengonsumsi empedu kobra, kini ia rutin datang ke warung Mas Nur untuk memesan rica-rica ular.

Diperlukan proses panjang ular kobra untuk sampai ke piring konsumen. Mas Nur harus mengumpulkan ular kobra dari berbagai daerah untuk dipotong atau diolah dalam bentuk makanan. Setiap penadah yang didatanginya juga mendapatkan ular dari penadah lain atau petani ular yang mencari hewan tersebut dengan secara langsung.

Daun Pisang Agar ular Kobra Tidak Stres

Proses penangkapan ular kobra terbilang mudah, hanya dibutuhkan dua orang untuk bisa mendapatkan ratusan ekor ular. Satu orang bertugas untuk menangkap ular, sedangkan orang yang lain hanya memegangi karung dan menghitung jumlah ular yang telah didapatkan.

Setelah sampai ke tangan penadah, kemudian Mas Nur membeli ular kobra tersebut dengan uang tunai atau menggunakan sistem barter yang menukarkan hewan milik Mas Nur seperti tokek dan biawak untuk mendapatkan ular kobra. Setelah mendapatkan hewan yang diinginkannya, ular-ular kobra tersebut dibawa ke “Kobra Jaya” yang berlokasi di Bantul dengan menggunakan mobil.

Ada aturan tertentu saat membawa ular hingga tiba di Bantul. Mobil harus dialasi daun pisang agar ular kobra tidak kepanasan dan menjadi stres. Selain itu, tiap karung, hanya boleh diisi 20-25 ekor saja supaya ular kobra tidak mati karena posisinya bertumpuk-tumpuk.

Ular yang telah tiba di “Kobra Jaya,” keesokan harinya langsung memasuki proses pemotongan. Langkah awalnya adalah menyayat perut dari bagian tengah ke arah kepala. Setelah itu, kulit ular dipisahkan dari dagingnya. Ular yang telah dipisahkan dari kulitnya kemudian diambil sumsumnya dengan menggunakan alat yang tajam dan panjang seperti tusuk sate.

Baca Juga: Arkeolog Temukan Bawang Merah Berumur 1.500 Tahun di Swedia

 KRJogja

Daging dan empedu ular yang didapatkan dari hasil pemotongan, lalu dibekukan ke dalam freezer untuk langsung diolah menjadi makanan atau disetorkan pada restoran langganan Mas Nur di daerah Lempuyangan. Sebelum dimasak, daging ular perlu direbus terlebih dahulu selama 1 jam.

Pada “Kobra Jaya” milik Mas Nur ini, biasanya daging ular diolah menjadi rica-rica atau hanya digoreng biasa. Satu kilo daging ular dapat diolah menjadi lima porsi masakan yang dipatok harga Rp 10.000,00 saja. Untuk empedu ular, tidak diperlukan proses pemasakan tertentu, sehingga langsung ditelan atau dicampurkan dalam jamu saja.

Satu empedu sebesar ruas jari tangan dijual dengan harga Rp.40.000,00. Daging ular yang dijual lagi harganya berkisar Rp.20.000,00 per kilogram. Setiap kilonya berisi sekitar 2-3 ular kobra.

Selain dimanfaatkan untuk konsumsi, kulit ular kobra juga dimanfaatkan sebagai kerajinan tas dan ikat pinggang. Namun, pada saat ini kulit ular kobra tidak laku lagi karena peminatnya berkurang dan harga jualnya rendah. Corak kulit ular kobra yang tidak terlalu bermotif dan hanya berwarna hitam juga kalah saing dengan kulit ular piton yang lebih bermotif dan ukurannya lebih besar.

Dalam menjalankan bisnis “Kobra Jaya,” Mas Nur pada awalnya hanya membutuhkan modal Rp 2,5 juta dengan menjual perhiasan emas. Tenaga kerja yang dibutuhkan pun tidaklah banyak, Mas Nur sanggup melakukan pemotongan sendiri dalam jumlah 100 ekor ular kobra. Jika jumlahnya lebih dari itu, maka ia akan memanggil rekannya untuk membantu.

400 Ular Lepas di Rumahnya

Sampai sejauh ini, keuntungan yang diperolehnya mampu digunakan untuk membeli sejumlah tanah, membangun rumah, membeli motor, melunasi utang, dan keperluan sehari-hari lainnya. Sulit baginya untuk menentukan omset per bulan karena tangkapan liar sangat bergantung pada musim. Setelah musim panen, ular kobra bisa menjapai 200-300 ekor, tetapi jika musim kemarau ular kobra sulit didapatkan.

Sebelum usahanya stabil seperti sekarang, ayah Mas Nur yang memulai bisnis ini sempat berkali-kali tertipu hingga rugi Rp30 juta. Banyak pelanggan yang enggan membayar atau mengalami kebangkrutan menjadi penyebabnya. Kesulitan yang sempat dialami dalam menjalankan bisnis tersebut tidak hanya persoalan tertipu saja. Mas Nur seringkali khawatir jika ular-ularnya lepas dan sulit ditemukan. “Kalau saya takut ularnya gak ketemu, jadinya kan rugi,” ujarnya sambil tertawa.

Ia justru tidak khawatir jika ularnya lepas dan menggigit orang lain karena menurutnya ular kobra hanya akan menggigit jika terkejut atau sudah sangat terpojok. Sambil sesekali menghisap rokoknya, Mas Nur bercerita bahwa sebanyak 400 ekor ular pernah lepas dan memenuhi seisi rumahnya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini